Perang Persona Jokowi-Prabowo

Perang Persona Jokowi-Prabowo
Jokowi berpose bersama sang istri, Iriana dan Prabowo memeluk seorang nenek dalam masing-masing kampanye. (Foto: Istimewa)
7 minute read

Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) memamerkan kemesraannya dengan Ibu Iriana saat berkampanye di Dumai, Riau. Di sisi lain, foto sang penantang, Prabowo Subianto memeluk dan mencium Nenek Irah di Nusa Tenggara Barat (NTB) turut viral di publik.


PinterPolitik.com

“Politicians fake like they caring that we vote,” – E-Dubble, penyanyi rap asal AS

[dropcap]D[/dropcap]alam kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin di Dumai, Riau, mantan Wali Kota Solo tersebut menyapa pendukungnya bersama sang istri Iriana. Kemesraan Jokowi-Iriana ini pun ramai diperbincangkan di masyarakat. Di akun Instagramnya, Jokowi pun mengunggah foto momen kemesraan tersebut.

Sementara, pada hari yang sama, Prabowo yang tengah berkampanye di Mataram, NTB, memeluk dan mencium seorang nenek yang terlihat sedang menangis. Momen tersebut pun terabadikan dalam berbagai foto yang menarik perhatian publik.

Dalam pemberitaan atas momen tersebut, Prabowo berkomunikasi dengan Nenek Irah mengenai kesulitan-kesulitan yang dialami oleh nenek berkerudung hijau tersebut. Nenek Irah bercerita bahwa Prabowo menanyakan soal tempat tinggal dan kegiatannya sebagai pemulung.

Namun, dua momen hangat tersebut nyatanya juga mendapatkan berbagai sorotan negatif. Momen kemesraan Jokowi dan Iriana pun dikritik oleh Partai Gerindra melalui akun Twitter resmi partai tersebut yang mempertanyakan esensi dari foto tersebut dan menyindir ketidakbecusan Jokowi dalam mengurus negara.


Di sisi lain, momen Prabowo memeluk dan mencium Nenek Irah mendapatkan sorotan atas dugaan sandiwara karena sang nenek dianggap menerima uang sebesar Rp 500 ribu. Nenek Irah pun mengonfirmasi melalui video bahwa dirinya tidak menerima uang tersebut.

Terlepas dari segala isu dan tanggapan buruk terhadap dua momen tersebut, Jokowi dan Prabowo masing-masing ingin menunjukkan persona tertentu jelang hari pemungutan suara. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah ada pengaruh persona kandidat terhadap dinamika Pilpres 2019?

Pengaruh Persona

Christ’l De Landtsheer bersama tim penulisnya dalam tulisannya yang berjudul Political Impression Management menjelaskan bahwa kepribadian yang disajikan oleh politisi turut menentukan persepsi pemilih terhadap kepribadian politisi itu sendiri. Sifat yang melekat pada kepribadian politisi dapat menimbulkan koneksi dan reaksi emosional tertentu untuk menarik pemilih.

Lalu, bagaimana cara politisi menonjolkan kepribadiannya di publik?

Manejemen impresi kepribadian ini bisa dijelaskan dengan melihat cara mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memberikan citra kepribadiannya pada publik.

Aubrey Immelman dari Saint John’s University dalam tulisannya yang berjudul The Political Personality of U.S. President Barack Obama menjelaskan bagaimana kepribadian Obama mempengaruhi persepsi masyarakat AS pada Pemilu 2008.

Immelman menjelaskan bahwa Obama dipersepsikan sebagai pribadi yang setia di mata masyarakat. Kepribadian seperti ini menunjukkan kesetiaannya pada keluarganya, tujuannya, dan atasannya.

Berkaitan dengan kesetiannya pada keluarga, Obama memang sering kali terlihat dekat dengan keluarganya di publik. Kegiatan kampanyenya pun juga dihadiri oleh istri dan anak-anaknya.

Keikutsertaan keluarga Obama dalam kampanyenya pada tahun 2007 lalu pun menjadi perhatian publik AS. Hingga terpilih menjadi presiden, Obama tetap mempertahankan citra kekeluargaan ini dengan tersebarnya foto-foto aktivitas yang dilakukan keluarganya di Gedung Putih.

Setidaknya, Allan Hodges dari Utrecht University dalam tesisnya yang berjudul How did Barack Obama’s 2008 Presidential campaign use social media to portray his personality? menjelaskan tiga sosok kepribadian yang disajikan Obama kepada publik terkait sifat kekeluargaannya, yaitu sosok sebagai suami, sosok sebagai ayah, dan sosok sebagai anak.

Sosok sebagai suami tergambar dalam kedekatannya dengan sang istri, Michelle. Hal tersebut membuat publik melihat sosok Obama seperti manusia pada umumnya dan merasakan kedekatan tertentu terhadapnya.

Kedua, sosok sebagai seorang ayah terlihat dari kedekatan Obama dengan putri-putrinya yang sempat ditonjolkan ke publik dengan janjinya untuk membelikan seekor anak anjing untuk mereka yang disampaikan dalam sebuah pidato.

Terakhir, sosok sebagai seorang anak terlihat dalam narasi-narasi mengenai masa lalunya sebagai seorang anak yang pernah dibesarkan oleh orang tua tunggal.

Sifat yang melekat pada kepribadian politisi dapat menimbulkan koneksi dan reaksi emosional tertentu untuk menarik pemilih. Click To Tweet

Jika berkaca dari sosok kepribadian yang dibangun oleh Obama di publik, pemberian citra kepribadian juga sangat mungkin disajikan oleh kedua capres dalam diskursus Pilpres 2019 ini.

Perang Persona?

Kemesraan Jokowi dan Iriana yang ditampilkan dalam kampanyenya dan diunggah dalam akun media sosial bisa jadi merupakan salah satu upayanya untuk menarik perhatian pemilih. Bila berkaca pada kedekatan Barack dan Michelle Obama, kedekatan Jokowi-Iriana bisa saja membuat publik merasa lebih dekat dengan sosok Jokowi – terutama untuk kelompok-kelompok yang menilai citra kepemimpinan dari keluarganya.

Jokowi juga sering kali tampil bersama keluarganya di hadapan publik. Ia pun menjadi perhatian publik seakan-akan menjadi selebritis dengan penonjolan kepribadian yang dekat dengan keluarga.

Seperti yang dijelaskan oleh Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali, kedekatan Jokowi dengan sang cucu, Jan Ethes yang mencuri perhatian sebagian besar masyarakat merupakan salah satu strategi politik capres petahana itu. Cara ini dilakukan untuk menyajikan sosok Jokowi sebagai family man.

Jika Jokowi tampak sukses membangun citra kepribadian yang dekat dengan keluarga, bagaimana dengan pembangunan citra kepribadian Prabowo?

Effendi pun melanjutkan bahwa pembangunan citra Prabowo terkait keluarganya dianggap kurang berhasil bila dibandingkan dengan Jokowi sebagai petahana. Selain itu, citra Prabowo pun memburuk akibat sering mendapatkan framing media dengan isu-isu negatif.

Dalam Teori Agenda-setting, dijelaskan bahwa media massa bisa memengaruhi diskursus masyarakat. Dengan luasnya jangkauan, media dapat memengaruhi apa yang dipikirkan masyarakat, juga bagaimana masyarakat mempersepsikan isu tertentu.

Isu mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pada tahun 1998 merupakan salah satu contohnya. Framing media atas isu tragedi 1998 yang dikaitkan dengan Prabowo ini pun dibenarkan oleh tulisan Rafik Daris Salam yang berjudul Konstruksi Realitas Berita tentang Prabowo dalam Kasus Hak Asasi Manusia (HAM) Tahun 1998 di Metro TV.

Selain isu pelanggaran HAM, berbagai pemberitaan di media juga menunjukkan kepribadian Prabowo yang identik dengan isu-isu negatif, seperti isu kekerasan, isu rasisme, dan isu pendukung Prabowo yang dianggap radikal.

Lantas, apa langkah Prabowo untuk melawan narasi-narasi negatif tersebut?

Nyatanya, momen peluk dan cium antara Prabowo dan Nenek Irah adalah salah satu contoh strategi baru capres 02 itu membangun citra kepribadian yang berbeda. Momen tersebut pun menunjukkan kedekatan Prabowo sebagai pemimpin dengan masyarakat.

Bila kita mengamati narasi dan momen kedekatan Prabowo dengan masyarakat, capres 02 tersebut bisa saja membangun kepribadian populis. Seperti yang dijelaskan oleh Landtsheer dan tim penulisnya, tren populis pun muncul sebagai konsekuensi dari personalisasi politik persepsi.

Pembangunan citra populis ini pun bisa saja ditujukan untuk membangun kepribadian Prabowo di publik yang dekat dengan masyarakat. Bahkan, kedekatan itu pun ditampilkan seperti sosok seorang pemimpin sebagai orang tua yang menyelesaikan permasalahan masyarakat. Nenek Irah yang sempat dipeluk Prabowo pun menceritakan bahwa dirinya merasa seperti dipeluk oleh almarhum ayahnya sendiri.

Dengan pembangunan citra kepribadian Prabowo yang populis, apakah bisa mengungguli citra family man ala Jokowi?

Unggul atau tidaknya pembangunan persona Prabowo belum dapat dijelaskan secara pasti. Hal yang dapat dipastikan adalah pembangunan persona ini dapat memengaruhi dinamika dan diskursus Pilpres 2019.

Pemberian citra family man yang digunakan terus-menerus oleh Jokowi seperti pada penonjolan kemesraannya dengan Iriana merupakan strategi politik untuk melemahkan lawannya yang memang tidak terlalu berhasil menonjolkan sosok kepribadian serupa.

Namun, momen memeluk dan mencium Nenek Irah bisa jadi merupakan cara Prabowo untuk menyusul ketertinggalannya dalam penyajian sosok berkepribadian yang disukai masyarakat. Taktik Prabowo tersebut juga bisa jadi cara menghilangkan persepsi masyarakat terhadap isu-isu negatif tentang dirinya.

Buruknya Andalkan Persona

Penggunaan persona dalam kompetisi Pemilu memiliki dampak lain. Perebutan suara yang harusnya diisi dengan narasi-narasi rencana kebijakan, pada akhirnya menjadi cenderung dangkal.

Hal ini sempat terjadi dalam Pemilu AS 2016. Saling serang terkait persona antara Donald Trump dan Hillary Clinton membuat pembahasan rencana kebijakan dan program yang ditawarkan keduanya menjadi dangkal.

Peneliti komunikasi muda AS, Ada Statler-Thockmorton menjelaskan bahwa hal ini juga terjadi lantaran adanya konsistensi para pemilih di AS terhadap ideologi kelompoknya masing-masing.

Sementara, dalam konteks Pilpres 2019 di Indonesia, hal serupa sangat mungkin terjadi lagi. Pasalnya, kedua capres sama-sama menggunakan citra populis yang bisa berdampak buruk pada Pilpres 2019. Profesor Thomas Pepinsky dari Cornell University dalam tulisannya di Brookings Institute menjelaskan bahwa hal ini membuat masyarakat sulit membedakan kedua pasangan calon secara program.

Pepinsky pun melanjutkan bahwa pertarungan politik yang didasarkan pada persona ini membuat Pemilu 2019 gagal menjadi instrumen guna menyalurkan permintaan masyarakat pada kebijakan nyata. Selain itu, diskursus Pilpres 2019 yang dipenuhi oleh persona dan identitas menjadikan Pemilu kali ini tidak disertai dengan akuntabilitas dan representasi yang jelas.

Pertarungan persona ini hanya menjadi ajang bagi politisi untuk menarik perhatian pemilih. Akibatnya, kebijakan nyata yang mewakili kebutuhan rakyat menjadi perhatian yang minim bagi para politisi.

Pada akhirnya, mungkin benar apa yang dikatakan E-Dubble di awal tulisan. Para politisi hanya memberikan pencitraan tertentu tanpa terlalu peduli terhadap kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. (A43)