Prabowo Siap “Hadang” Tiongkok?

Prabowo Siap Hadang Tiongkok
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kala berkunjung ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT). (Foto: Istimewa)
3 minute read

“I don’t want no confrontation, no” – Tyler the Creator, penyanyi rap asal Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Setelah long weekend pasti enaknya menikmati sajian berita yang menarik dan semakin ‘gurih’ ya, gengs. Nah, kali ini, kami akan menyajikan berita menarik yang akan membuat teman-teman pembaca PinterPolitik.com menjadi bersemangat tetapi sekaligus gemes, yaitu tentang kondisi di Laut China Selatan (LCS).

Tahu gak sih kalian kalau saat ini kondisi di wilayah tersebut mulai genting? Iya, sikap antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) semakin panas. Seperti kucing dan anjing begitu, gak bisa akur.

Kenapa berita ini penting? Karena, ketika konflik di wilayah ini mulai meluas, tentu akan berdampak besar dong terhadap beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia salah satunya.

Meskipun Indonesia tidak secara langsung menjadi salah satu negara yang terlibat langsung dalam konflik di wilayah LCS, jika nine-dashed line Tiongkok diterapkan, Indonesia akan berubah menjadi negara yang mendapat dampak besar secara langsung.

Persoalan zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang tumpang tindih dengan klaim Tiongkok misalnya bisa saja berdampak ke Indonesia. Tentu dong, ini menjadi urusan yang sensitif.

Bayangkan, masalah batas kedaulatan negara, ini ibaratnya menyangkut harkat dan martabat sebuah bangsa ya. Lah wong,kalau berurusan masalah batas sekat tanah antarwarga saja kadang sampai bermusuhan lama – bahkan tidak sedikit hingga adu jotos. Apa lagi masalah negara ya, gengs?

Terlebih nih, dalam satu bulan terakhir ini, jika kita amati secara mendalam dan holistik, ketegangan antara Tiongkok dan AS ini semakin memanas. Bahkan, April lalu, AS menempatkan beberapa armada besar yaitu USS America (LHA-6), kapal serbu amfibi, Ticonderoga USS Bunker Hill (CG-52), dan kapal perusak kelas Arleigh Burke USS Barry (DDG- 52).

Tidak lain, tujuan AS adalah untuk unjuk kekuatan, cuy. Selain itu, tentu AS bertujuan untuk membendung kekuatan Tiongkok yang semakin menggila di LCS. Weleh-weleh, ke depannya gimana, ya, gengs, kira-kira? Bakal terjadi perang terbuka gak ya?

Sebagai warga negara yang memperhatikan bangsanya, mimin jadi bertanya-tanya nih. Melihat kondisi ini, kira-kira sikap Indonesia bagaimana ya? Ini kan terkait urusan geopolitik dan geoekonomi. Jadi, harus mempunyai sikap yang tegas ya, gengs. Hehehe.

Tidak dapat dipungkiri, wilayah LCS adalah salah satu perairan dengan jalur perdagangan terpadat di dunia. Bahkan, estimasi nilai ekonomi yang hilir-mudik di wilayah ini dalam satu tahun dapat mencapai $5.3 triliun USD setiap tahun.

Belum lagi, ditambah kandungan minyak hingga 125 miliar barel dan gas alam sebesar 500 triliun kaki kubik. Behh, bisa kaya banget negara mana saja yang berhasil menduduki wilayah ini. Pantas, Tiongkok seakan enggan melepaskan perairan ini.

Menyikapi kondisi genting saat ini yang terlihat eskalasi antara Tiongkok-AS semakin memanas, kira-kira bagaimana ya, gengs, sikap Menteri Pertahanan Prabowo Subianto?

Nah, sebagai langkah awal, ternyata Pak Prabowo sejak Januari kemarin sudah berkeinginan untuk menempatkan beberapa kapal perang di choke point Indonesia. Ibaratnya, doi pengen sedia payung sebelum hujan gitu. Hehehe.

Dengan background Pak Prabowo yang dikenal sebagai lulusan pendidikan AS, mungkinkah standing position Indonesia akan lebih memihak Amerika? Sementara, selama ini, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Panjaitan terlihat lebih dekat dengan Tiongkok.

Hmmm, menarik ya, cuy, jika kita menerka langkah zig-zag Indonesia ini. Tunggu cerita dari kami selanjutnya ya. Indonesia akan lebih AS-sentris ataukah Tiongkok-sentris dalam menyikapi semakin panasnya eskalasi konflik LCS?Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.