OSO ‘Hajar’ Kritikus

OSO ‘Hajar’ Kritikus
Oesman Sapta Odang. (Merdeka.com)
2 minute read

“Jadi begini, oposisi ya namanya juga oposisi. Oposisi itu jangan terlalu banyak didengarkan, karena namanya juga oposisi.” ~ Oesman Sapta Odang


PinterPolitik.com

Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) yang juga menjabat sebagai Ketua DPD, memberikan pernyataan yang menggelikan, sungguh menggelikan.

Kenapa menggelikan, karena ehhh karena OSO dinilai tak mampu memahami fungsi dari oposisi yang sejatinya menjadi penggerak kegeraman rakyat yang merasakan Pemerintah yang tiada gunanya.

Kalau Pemerintah mengeluarkan kebijakan tertentu, nah yang akan mengawasinya bersama rakyat itu adalah oposisi. Watchdog function, setidaknya Pemerintah jangan malah mengkritik balik, biasanya kan Pemerintah begitu.

Contohnya aja nih, Presiden Jokowi kini mengeluarkan Perpres Tenaga Kerja Asing Nomor 20 Tahun 2018, dan setelah keluar Perpres ini, partai politik yang tergabung di kubu oposisi semakin keras mengkritik. Hmm, Pemerintah mau denger ga ya?


Para oposisi berpandangan kalau Perpres TKA itu mematikan tenaga kerja lokal, dan ngerinya akan ada dominasi angkatan kerja hanya dari salah satu negara saja. Kekhawatiran begini wajar aja sih, kan pandangan oposisi seyogyanya harus didenger juga.

Kalau ke depannya peluang tenaga kerja lokal mati dan tak bisa mencari pekerjaan, itu salah siapa? Pemerintah mau cuci tangan? Makanya apa yang dikatakan oposisi kan siapa tahu benar juga.

Makanya mengkaji dulu, jangan melihat permasalahan ini sebagai fenomena yang pendek, tapi dampaknya akan panjang, weleeeeh weleeeh.

Karena setiap kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah itu akan berdampak luas dan panjang, jadi Pemerintah juga jangan serampangan bikin kebijakan.

Di sisi lain, kalaupun ada kekeliruan Pemerintah, seharusnya sih pihak oposisi teriak dan merasionalisasikan kalau kebijakannya itu salah.

Bukan hanya bisanya nyinyir dan sindir – menyindir aja, tapi seharusnya bisa menemukan solusi juga. Kalau oposisi bisanya hanya nyinyir, kayaknya sih ga salah juga kalau muncul anggapan untuk jangan mendengar apa kata oposisi.

Saran agar penguasa ga usah dengerin oposisi itu, dilontarkan sama Ketua DPD sekaligus Ketua Umum Partai Hanura, cocok ga sih? Hmmm, OSO mau mencoba membungkam pihak oposisi?

Kalau sarannya oposisi itu bermanfaat gimana? OSO ingin penguasa memotong lidah aspirasi rakyat? Hmmm, baiklah kalau begitu.

Lebih baik resapi apa yang dikatakan Wiji Thukul, apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, maka hanya ada satu kata, Lawan!

OSO dan penguasa siap mendapat perlawanan dari oposisi dan rakyat? Weleeh weleeeh. (Z19)