Politik Kebahagiaan Sandiaga Uno

Sandiaga Uno lucu bahagia politik
Sandiaga Uno berpose setelah berenang di laut. (Foto: Istimewa)
7 minute read

Sandiaga Uno kerap menampilkan aktivitas politik yang menyenangkan, penuh dengan canda tawa, penuh dengan energi positif. Sandiaga membangun narasi politik kebahagiaan dalam dirinya.


PinterPolitik.com

Sedari terjun ke dunia politik, Sandi selalu membawa senyuman dalam setiap aktivitasnya. Debutnya di Pilgub DKI Jakarta banyak memukau masyarakat, dengan tingkah laku lucunya, sebab Sandi selalu menampilkan diri sebagai sosok politisi yang menyenangkan, penuh kebahagiaan, berenergi positif.

Daftar tingkah lucu nan membahagiakan dari Sandiaga terekam dengan baik di dunia digital. Mulai dari berjoged di depan panggung saat peresmian Thamrin City sebagai mal sadar zakat dan amal sosial, menaiki reog di acara Kirab Kebangsaan di Hari Pahlawan di silang Monas, hingga berpose gaya jurus silat di sesi foto Gubernur & Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Hal itu bahkan berlanjut hingga ketika dia menjadi calon wakil presiden. Sandi misalnya Memakai petai di kepalanya di kunjungannya ke Pasar Terminal Sukawelang, Subang, Jawa Barat. Tawa menggelegak di seluruh aktivitas Sandiaga yang penuh kebahagiaan tersebut.

Tak hanya berperilaku lucu, Sandi juga selalu membawa opini-opini soal permasalahan di Indonesia dengan jalan yang sederhana dan memberikan kritik yang proporsional dan santun. Nada yang dipergunakan juga tidak menghakimi.


Sandi pun secara terbuka dan legowo mau meminta maaf seperti tatkala Ridwan Kamil mengingatkan dirinya soal keberpihakan seorang pejabat daerah. Sebuah perilaku yang jarang dilakukan politisi Indonesia.

Sandi juga menampilkan aktivitas sehari-hari yang juga sangat positif, mulai dari lari, bermain basket, bersepeda, hingga tanding renang bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Bentuk kampanye Sandi juga dikemas dengan cara yang cukup berbeda. Jika kampanye politik cenderung serius dan berat dan monolitik, Sandi biasa menggunakan metode dialogis. Sandi merubah kesan dari politisi yang terkesan memerintah, sebagai politisi yang terkesan mengajak.

Kegemarannya menggunakan media sosial, ikut serta tantangan #SeberapaGregetnyaLo bersama sang istri, mengafirmasi dirinya sebagai Papa Online yang menimbulkan gelak tawa seorang Prabowo Subianto.

Istilah ‘juniper’ bahkan dipopulerkan Sandi, kependekan dari julid, nyinyir dan baper. Sandi mengampanyekan istilah ini untuk melawan narasi berpolitisi yang cenderung negatif, yang julid, yang nyinyir dan yang baper. Sebagai narasi tandingan bahwa Sandi adalah yang sebaliknya, yang penuh dengan kepositifan.

Maka rumus politik kebahagiaan ala Sandi adalah kelucuan, kesantunan, aktivitas positif, dan semangat positif. Dari sinilah seluruh narasi politik kebahagiaan ala Sandi terwadahi, dan dengan jalan ini pula Sandi mengajak semua masyarakat mengikuti narasinya, Sandi mempersuasi orang untuk berpihak secara politik dengan kebahagiaan. Tawa dan kebahagiaan masyarakat adalah kendaraan politik bagi Sandiaga Uno.

Narasi Politik Kebahagiaan

Pembangunan narasi politik kebahagiaan yang dilakukan Sandi tentu otentik, sebab dia berasal dari keluarga kaya, hidupnya sempurna, dia mendapatkan semua yang dia inginkan. Energi positif seseorang ke lingkungannya adalah pertanda dari kecintaan dan kepositifan di dalam dirinya.

Dan sisi latar belakang tersebut disadari betul oleh Sandi, sehingga mengolahnya tidak hanya sebagai bagian dari dirinya, namun narasi besar politik kebahagiaan yang dia usung. Dia mampu mengeluarkan konsepsi kebahagiaan di dalam dirinya keluar sebagai satu bentuk narasi besar berpolitik.

Hal ini senada dengan sistem kapitalisme yang sedang berkembang di dunia semenjak era industrialisasi. Kapitalisme bersandar pada konsumerisme. Dan sebab konsumsi akan cenderung stagnan hanya pad level vegetatif, maka dibentuklah nilai-nilai dalam masyarakat kapitalisme.

Nilai ini yang disebut sebagai standar kebahagiaan. Seperti makan enak, hidup enak, intinya adalah hidup bahagia. Slogan dari kapitalisme yaitu selalu soal menikmati hidup, berbentuk dari ‘enjoy your food’, ‘enjoy your life’, makna hidup di zaman ini adalah sebuah ‘joyful life’.

Sebab kapitalisme sudah mendarah daging, menjadi sistem dari kehidupan manusia, dan dengan upaya terus menerus fetisisme komoditas lewat konsumerismenya dengan menciptakan makna hidup sebagai sebuah pemaknaan kebahagiaan hidup, maka cocoklah narasi politik kebahagiaan Sandiaga Uno dengan angin zaman dalam sistem kapitalisme.

Narasi kapitalisme yang demikian semakin terpupuk dengan perpindahan generasi hari ini yang diwarnai oleh angkatan milenial. Milenial memiliki corak khas sebagai sebuah generasi yang tidak mengenal peperangan dan kerasnya didikan dari masyarakat seperti halnya yang terjadi dengan generasi sebelumnya.

Milenial memiliki tipologi sebagai generasi yang cenderung mencari kemudahan dalam hidup, mencari kebahagiaan, pengalaman yang otentik, sebab generasi ini hidup dalam gelimang perkembangan teknologi yang sangat baik, makanan yang berlimpah, tempat hidup yang aman, dan segala pencapaian peradaban lainnya.

Sehingga milenial memang dibelenggu dengan yang serba mudah, hidup mudah artinya hidup yang bahagia semua tercukupi.

Milenial tidak senang dengan gaya berpolitik yang cenderung berjarak dan tidak asik. Narasi politik elite sebagai bangsawan yang mendekati permasalahan melalui perspektif kaca mata capung contohnya tidak laku.

Hedonisme Bernegara

Dalam sejarah manusia, manuskrip pertama yang bisa ditemukan soal konsepsi hidup bahagia sebagai sebuah asas peradaban ada di Sumeria, di mana dalam Epos Gilgamesh ditulis bahwa hidup adalah menjadi bahagia. Pencarian kehidupan yang bahagia dikenal pula dengan istilah hedonisme, yang mengalami peyorasi hari ini hanya menjadi sekedar pemenuhan hasrat sesaat.

Hedonisme berasal dari kata hedone yang berarti kenikmatan, yang dalam hal ini kenikmatan dalam hidup adalah tujuan dari kehidupan. Hedonisme ini tidak dangkal, namun justru melandaskan pada nilai dan prinsip berkehidupan yang agung, seperti persahataban, pikiran yang positif, dsb.

Kuy hedon berpolitik! Click To Tweet

Dalam deklarasi kemerdekaan rakyat Amerika Serikat, tersusun dari ‘Life, Liberty and the pursuit of Happiness’ sebuah frasa yang menjadi kalimat pemersatu dari seluruh perjuangan yang selama ini mereka lakukan melawan Inggris. Kebahagiaan dicantumkan di deklarasi tersebut.

Tiga konsep ini adalah jantung dari kemerdekaan Amerika Serikat di 4 Juli 1776. Tiga konsep tersebut adalah konsep yang tidak bisa ditawar, dan instrinsik dalam diri manusia, dan pemerintah wajib untuk menjaminnya.

Draf teks ini disusun oleh Thomas Jefferson, seorang Upikurean, penganut paham dari filsuf Epikurus yang melandaskan kehidupan sebagai sebuah upaya pencarian atas kebahagiaan, dan menghindari kesengsaraan. Kebahagiaan dalam konsepsi Epikurus berarti kemakmuran, kenyamanan dan kepositifan.

Di abad yang lebih modern, John Locke dalam karyanya berjudul Essay Concerning Human Understanding mengungkapkan bahwa kesempurnaan tertinggi dalam kehidupan adalah dengan terus menerus mencari kebahagiaan yang sejati. Konsep ini untuk melengkapi tulisan Locke sebelumnya bahwa tujuan dari suatu masyarakat politis adalah untuk menjamin kehidupan, kebebasan dan hak kepemilikan seseorang.

Di teks pembukaan Undang Undang Dasar 1945, di paragraf ke dua, alenia ke-2, disebutkan bahwa perjuangan kemerdekaan sudah sampai pada momen yang membahagiakan, yaitu terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan.

Dari analisis teks tersebut, terbagi menjadi dua jenis kebahagiaan, pertama yaitu bentuk kebahagiaan pembebasan (freedom from) penjajahan. Dan kedua kebahagiaan yang diperoleh dari kebebasan untuk (freedom to) dengan membetuk pemerintahan yang memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa, mengusung perdamaian dan keadilan dunia.

Sehingga kemerdekaan dan dibentuknya pemerintahan adalah demi kebahagiaan masyarakat.

Hari ini kita akan mengenal konsepsi Human Development Index, sebuah komposisi statistik teori ekonomi yang dipergunakan untuk mengukur kebahagiaan suatu masyarakat menggunakan ekspektasi umur, pendidikan dan pendapatan per kapita. Dirumuskan oleh Amartya Sen, seorang peraih nobel untuk sumbangsihnya terhadap perkembangan pengetahuan dan kemanusiaan.

Melalui rumusannya, masyarakat dunia mampu diidentifikasi sebab musabab ketidaksejahteraannya, dan hak-haknya yang belum terpenuhi. Yang selama ini tenggelam hanya sekedar melalui hitung-hitungan GDP.

Maka kita melihat memang ada pertalian erat antara kebahagiaan, pemerintahan dan politik. Dan apa yang dilakukan Sandi adalah dengan hanya meresonansikan narasi politik kebahagiaan tersebut secara lantang, agar terdengar ke seluruh penjuru masyarakat.

Sehingga kita temui, narasi politik kebahagiaan Sandi tidak dangkal, tidak hanya bersandar pada omong-kosong dan mimik muka lucu, namun diisi dengan konten isu ekonomi. Sebab dari sana basis paling subsisten untuk menuju kebahagiaan. Satu keterjaminan ekonomi.

Maka, narasi politik ini sudah sesuai dengan arus besar zaman, kedua cocok dengan masyarakat, ketiga akan juga berguna di tingkat elite poliitk. Maka jika narasi politik kebahagiaan ini bisa tetap dipertahankan Sandi, kemungkinan Sandi bisa menggapai top job di negeri ini 2024 nanti masih cukup besar. (N45)