Prakerja Bikin Kongsi Jokowi Pecah?

Prakerja Bikin Kongsi Jokowi Pecah
Presiden Jokowi ketika mengadakan santap malam bersama pemimpin-pemimpin partai koalisi pada tahun 2018 silam. (Foto: Wikimedia Commons)
3 minute read

“Pemimpin yang enggan berbagi sama saja ingin menang sendiri. Bila egoisme tak diakhiri, pasti ditutup dengan pecah kongsi” – Najwa Shihab, jurnalis asal Indonesia.


PinterPolitik.com

Koalisi pengusung Presiden Joko Widodo (Jokowi pecah kongsi soal Prakerja? Kalau kata banyak media sih iya. Duh, sayang sekali dong. Padahal, baru saja keliatan mesranya di pembagian kursi, lha kok sekarang pecah kongsi.

Apa pun yang terjadi di Istana, kita yang di luar memang kurang bisa memahami. Namun, yang pasti bisa kecium kok baunya.

Coba disimak omongannya si ngegas, Arteria Dahlan yang merupakan anggota DPR F-PDIP ini, “Bagaimana bisa terjadi? Bagaimana strategi pengawasannya? Tidak cukup dengan mundur pak. Siapa terlibat harus diusut. ‎Kita minta tolong ketua mainkan ini.”

Atau, dari Anggota Fraksi Gerindra deh yang diwakili sama Pak Habiburrokhman, “Ada aspek yang harus bapak awasi dalam konteks tipikor, terutama proses pengadaan jasa pelatihan.”

Bahkan, lebih lanjut, partai koalisi terutama NasDem meminta agar KPK mengusut dana ini. Mungkin ‘hampir semua’ partai koalisi mengkritik, sebab Golkar adalah pengecualian, cuy.

Kenapa hayoo? Coba tebak, gengs. Kalau bisa nanti dikasih permen Alpenliebe yang ada stick-nya deh. Hehehe.

Ngomong-ngomong nih, beda lumbung beda isi memang ya, cuy. Lewat Ketua DPP-nya, yaitu Ace Hasan Syadzily, Golkar mengatakan kalau sebenarnya Kartu Prakerja ini bukan hal yang baru, soalnya memang bawaan dari orok alias kampanye dulu.

Coba nih simak perkataan Ace Hasan, “Jadi saya sangat heran jika ada pihak-pihak yang mempersoalkan keberadaan Kartu Prakerja ini dan seakan-akan kartu ini dinilai sebagai program yang tiba-tiba.” Hadeuhh, Pak Ace, yang mempersoalkan ini termasuk juga kolega sesama pengusung Pak Jokowi, kelleus.

Lagian, sebenarnya, partai yang mengkritisi Prakerja kan gak menolak, tapi lebih kepada kenapa sih harus dilaksanakan ketika Covid-19 – atau kenapa kok banyak masalah teknis yang muncul.. Ini bukan soal kebutuhan mendesak untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lho, ya, melainkan lebih kepada agar kebijakan pemerintah ini melek situasi dan suasana.

Yaelah, itu uang Rp 5,6 triliun dibuat dana soal Covid-19 kan lebih berguna kan, cuy. Jadi berhati-hatilah dalam membuat pernyataan. Kenapa harus berhati-hati? Sebab, selain itu bikin puasamu semakin dahaga, ini bulan Ramadan lho. Kita harus jaga nafsu. Hehehe.

Kalau kalian tahu, masyarakat ini sebenarnya lebih senang program tatap muka langsung. Itu faktanya.

Jangan-jangan, Golkar ini berkicau terus sebab memang lagi butuh lumbung finansial, secara para pengusaha kan banyak tuh di dalam partai ini. Upsss, keceplosan.

Tapi memang benar, kan. Seorang penulis buku tentang kepemimpinan politik, Alfan Alfian (2009), juga mengakui kalau ada semacam saudagar politik dalam tubuh Golkar, dan itu lho sebenarnya buat ngerespons Akbar Tanjung, sesepuh Golkar yang juga mengakui ada model kepemimpinan transaksional dalam suatu organisasi atau partai.

Nah, apakah yang dimaskud Akbar Tanjung adalah partainya sendiri? Kayaknya sih iya. Pasalnya, kan memang nyata begitu kondisinya. Coba lihat saja, betapa banyaknya pengusaha di dalamnya.

Gak usah repot-repot nyari sampai buka buku deh kalau cuma pengen tahu siapa pengusaha di partai yang sempat mau dirobohin kala masuk era Reformasi. Kalian bisa lihat jejaknya Airlangga Hartarto saja. Maka, kalian akan menemukan kebenaran di balik slogan, “Golkar juga merupakan pundi-pundi modal.” Upsss. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.