Muhaimin Si Anak Hilang Oportunis

Muhaimin Si Anak Hilang Oportunis
Istimewa
2 minute read

“Ini ada si anak hilang, yang sudah balik lagi. Namanya Imin alias Cak Imin. Tapi si anak hilang ini sudah terkenal sekarang. Sudah ngetop. Iya, bener,” ~ Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Sukarnoputri.


PinterPolitik.com

[dropcap]F[/dropcap]enomena nama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar (Cak Imin) memang semakin cetar membahana menjelang Pilpres 2019 ini. Semenjak ia mendeklarasikan dukungan sebagai calon wakil presiden Joko Widodo (Jokowi), wajahnya yang terpampang di spanduk JOIN (Jokowi-Muhaimin) tampak menghiasi berbagai daerah di seluruh pelosok negeri.

Muhaimin Si Anak Hilang Oportunis

Cawapres eksis banget ya orangnya. Tapi ya gitu deh. Baru muncul memberi dukungan kalau mendekati Pilpres doang. Giliran hari-hari biasa, eh gak nongol batang idungnya. Bahkan, malah lebih sering keliatan berseberangan di kubu berbeda. Sungguh gak tau diuntung. Ya namanya juga politisi, oportunis dikit ya wajar.

Gegara ulahnya ini, Cak Imin sering disebut oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnoputri, sebagai ‘si anak hilang’. Ungkapan ini terlontar di kala Megawati dan Cak Imin serta pasangan cagub dan cawagub Jatim, Puti Sukarno dan Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) hadir di acara Haul Bung Karno di Blitar, Rabu lalu.


Muhaimin Si Anak Hilang Oportunis

Sebenernya bukan pertama kali Cak Imin disebut sebagai anak hilang oleh Megawati. Pada Pemilu 2014 silam, Megawati juga menyebut dengan istilah yang sama. Kalau gitu si Cak Imin ini hobinya emang ilang-ilangan dung ya. Mmm, ilang kok dijadiin hobi, udah kayak main petak umpet aja sih. Aya aya wae ah.

Tapi ya gitu, gimana pun juga, politisi ya tetap politisi. Sekalipun kedekatan ideologi masih berlaku, terkadang sifat oportunis pasti akan tetap ada. Emangnya Cak Imin bakal melipir ke Haulnya Bung Karno dan mendeklarasikan diri sebagai cawapres Jokowi kalau Jokowinya sendiri bukan presiden petahana?

Eike mah ragu. Ya gimanapun juga, di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya manusia itu sejatinya bisa berubah-ubah, tergantung di mana ada keuntungan lebih, di situ dia berada. Seperti perkataan filsuf Niccolo Machiavelli (1469-1527): “Of mankind we may say in general they are fickle, hypocritical, and greedy of gain.” (K16)