PSI dan Mitos Kuda Troya

PSI dan Mitos Kuda Troya
Kebersamaan Jokowi dengan para politisi PSI. Foto : Tribunnews
6 minute read

Kisah kuda Troya nampaknya menginspirasi PSI untuk menyerang Muchdi Pr yang beberapa waktu lalu menyatakan dukungan kepada sang petahana, Jokowi. Namun, tuduhan PSI tersebut justru mengindikasikan bahwa partai berlambang bunga mawar digenggam ini kerap kali tak sejalan dengan TKN, seiring dengan sikap sinis partai lain anggota koalisi


PinterPolitik.com

“Somebody should have warned the Trojans. Beware of gifts bearing Greeks.” 
― David Gerrold

Bicara kuda Troya, tentu ingatan kita langsung tertuju pada film Troy yang dibintangi oleh aktor kenamaan Brad Pitt. Film nominasi Oscar yang tayang pada Mei 2004 ini mengisahkan tentang perang Troya, salah satu peristiwa terpenting dalam mitologi Yunani dan terdapat banyak cerita dalam karya sastra Yunani.

Namun dalam konteks politik Indonesia, istilah kuda Troya muncul kembali bukan karena ketenaran film Troy, melainkan  istilah yang digunakan oleh juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Surya Tjandra, dalam menanggapi langkah bergabungnya mantan perwira tinggi TNI dan pejabat intelijen, Muchdi Purwoprandjono atau yang lebih dikenal sebagai Muchdi Pr.

Jangan-jangan PSI yang jadi kuda Troya? Click To Tweet

Dalam sebuah kesempatan, Surya Tjandra, meragukan itikad dukungan sang mantan perwira tinggi kepada capres petahana, Joko Widodo (Jokowi) yang menduga Muchdi akan menjadi ‘kuda Troya’ dan akan merusak kubu ini dari dalam.

Latar belakang Muchdi-lah yang menjadi alasan PSI berburuk sangka. Memang, selain dikenal sebagai mantan perwira dan intelijen, Muchdi juga merupakan sosok yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM yang menewaskan aktivis HAM, Munir.


Ia juga merupakan salah satu petinggi Partai Berkarya,  partai yang dipimpin oleh anak mantan presiden Suharto, Tommy Suharto. Hal ini membuat label orde baru nampak cukup lekat dengan sosoknya.

Oleh karenanya, menurut PSI, dukungan Muchdi dianggap berpotensi menjadi bumerang bagi Jokowi menjelang Pilpres 2019 ini.

Namun tanggapan dingin perihal cibiran PSI tersebut justru muncul dari kubu TKN sendiri. Adalah Arsul Sani, wakil ketua TKN, yang menyuruh PSI sebaiknya tak perlu banyak suuzan terhadap dukungan Muchdi ke kubu Jokowi.

Lantas bagaimana sesungguhnya mengartikan kritikan PSI tentang kuda Troya tersebut? Mungkinkah ada maksud lain dibalik cibiran TKN pada partai pimpinan Grace Natalie tersebut?

Baca juga :  Siasat Nasdem di Balik Jokowi 3 Periode?

PSI dan Mitos Kuda Troya

Mitologi Kuda Troya

Kuda Troya adalah metafor penting tentang bagaimana sebuah pengkhianatan dapat berwujud hal-hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Munculnya kuda pengecoh ini bermula dari mitologi perang Troya yang terjadi di kota Troya dalam cerita kepahlawanan Yunani.

Kuda Troya adalah salah satu kisah di dalamnya yang menceritakan bagaimana tipu daya berhasil membuat pasukan Odysseus menguasai kota Troya dalam semalam.

Sebelum kuda Troya digunakan untuk mengelabui lawan, peperangan yang terjadi akibat perselisihan antara seorang pangeran bernama Paris dengan Raja Menelaus yang memperebutkan seorang perempuan bernama Helen ini tidak membuahkan hasil selama 10 tahun lamanya.

Dalam mitologi Yunani kuno, Raja Menelaus yang mendapati kabar bahwa Helen kabur bersama Paris menuju Troya langsung menggerkakan pasukannya untuk menyerbu kota Troya.

Dengan kekuasaannya, Raja Menelaus berhasil menggabungkan beberapa kekuatan pasukan dari sekutu-sekutunya di wilayah Yunani.

Pasukan Raja Menelaus pun membangun sebuah kuda kayu raksasa yang digunakan untuk menyembunyikan beberapa pasukan di dalamnya guna menyelinap ke wilayah Troya.

Dengan intrik licik, pasukan sang Raja pun berpura-pura berlayar pergi sebagai tanda kekalahan pasukan Yunani dengan pengharapan bahwa orang-orang Troya menarik kuda kayu ini untuk masuk ke kota sebagai lambang kemenangan.

Syahdan, sialnya orang-orang Troya akhirnya terjerumus dalam tipu muslihat ini. Ketika kuda sudah berada di dalam kota, pada malam tiba, pasukan Yunani yang bersembunyi keluar dari kuda kayu tersebut dan membuka pintu gerbang utama kota Troya.

Dengan memanfaatkan persembunyian malam, akhirnya kota Troya pun digempur habis-habisan oleh kekuatan pahlawan-pahlawan besar negeri itu, seperti Raja Nestor dari Pylos, Achilles, dan Odysseus. Troya benar-benar tidak dapat berkutik akibat dari gempuran pasukan Yunani tersebut.

Oleh karenanya, istilah kuda Troya selalu diidentikkan dengan upaya tipu daya yang menempatkan musuh secara intrinsik ke wilayah yang seharusnya terlindungi.

Baca juga :  Wishnutama Berenang dalam Birokrasi

Dengan kata lain, kuda Troya adalah metafora adanya musuh dalam selimut yang berhasil mengelabui musuhnya dan berpotensi menyebabkan kerugian yang cukup besar.

Dalam konteks politik Indonesia, gambaran perang Troya diatas yang nampaknya menjadi ketakutan PSI atas dukungan Muchdi Pr untuk Jokowi. Namun benarkah ketakutan PSI tersebut?

PSI, Si Kuda Troya Jokowi?

Konfrontasi yang dilakukan PSI terhadap Muchdi Pr bisa dibilang cukup berani, tetapi apakah dapat dikatakan sepenuhnya benar?

Jika menggunakan metafora kuda Troya yang telah dijelaskan sebelumnya, sayangnya Muchdi Pr sebenarnya boleh jadi tak mencerminkan sosok kuda Troya itu sendiri.

Secara track record, sosok sang jenderal terkenal sebagai politisi kutu loncat. Dalam karier politiknya, Muchdi tercatat ikut mendirikan Partai Gerindra bersama Prabowo di tahun 2008 dengan jabatan sebagai wakil ketua umum.

Selain itu, ia juga pernah mencicipi jabatan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di tahun 2011. Ia juga menjadi sosok penting bagi lahirnya Partai Berkarya yang kini dipimpin oleh Tommy Soeharto.

Namun sesungguhnya, sulit untuk mengatakan bahwa ia memiliki peran elektoral yang signfikan. Dalam kadar tertentu, ia bahkan mungkin saja tak memberikan keuntungan elektoral spesifik bagi Jokowi. Ada atau tidaknya dukungannya terhadap Jokowi, Muchdi bisa saja bukanlah sosok yang patut dicurigai menjadi ancaman teramat besar.

Pada Pilpres 2014 saja, ia juga menyatakan diri sebagai pendukung Jokowi. Padahal, kala itu ia merupakan bagian dari PPP yang merupakan partai koalisi pasangan Prabowo-Hatta. Kala itu, ia tampak tak terlalu banyak berperan dalam memenangkan mantan wali kota Solo tersebut.

Dalam konteks ini, PSI nampaknya terlalu reaksioner dalam menyikapi dukungan Muchdi Pr untuk Jokowi. Setidaknya begitulah pesan yang coba ingin disampaikan oleh Arsul Sani, Jubir TKN sekaligus politisi PPP.

Dalam kesempatan berbeda ia meminta Partai berlambang tangan menggenggam setangkai mawar ini untuk  tidak berburuk sangka agar tidak terjadi saling kecurigaan antara pendukung Jokowi-Ma’ruf.

Sekilas, tanggapan dingin tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa selama ini PSI tak begitu diterima di kalangan TKN sendiri.

Baca juga :  Jokowi Upgrade Satu Pintu BKPM

Ketidaksukaan Arsul Sani dengan tanggapan partai pimpinan Grace Natalie tersebut misalnya, telah menjadi penanda bahwa PSI sesungguhnya hanya menjadi political outsider dalam TKN.

Menurut Barbara Trish dalam tulisannya di The Washington Post,  political outsider memang sosok yang mengkonstruksi diri sebagai penantang status quo dalam sistem politik yang berlaku. Namun dalam kenyataannya, sosok semacam ini sebenarnya memiliki agenda politik mereka sendiri.

Dengan melihat serangan PSI ke Muchdi tersebut, hal ini justru akan berpotensi untuk merugikan petahana. Hal ini disebabkan karena partai yang diramalkan tak lolos electoral threshold ini berpotensi mendegradasi kesolidan koalisi kubu 01 tersebut.

PSI bisa saja dianggap tak bisa menjadi partai yang bersinergi dengan partai-partai lain dalam Koalisi Indonesia Kerja. Sikap PSI ini kemudian rentan untuk memecah-belah internal koalisi.

Hal ini sejalan dengan pendapat Gary W. Cox dan Frances Rosenbluth  dalam jurnalnya berjudul Anatomy of a Split yang menyebut bahwa sebuah koalisi akan menghadapi masalah ketika sudah tidak ada kesamaan visi atau tujuan yang berakhir dengan kecenderungan memaksakan kecocokan.

Upaya kompromi untuk mempertahankan koalisi  dengan kondisi polarisasi ideologi, dan partai yang memiliki kepentingan berseberangan akan sulit untuk menghasilkan sebuah konsensus politik.

Jika terus-terusan begini, baik PSI maupun koalisi pendukung Jokowi bisa saja tak mampu menjalin hubungan saling menguntungkan utamanya dalam Pilpres 2019 ini.

Pada akhirnya, alih-alih seharusnya menjaga harmonisasi koalisi, PSI justru berpotensi menjadi kuda Troya itu sendiri. PSI berpotensi menjadi pasukan Yunani yang tanpa ampun menghancurkan sistem pertahanan kota Troya dan bahkan membuat orang-orang di dalamnya dibantai. Lalu, mungkinkah PSI akhirnya yang akan menjadi kuda Troya tersebut? Ataukah ternyata PSI akhirnya benar bahwa Muchdi akan merusak tim Jokowi dari dalam? (M39)