Pilih Putin, Erdogan, atau Lee?

7 minute read

Apa yang bisa diteladani dari pemimpin sekaliber Putin, Erdogan, dan Lee Kuan Yew?


PinterPolitik.com

Punya idola memang sah-sah saja. Tengok saja bagaimana Fadli Zon memuja sosok Presiden Rusia Vladimir Putin. Politisi Partai Gerindra itu menilai sosok Putin pantas dijadikan contoh bagi pemimpin di Indonesia, karena dianggap berwibawa dan tidak planga-plongo.

Lain Fadli Zon, lain pula Mardani Ali Sera. Ketua DPP PKS ini menilai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pantas dijadikan sebagai panutan kepemimpinan di dalam negeri. Bagi Mardani, Erdogan berhasil membawa infrastruktur kelas dunia dengan tangan sendiri ke negeri tersebut.

Sekjen PAN Eddy Soeparno tidak mau kalah. Ia juga mengungkapkan pemimpin dunia panutannya, yaitu mendiang Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Bagi Eddy, Lee adalah pemimpin yang berkarakter dan memiliki visi ke depan.

Ketiga pemimpin tersebut memang tergolong pemimpin yang diakui dunia. Baik Putin, Erdogan, maupun Lee, tergolong berhasil melakukan transformasi di negara masing-masing. Lantas, apa yang bisa dipetik dari kepemimpinan ketiga kepala negara tersebut?


Putin Mengenggam Rusia

Terlepas dari pandangan dunia terhadapnya, Putin tergolong sebagai pemimpin Rusia yang sukses. Di negara dengan total penduduk mencapai 140 juta orang, ia berhasil mendapatkan tingkat kepuasan rata-rata di angka 90 persen. Sebuah angka yang sangat tinggi mengingat perspektif dunia terhadapnya.

Jelang Putin naik ke kursi tertinggi kekuasaan Rusia, negara tersebut dilanda keadaan ekonomi yang tidak menentu. Negeri Beruang Merah tersebut baru saja terimbas krisis finansial 1998. Putin kemudian secara perlahan berhasil membangkitkan perekonomian negara yang terpuruk. Rusia juga sempat diramalkan akan terkena badai saat terjadi krisis harga minyak pada 2004. Nyatanya, Rusia bertahan dan tetap muncul sebagai raksasa dunia.

Meski di awal kemunculannya tidak memiliki visi ekonomi, kondisi negara ini lebih baik ketimbang yang diramalkan. Hal ini dikaitkan dengan tiga strategi utama Putin, yaitu stabilitas makro ekonomi, stabilitas bursa kerja, dan membatasi kontrol negara pada sektor yang strategis.

Dari segi makro ekonomi, Putin tergolong sangat ketat dalam mengatur utang negaranya. Saat pertama kali menjabat, prioritas utama yang ia lakukan adalah dengan membayar utang negaranya dan menghindari defisit. Hampir sebagian besar keuntungan minyak Rusia di awal kepemimpinannya, digunakan untuk membayar utang luar negeri. Hal ini membuat Rusia tergolong memiliki utang yang rendah.

Strategi kedua adalah dengan memastikan masyarakatnya mendapatkan pekerjaan. Bagi pemerintahan Putin, lebih baik ada efisiensi dan pemotongan gaji ketimbang angka pengangguran meningkat. Pemerintah Rusia tidak mengizinkan ada penutupan perusahaan atau PHK. Bagi masyarakat Rusia, pemotongan gaji tergolong lebih diterima ketimbang menganggur sehingga keadaan ekonomi tetap stabil.

Strategi ketiga yang Putin lakukan adalah dengan membiarkan sektor ekonomi privat tetap bekerja, selama tidak bertentangan dengan urusan politik Kremlin. Bagi Putin, selama mereka tetap menjaga tingkat pengangguran rendah dan tidak mendukung oposisi, urusan lain tidak begitu penting.

Kebijakan ini sekilas terlihat sangat kapitalis, karena membiarkan sektor privat tumbuh. Akan tetapi, terdapat pula unsur sosialis melalui pengaturan soal pengangguran tersebut. bagi sektor non-Migas, Putin memegangnya tetapi tidak menggenggam erat-erat. Hal ini penting bagi stabilitas Pemerintahan Rusia.

Untuk memastikan hal ini, Putin tidak segan-segan menyingkirkan kekuatan oposisi. Pebisnis-pebisnis besar era Boris Yeltsin yang tidak sejalan dengannya, perlahan disingkirkan. Mereka yang tidak mendukung kebijakan ekonomi Putin kerapkali harus lari atau ditahan dalam sangkaan tertentu, seperti pemalsuan pajak.

Kebijakan ini membuat Putin begitu dikecam Barat. Meski begitu, nyatanya rakyat Rusia masih mendukung bekas anggota KGB tersebut. Tingkat kepuasannya kerapkali berada di kisaran 90 persen. Ia juga masih tidak terbendung di bilik suara, sehingga berhasil menjadi Presiden untuk keempat kalinya.

Erdogan Sang ‘Sultan’

Kondisi nyaris serupa berlaku bagi Turki, di bawah kepemimpinan Erdogan. Negeri yang terletak di perbatasan Asia dan Eropa tersebut sempat mengalami krisis ekonomi yang cukup berat pada tahun 2001. Akan tetapi, di bawah kepemimpinannya Turki mengalami sesuatu yang dianggap sebagai keajaiban ekonomi.

Serupa dengan Rusia di bawah Putin, Turki di tangan Erdogan juga tidak ragu dalam memunculkan diri sebagai kekuatan regional yang mengemuka. Di bawah kepemimpannya, istilah neo-Ottomanisme muncul seiring dengan bangkitnya Turki sebagai salah satu negara yang disegani. Istilah Sultan Erdogan pun mulai didengungkan media internasional.

Melalui kebijakan luar negeri neo-Ottoman tersebut, Turki mulai membangun hubungan dengan berbagai negara, termasuk Eropa. Hal ini diperkuat dengan impiannya untuk bergabung dengan Uni Eropa. Turki yang semula terseok secara ekonomi, perlahan mengisi ruang kosong di wilayah Timur Tengah dengan menjadi kekuatan utama.

Tengok bagaimana kebijakan luar negeri Turki membangkitkan sektor tekstil. Semula, sektor tekstil Negeri Bosphorus ini tertinggal dari negara-negara Asia. Di bawah Erdogan, sektor tekstil Turki kembali bangkit dan mulai menyalip negara-negara Asia.

Untuk menjaga kemajuan ekonomi tersebut, Erdogan menyebut bahwa Turki membutuhkan stabilitas. Menurutnya, instabilitas politik yang membebani negaranya bertahun-tahun tidak akan kembali. Oleh karena itu, ia membuat sejumlah perubahan termasuk mengubah sistem pemerintahan dari parlementer menjadi presidensial.

Bagi dunia Barat, langkah tersebut hanya semata-mata untuk mengonsolidasikan kekuasaan Erdogan sebagai orang nomor satu di Turki. Akan tetapi, bagi para pendukungnya, jasa Erdogan mengembalikan ekonomi Turki lebih penting ketimbang sistem apapun.

Yang menarik, meski berasal dari partai Islam konservatif, Erdogan tidak sepenuhnya menggunakan simbol-simbol Islam. Ia justru menggunakan sekulerisme Turki sebagai kendaraannya untuk melancarkan kebijakan. Strategi ini kerapkali diidentikkan dengan post-Islamisme. Strategi ini berhasil membuat kebahagiaan bagi banyak orang Turki.

Di awal kepemimpinannya, Erdogan tidak membatasi kegiatan ekonomi siapapun, terlepas dari ideologinya. Beberapa pengusaha sekuler menyatakan ketidaksukaannya pada ideologi Islam ala Erdogan. Meski begitu, mereka cukup senang karena untuk urusan bisnis, semua mendapat kesempatan. Baik orang dari kalangan sekuler atau konservatif, semua mendapat kesempatan pekerjaan yang sama.

Lee Sang Bapak Bangsa

Sementara itu, Lee Kuan Yew berhasil membawa Singapura dari negara kecil menjadi salah satu negara paling maju secara ekonomi. Banyak orang menganggap bahwa Lee sangat layak untuk dianggap sebagai bapak bangsa bagi Singapura.

Salah satu kunci kesuksesan Lee membangun Singapura adalah kemampuannya untuk menjaga stabilitas di dalam negeri. Beberapa pihak menganggapnya otoriter, akan tetapi pendekatan yang ia lakukan berhasil menekan angka korupsi ke tingkat yang rendah.

Singapura di bawahnya, memiliki kebijakan ekonomi dan finansial yang sangat kuat. Kebijakan ini dikombinasikan dengan lingkungan yang bebas korupsi sehingga menarik banyak investasi asing di negara kecil tersebut.

Pengekangan politik yang dilakukan Lee adalah bagian dari transformasi, agar dapat menjadi negara industri yang maju. Ia tidak segan menyingkirkan kekuatan-kekuatan yang dapat menahan kemajuan Singapura. Oleh karena itu, ia banyak menyingkirkan kekuatan oposisi.

Pilih Putin, Erdogan, atau Lee?

Meski menyingkirkan kekuatan oposisi, Lee tidak sepenuhnya anti-demokrasi. Ia menyadari betul, bahwa ia tetap membutuhkan unsur demokrasi agar kekuasaannya tetap langgeng. Oleh karena itu, ia tetap menyelenggarakan Pemilu.

Stabilitas adalah kunci dari kepemimpinan Lee di Singapura. Ia cenderung tidak menaruh perhatian begitu besar pada hal-hal berbau politik dan fokus pada pembangunan. Stabilitas yang ia bangun mampu menarik investor dari berbagai negara. Kondisi ini yang membuat negara-negara luar tidak memberi sanksi, karena yakin bahwa stabilitas adalah kunci bagi aktivitas investasi mereka.

Lee rela untuk tidak populis dengan membuat beragam kebijakan yang terlihat sangat keras. Meski begitu, bagi beberapa orang kebijakan non-populis tersebut justru membuat Singapura mencapai tingkat kesejahteraan dan pertumbuhan yang tinggi.

Untuk memastikan stabilitas tetap terjaga, mantan Perdana Menteri Singapura tersebut tidak lupa untuk menjaga kebahagiaan masyarakat lokal. Ada dua hal yang menjadi kebijakannya untuk menjaga kebahagiaan, yaitu lapangan kerja dan perumahan.

Lee berhasil mengubah Singapura dari negara kecil menjadi metropolis besar melalui kebijakan perumahannya. Hal ini membuat masyarakat dapat beralih dari rumah-rumah kumuh ke perumahan yang lebih layak.

Kebijakan pembangunan yang dilakukan pendiri People Action Party ini juga memberikan kesempatan kerja yang begitu besar. Banyak masyarakat Negeri Singa yang akhirnya dapat keluar dari kemiskinan akibat kebijakan Lee.

Dari Putin, Erdogan, dan Lee, dapat dilihat adanya sejumlah kemiripan. Salah satu kunci sukses kepemimpinan mereka adalah dengan bertumpu pada stabilitas. Kebijakan yang memperlihatkan kekuasaan keras dari masing-masing pemimpin ini, tidak lain untuk menjaga stabilitas dalam rangka melancarkan pembangunan. Meski begitu, unsur stabilitas ini harus dipandang hati-hati agar tidak benar-benar mencederai demokrasi.

Mereka juga tergolong piawai menarik hati masyarakatnya. Berbagai kesempatan dan lapangan pekerjaan yang mereka buka, membuat posisi mereka tidak tergoyang meski dianggap otoriter oleh dunia Barat. Pelajaran ini mungkin yang dapat diambil pemimpin di tanah air, agar posisinya tidak mudah digoyang. (H33)