PSI, ‘Partai Haram’?

PSI, ‘Partai Haram’?
Partai Solidaritas Indonesia. (Foto: Tribunnews)
2 minute read

“Partai itu tidak perlu banyak anggota, sedikit saja jumlahnya, asal paham, militan, menguasai keadaan, serta memahami teori-teori perjuangan.” ~ Syahrir


PinterPolitik.com

Gaya akrobatik yang dipertontonkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menuai cibiran dari berbagai kalangan. Tak aneh sih, karena memang langkah PSI mungkin berada di luar ekspektasi yang diharapkan.

Sebagai partainya anak muda dan masih jadi ‘anak bawang’ dalam kontestasi politik nasional, PSI sudah bertingkah aneh – aneh mencari sensasi. Bukannya sensasi itu hanya dibutuhkan untuk yang minim popularitas? Hmmm, berarti iya.

Yang bikin sulit diterima nalar, biasanya anak muda itu spiritnya luar biasa dan melihat pemerintah itu bagaikan singgasana yang seharusnya dijadikan objek kritik.

Tapi bagi PSI lain, pemerintah adalah dewa yang maha sempurna. Sementara, DPR punya wajah sangat amat buruk. Makanya maklum saja DPR suka dikritik habis – habisan, tapi pemerintah dipuji mati – matian.


Jelas ga kira – kira keberpihakannya kemana? Woailaaaahh, makanya ga aneh juga kalau sedari awal PSI dukung Jokowi dua periode. Masa PSI yang katanya sebagai representasi anak muda, buta mata hatinya melihat kesengsaraan rakyat dan kekurangan dari kinerja Jokowi?

Maklum saja, sudah jadi pengikut ‘buta’ penguasa, jadi udah keenakan, weleeeh weleeeh. Baru jadi partai baru aja udah begini, gimana udah mau jadi wakil rakyat atau duduk dipemerintahan? Entahlah gimana jadinya?

Kalau awal – awal sih PSI bisa dimaklumi karena mungkin masih tahap adaptasi, tapi kalau sudah main serang menyerang, artinya PSI bukan jadi partai politik yang bikin teduh, tapi malah bikin ribut dan ribet.

Yang lucunya, Sekretaris Jenderal PSI itu kan sempat jadi Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah, tapi saat ini malah menyerang Amien Rais yang notabene adalah mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Nah loh, makanya tak aneh juga ya kalau Raja Juli Antoni dijuluki kacang lupa kulitnya. Semuanya ini dilakukan untuk apa sih? Weleeeeh weleeeh.

Maka muncul wacana untuk adanya fatwa haram memilih PSI di kontestasi politik nanti. Kalau haram berarti suara PSI berkurang dong? Waduhhhh, haram, weleeeh weleeeh.

Tapi ini jelas bukan fatwa beneran dari Muhammadiyah. Hmmm, walaupun baru wacana, PSI harusnya sih sadar kalau ini bentuk penolakan untuk ‘wajah aneh’ PSI. (Z19)