Puisi ‘Seribu Makna’ Sukmawati

Puisi ‘Seribu Makna’ Sukmawati
Istimewa
2 minute read

“Kalau ada yang tersinggung dengan pusi ‘Ibu Indonesia’, ya nggak apa-apa. Saya memang warga negara Indonesia. Saya sangat bangga dengan keindonesiaan saya yang Bhinneka Tunggal Ika.” ~ Sukmawati Soekarnoputri.


PinterPolitik.com

Jangan bermain api kalau tidak ingin terbakar, begitulah kata-kata yang layak didengungkan pada sosok Sukmawati Soekarnoputri usai membacakan puisi ‘Ibu Indonesia’ miliknya yang dianggap telah menyakiti hati umat Muslim. Dalam sekejap, puisi itu memantik reaksi keras dari berbagai kalangan.

Gak tanggung-tanggung, reaksi keras berdatangan dari para Politisi, Pengamat Politik, Akademisi Sastrawan, bahkan Warganet. Bola api yang telah dilemparkan Sukmawati kini kian menjadi besar dan liar tak terkendali. Apes-nya, bahkan kini Sukmawati resmi dipolisikan. Nah kan tercyduk.

Sukmawati dipolisikan karena ada diksi puisi tersebut yang dianggap menghina Islam. Seperti pada bait ‘Konde lebih cantik dari cadar’ dan ‘Suara Kidung lebih merdu dari alunan azan’. Aduh gimana sih Ibu Sukmawati ini, kok masih main-main sama yang sensitif gini. Warbyasah emang dah.

Sekarang jadi bulan-bulanan kan! Hadeuh, aya aya wae ah. Tapi sebenarnya diksi tersebut gak serta merta mendeskreditkan umat Islam loh. Karena dalam interpretasi sebuah puisi, akan muncul beragam pemahaman tergantung pengalaman ‘puitik’ si pendengarnya. Maca cih gitu, suwer mi apa?


Kalau kata Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing, penilaian isi sebuah puisi tergantung kerangka referensi dan pengalaman yang digunakan. Serta posisi sosial atau politik dari setiap orang, terkait dengan pemaknaan simbol dan kalimat yang merangkai puisi tersebut. Oalah gitu toh, gimana ngerti ora?

Nah apes-nya nih ya, berhubung sekarang lagi tahun politik, hal-hal yang sensitif seperti ini akan dengan mudah dipolitisir. Jadi gak usah heran kalau banyak partai politik kemudian muncul berlomba-lomba menyudutkan Sukmawati, bak pahlawan pembela Islam. Aji mumpung lah ya, kapan lagi kan bisa keliatan keren.

Dengan terus menekankan adanya unsur penistaan agama dalam puisi ‘Ibu Indonesia’, partai politik berlomba-lomba mencari panggung untuk mengenyuhkan hati umat Islam Indonesia. Ya beginilah politik Indonesia, ada yang kepleset sedikit, goreng terus kasusnya sampai matang, buahahaha.

Mungkin bagi mereka, syukur-syukur kalau hasil minyak gorengnya bisa terpercik sampai ke level atas dan nyerempet ke keluarga Soekarno. Terus menjalar ke Megawati. Kemudian mengarah ke PDI-P. Dan ujung-ujungnya menstigma Presiden Jokowi sebagai pemimpin yang anti Islam. Kan asem bener itu, hahaha. (K16)