Politisi PKS Dukung Ganja ala 4:20?

Politisi PKS Dukung Ganja ala 4 20
Politisi PKS Rafli (paling kanan) di barisan tengah acungkan tangan dalam sebuah rapat parlemen. (Foto: Liputan Rakyat)
3 minute read

“High on legal marijuana” – Halsey, penyanyi asal Amerika Serikat


PinterPolitik.com

Dalam bulan pertama di tahun 2020 ini, banyak hal yang telah terjadi, baik di lingkup domestik maupun internasional. Bulan Januari ini menyambut kita dengan beberapa bencana alam dan wabah penyakit, seperti banjir di Jakarta, tanah longsor di Bogor, gempa-gempa bumi, kebakaran hutan di Australia, wabah virus Corona, dan sebagainya.

Selain bencana alam, situasi politik domestik dan antarnegara juga kerap mengisi judul-judul berita di bulan ini, seperti operasi-operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kasus Jiwasraya, isu sengketa Laut Natuna dan Laut China Selatan, serta isu Perang Dunia antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Ya, bisa dibilang bahwa bulan awal tahun 2020 ini bukanlah bulan yang mudah untuk dilalui bersama. Namun, tentu saja, hal-hal yang terjadi ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyerah dalam menyongsong tahun ini.

Hmm, terlepas dari beratnya awal tahun ini, ada berita yang unik nih dalam menutup bulan Januari ini. Berita ini datang dari salah satu politisi PKS yang mengusulkan agar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menjadikan ganja sebagai salah satu komoditas ekspor.

Anggota Komisi VI DPR Rafli menjelaskan bahwa komoditas itu menjadi potensi ekspor yang besar untuk Indonesia. Apalagi, di tempat asal Pak Rafli – yaitu Aceh, tamanan ganja adalah jenis tanaman yang dapat tumbuh subur.

Mendengar usulan itu, rekan Pak Rafli sontak terkejut dong. Anggota Komisi VI DPR Fraksi Gerindra Andre Rosiade memaklumi bahwa Aceh memang wilayah yang biasa mengonsumsi olahan tanaman tersebut tetapi menyarankan agar usulan itu tidak diwujudkan.

Hmm, mungkin, Pak Andre perlu mendengarkan penjelasan Pak Rafli lagi nih. Kata beliau, persepsi bahwa ganja merupakan narkotika yang paling berbahaya adalah bagian dari konspirasi global. Pak Rafli juga menyebutkan kalau ganja bisa digunakan untuk kebutuhan farmasi lho.

Wah, biar bisa diekspor, ganja bakal dilegalkan dong – entah sebagian atau sepenuhnya. Kalau gitu, bisa-bisa budaya ala anak-anak 4:20 bisa terakomodasi dong. Hehe.

Kalau hal itu terjadi, tampaknya ada yang kurang sepakat juga. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) misalnya, melihat hal itu tidak sejalan dengan situasi di Indonesia yang kini tengah berada dalam kondisi darurat narkoba.

Ya, hal ini juga belum pasti akan disetujui kok. Pemerintah sendiri sekarang tengah mempelajari usulan yang kini menjadi kontroversi tersebut.

Lagi pula, di beberapa negara, penggunaan ganja – bagi pengobatan – juga telah dilegalkan lho. Bahkan, negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia mulai berencana dan membicarakan antara legal atau tidaknya pengambangan tanaman ganja.

Dengan usulan dari Pak Rafli, publik pun bisa lebih terbuka terhadap perdebatan legalisasi ganja nih. Ya, semoga saja keuntungan dan kerugiannya dapat dipertimbangkan dengan baik. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.