Nadiem Trauma Didemo?

Nadiem Trauma Didemo
Sejumlah mahasiswa melakukan demonstrasi. (Foto: Tirto)
3 minute read

“Saya adalah seorang mahasiswa agama dunia. Jadi, bagi saya, sangat penting untuk memiliki pengetahuan dan untuk memahami apa yang orang-orang lakukan” – Will Smith, aktor asal Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Ada pertanyaan keren nih, gengs. Kenapa sepak bola di setiap era berbeda pola permainan? Terus juga, kenapa antara pemain sepak bola dalam satu generasi memiliki keterkaitan batin yang kuat?

Coba saja deh cek bagaimana generasi Mancherster United (MU), misal, tahun 1992, benar-benar kental ikatan batin mereka, sampai-sampai pas reuni di lapangan saja masih kelihatan romantis sekali. Jawaban pertanyaan ini mudah sih, yakni sebab mereka diasuh dalam satu zaman dan tempat yang sama.

Nah, hukum yang begitu juga berlaku nggak hanya di lapangan bola kok. Bahkan, juga cocok diterapkan dalam segala lokus kehidupan, termasuk pendidikan, seperti untuk menganalisis hubungan timbul tenggelam antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makariem dengan sejumlah mahasiswa dari Aliansi Gerakan Mahasiswa Jakarta Bersatu yang Long March dari FX Sudirman ke kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Padahal, kalau pendahuluan yang tadi mimin sampaikan di awal itu diterapkan dalam kasus ini, mereka semua – baik Nadiem Makariem maupun mahasiswa yang demo – itu lho usianya tak terpaut jauh. Kalau kata orang-orang sih, sama-sama milenial, cuy.Jadi, seharusnya mereka lebih mudah komunikasi sih. Lha, ini kok malah sampai turun jalan?

Mimin sih inget bahwa demo adalah jalan terakhir dalam menyampaikan aspirasi setelah jalan yang lain buntu atau terkunci. Wah, apa jangan-jangan benar nih dugaan mimin kalau sebenarnya antarmereka nih nggak ada komunikasi sebelumnya, misal audiensi atau apa kek?

Memang apa ya kira-kira sebabnya, gengs? Kok sampai Nadiem nggak mau membuka komunikasi? Apa doi trauma dengan demonstrasi dulu yang pernah digelar oleh para driver ojek online (ojol) ya? Uppss.

Sekadar informasi aja nih. Jadi, para mahasiswa yang demo itu mempermasalahkan langkah Kemdikbud terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tidak segera dieksekusi. Salah satu orator bilang begini, “Kami dari mahasiswa ini menuntut hak-hak kami karena belum ada regulasi yang konkret dari Kemdikbud sendiri terkait permasalahan pemotongan biaya dan penghapusan biaya di pandemi ini. Dan kita juga mendorong kementerian ini segera untuk bisa cepat tanggap untuk memberikan regulasi yang tepat.”

Nah, kalau disimak dengan saksama, berarti ada dua masalah tuh, yakni regulasi dan kampus. Kenapa kok kampus? Sebab Kemdikbud kan emang melibatkan urusan keringanan dan angsuran UKT ini ke kampus.

Ya, kalau diusut, sebenarnya Kemdikbud sudah membuat rencana untuk meringankan UKT kan, cuy. Namun, masalahnya yang mungkin dialami mahasiswa itu letaknya pada sejauh mana kebijakan Kemdikbud itu dilaksanakan oleh aktor birokrasi pada setiap lini.

Wajar kan kalau mahasiswa khawatir? Sebab, pernyataan Kemdikbud yang menyerahkan ke kampus ternyata ujung-ujungnya tidak ada bekas alias terbegal di tengah jalan.

Makanya deh, mending Mas Nadiem Makarim – sapaan akrab Mendikbud – temuin aja lah mahasiswa-mahasiswa yang masih resah dengan semua ini. Lagian, bisa kali undang BEM-SI kek atau BEMNUS atau organisasi mahasiswa nasional lainnya daripada serba nggak pasti begini kan? Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.