OSO Menguatkan Diri Sendiri

OSO Menguatkan Diri Sendiri
Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang. (Foto: Merdeka)
2 minute read

 “Kita boleh ditinggalkan, tapi jangan mau merasa ditinggalkan. Kita boleh dibuang, tapi jangan merasa dibuang.”


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]rahara dualisme kepemimpinan di Partai Hanura semakin meruncing. Kedua kubu saling melaporkan satu sama lainnya ke pihak kepolisian. Separah itukah potret manusia yang haus kekuasaan?

Kedua kubu mengklaim memiliki argumentasi hukum yang sama kuatnya, namun tetap saja harus ada satu kepengurusan Partai yang secara legitimasi diakui keberadaannya.

Diantara kubu Oesman Sapta Odang (OSO) atau kubu Sarifuddin Sudding, siapa yang paling layak menerima sebuah legitimasi, maka ia yang berhak memegang kuasa atas Partai Hanura.

Ditengarai, penyebab munculnya polemik ini di awali oleh adanya indikasi Ketua Umum Partai Hanura, OSO yang mengambil keuntungan pribadi dari ‘mahar politik’ calon Kepala Daerah. Nilainya lumayan fantastis juga.


Dari sini lah manuver Sekjen Partai Hanura, Sarifuddin Sudding dimulai dengan menyelenggarakan pertemuan yang bermuara pada Munaslub Partai Hanura. Emang kalau di Partai itu harus banget begini ya, ga bisa dibicarain baik-baik ya? Weleeeh weleeeh.

Dalam menggelar kudeta terhadap kepemimpinan OSO, Sudding dan kawan – kawan mendapat dukungan dari DPD dan DPC Partai Hanura Se –Indonesia. Hmmm, kalau akar rumput sudah mosi tak percaya gimana dong?

Tapi, OSO pun tak berdiam diri saja menerima keadaan. OSO pun menyerang balik pihak Sudding, akhirnya tak bisa ditutupi keduanya saling serang dan saling bertahan menguatkan diri.

Tapi yang menjadi ambigu, katanya DPD dan DPC Partai Hanura ada di kubu Sudding untuk mendukung lengsernya OSO. Tapi, kok OSO justru mengklaim dirinya juga didukung DPD dan DPC Partai Hanura Se Indonesia. Bingung juga ya. Ah, syudaaaahlah.

Lah ini yang bener yang mana sih? Emang sebanyak apa sih DPD dan DPCnya? Weleeeeh weleeeeh.

Akhirnya denga nada minor Sudding mengomentarinya. Mungkin DPD yang mendukung OSO itu bukan DPD Partai Hanura, tapi DPD RI.  Loh kok malah bawa – bawa lembaga tinggi negara sih? Apa gunanya buat konflik Partai Hanura? Hadeeeeuhh.

Eeetttt, iya juga sih, kalo dukung mendukung, DPD RI pasti dukung OSO. Kan OSO itu Ketua DPD RI, jadi wajarlah kalau OSO didukung. Wedeeeewww. Tapi apa pengaruhnya untuk konflik Partai Hanura? Wadezzziiiggg.

Rasanya tak ada guna ada dukungan DPD RI, OSO tetap harus menguatkan dirinya dengan didukung DPD Partai Hanura ya. Jangan salah kamar begitu ah, Weleeeeh weleeeeh. (Z19)