PSI Sindir Nasionalis Gadungan

partai solidaritas indonesia
Grace Natalie. (Foto: detikNews)
3 minute read

“Pengecut tidak akan mampu mengungkapkan cinta. Cinta adalah hak prerogatif bagi orang-orang yang berani.” ~Mahatma Gandhi


PinterPolitik.com

Sejak awal tercipta sebuah negara bernama Indonesia, para pendiri bangsa sudah menyadari adanya perbedaan ras, suku, dan agama. Oleh karena itu, pendiri bangsa menyematkan pita bertuliskan ‘Bhineka Tunggal Ika’ di lambang negara kita. Ya, walau berbeda-beda, tapi tetap satu jua.

Tapi gimana ya, semakin bertambah umur negara ini, seakan semakin hilang rasa persatuan tersebut. Kenapa kira-kira? Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie menjawab, sesungguhnya musuh dari persatuan Indonesia adalah sikap intoleran bangsanya.

Waduh, mendengar ini kepalaku langgung mengangguk seperti tak ingin berhenti. Ya, jelas pertikaian yang terjadi di negara berkembang ini karena lunturnya sikap mau menerima perbedaan. Dan ini sangat mengerikan. Apakah bangsa ini sudah benar-benar kehilangan rasa persatuannya?

Grace kemudian lanjut menyindir partai-partai yang mengaku nasionalis tapi meloloskan perda-perda bermuatan agamis yang diskriminatif. Mengaku cinta persatuan, tapi ada rumah ibadah yang ditutup diam saja. Belum lagi banyak kadernya suka korupsi dan kerap mengadu domba masyarakat.


Hmmm, kalau memang demikian faktanya, lalu kita harus berpikir dong, partai nasionalis yang sesungguhnya itu yang seperti apa? Seperti PSI yang menolak poligami dan undang-undang berbau hukum syariat dan injil? Mari kita lihat sama-sama, apakah PSI sudah amat sempurna sebagai partai nasionalis? Atau sama saja kayak partai nasionalis ‘gadungan’ lainnya?

PSI memang partai nasionalis, tapi masih setengah mateng... Click To Tweet

Kalau melihat sepintas, PSI memang seperti partai politik yang ingin melindungi seisi umat manusia di ibu pertiwi ini. Tapi kayaknya nggak juga deh. Apalagi kalau menilainya sambil melirik apa yang dilakukan politisi muda Alexandria Ocasio-Cortez, jauh. Grace dan PSI masih tebang pilih.

Baca juga :  Erick, Tuan Rumah Reuni Menteri?

Buktinya, ketika muncul spanduk bertuliskan ‘Hargai Hak-hak LGBT’ yang mencatut nama PSI, partai yang ngakunya partai anak muda ini malah tidak terima. PSI seakan-akan tidak mau dikatakan sebagai pembela kaum LGBT. Loh, memangnya LGBT menurut PSI bukan golongan manusia yang harus dibela?

Padahal, terlepas dari perdebatan soal moral dan agama, kaum ini masih mengalami marjinalisasi. Kalau seperti ini, bukankah sama juga diskriminasi terhadap kaum minoritas? Lalu, biar apa? Biar tidak dimusuhi pemilih PSI yang lainnya? Terus apa bedanya dengan parpol lain?

Kalau benar-benar ingin menjadi partai nasionalis yang toleran sepenuhnya, kayaknya Mbak Grace harus mencontoh Ocasio-Cortez deh. Dia ini sosok yang super progresif banget. Segala kelompok pemilih dia tuju.

Jadi, ketimbang mati-matian berusaha mengubah pandangan orang lain yang konservatif, lebih baik fokus menyasar orang-orang yang merasa kecewa, termarjinalkan, dan pesimis dengan keadaan politik di negeri ini yang diskriminatif. Kalau mau mengilangkan intoleransi, harusnya jangan tanggung-tanggung dong… (F41)