PDIP dan ‘Drama’ Pencopotan Rieke

PDIP dan ‘Drama’ Pencopotan Rieke
Rieke Diah Pitaloka dicopot dari Badan Legislasi DPR. (Foto: Law Justice)
3 minute read

“I guess drama makes for the best content” – Big Sean, penyanyi rap asal Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Hey cuy, adakah yang pernah nonton Bajaj Bajuri? Seri komedi keren itu pasti sudah pernah kalian dengar lah ya.

Nah, di dalam seri ini, sebenarnya ada pesan bahwa perempuan kerap menjadi faktor X dalam kehidupan. Hal itu tercermin lewat karakter Oneng yang berhasil diperankan oleh sosok Rieke Diah Pitaloka.

Meski Oneng terkesan polos, tetapi dia justru yang kerap jadi juru selamat bagi sang suami yang saban hari di-marahinsama si Emak. Walhasil, saking suksesnya memerankan sinetron ini, Mbak Rieke pun melekat sekali dengan nama si Oneng.

Bahkan nih, sampai sekarang saat doi sudah duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Anehnya, tidak cuma nama lho, pun menurut mimin sampai karakternya juga kebawa deh.

Lihat saja dalam adegan saat Mbak Rieke benar-benar tampak polos manakala posisinya sebagai Ketua Badan Legislasi (Baleg) diganti oleh partainya, PDI Perjuangan (PDIP).

Gimana nggak polos, cuy? Mbak Rieke yang sebelumnya tampil sangat maksimal dalam debat Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) tiba-tiba digeser begitu saja oleh PDIP. “Rieke sudah berjuang, namun saatnya ganti orang,” sebagaimana yang diucapkan Ketua Fraksi PDIP Utut Adianto.

Mbak Rieke pun hanya diam tanpa kata, bahkan terkesan tidak memberikan pembelaan diri. Wah, gokil gak tuh menurut kalian?

Mungkin diamnya Mbak Rieke itu bisa dilihat sebagai ketaatan kader pada partai ya, cuy, tetapi juga bisa dibaca sebagai penjelmaan dari karakter polosnya Oneng juga sih. Secara kita pahamlah, bahwa polos dan taat sangat beda tipis dalam politik. Upsss.

Selain itu, kalau setiap kemunculan Oneng dalam film membuat situasi semakin drama banget, pun demikian halnya dengan Mbak Rieke dalam panggung politik. Gimana nggak drama nih, cuy?

Mbak Rieke ini dicopot di tengah situasi penting nan panas terkait RUU HIP. Itu pastinya membuat banyak orang bertanya: kok bisa?

Bahkan nih, nggak cuma mimin kok yang heran. Bahkan, Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor juga keheranan. Usut punya usut, menurut Firman, Rieke diganti sebab kondisi PDIP sedang turun citra sejak publik melihat fakta bahwa Rieke-lah yang memimpin rapat RUU HIP.

Tapi, menurut mimin lebih dari sekadar itu, saat Rieke dicopot, praksis drama politik semakin pelik toh. Ujungnya, daripada fokus pada keberlanjutan soal bahasan RUU, publik akan dibuat lebih banyak menganalisis tentang “di balik pencopotan Rieke”. Haduh, nambahin kerjaan aja buat nge-gibah.

Mimin nggak habis pikir aja sih kenapa kok semua itu terjadi saat begini. Kok nggak mau pada menahan diri – misal tunggu sampai kelar bahasan yang menimbulkan polemik? Biar kelar dan mereda dulu, supaya tidak muncul drama, drama, dan drama.

Mimin khawatir aja, kalau ternyata dengan drama Mbak Rieke ini, justru rating PDIP, bahkan DPR, semakin turun di mata publik – mirip sinetron Bajaj Bajuri yang terpaksa gulung tikar di episode ke-26 sebab rating-nya turun drastis. Uppss. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.