Merebut Restu  Maimun  Zubair

Merebut Restu Maimun Zubair
Foto : Istimewa
7 minute read

Tuah politik mbah Moen menjadi rebutan dua calon yang akan bertarung di Pilpres 2019  ini. Lalu masih ampuhkah kesaktian politik sang ulama?


PinterPolitik.com

KH Maimun Zubair atau kerap disapa Mbah Moen belakangan tengah jadi buah bibir. Tak dipungkiri, ia adalah sosok yang amat disegani politik Indonesia. Tak hanya dikenal sebagai seorang kiai pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, ia juga aktif berpolitik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kiprahnya yang panjang membuat restunya kerap dianggap penting untuk gelaran Pemilu bahkan untuk tingkat Pilpres sekalipun. Salah satunya adalah tatkala beberapa waktu lalu, ia hadir dalam sebuah video bersama Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy. Video itu diunggah untuk menegaskan dukungan sang kiai kepada Joko Widodo (Jokowi) pasca polemik ‘doa yang tertukar’ beberapa waktu lalu.

Ternyata, ada pihak lain yang mengklaim restu Mbah Moen. Muhammad Wafi atau Gus Wafi, putra Mbah Moen menyatakan bahwa suara hati Mbah Moen sebenarnya mendukung Prabowo Subianto.

Dari kedua hal tersebut, terlihat bahwa tuah Mbah Moen jadi sesuatu yang diperebutkan. Lalu bagaimana sesungguhnya ‘kesaktian’ politik mbah Moen? Bagaimana kiprahnya selama ini dalam perjalanan politik bangsa? Benarkah tuah politiknya masih begitu manjur bagi para kandidat yang akan bertarung merebutkan kursi RI 1?


Sang Ulama Sakti

Dalam kultur politik di tanah air, peran ulama memang kerap kali tak terlepaskan dari panggung perpolitikan. Hal ini disebabkan karena kharisma kiai yang oleh Clifford Geertz dalam penelitiannya yang bertajuk The Javanese Kijaji : The Changing Roles of A Cultural Broke berperan sebagai perantara budaya atau cultural broker.

Mbah Moen mungkin bisa dibilang hanya satu dari sekian banyak ulama yang punya tuah sakti dalam perpolitikan tanah air.

Ia merupakan sosok pemimpin sufi dikalangan pengikutnya dimana “barokahnya” dianggap sebagai sesuatu yang kultus dan magis di kalangan masyarakat.

Sehingga dalam kehidupan islam di Jawa, kepemimpinan sufisme seorang ulama dipercaya dapat berkontribusi terhadap keberhasilan elit politik dan menjadi kekuatan yang juga sangat diperebutkan.

Mark R. Woodward, seorang etnolog dari Amerika Serikat bahkan mengatakan bahwa Islam Jawa itu unik karena konsep budidaya sufi,jalan mistik, dan kesempurnaan manusia yang diterapkan dalam aspek kehidupan sosial.

Dengan demikian, model konsepsi tradisional Jawa tentang aturan sosial, ritual, dan lainnya yang kemudian diadopsi oleh relasi-relasi politisi menjelang pemilu.

Oleh karenanya, seolah menjadi konsensus tak tertulis, menyambangi Mbah Moen dalam setiap momentum politik dipercaya akan mendatangkan tuah tersendiri bagi para politisi. Sehingga penting untuk merefleksikan kembali bagaimana kiprah sang ulama selama ini dalam perjalanan sosial dan politik bangsa.

Sebagai seorang politisi, karier mbah Moen juga tak bisa dianggap remeh. Tercatat kini ia merupakan Ketua Majelis Syariah PPP mulai tahun 2004 hingga sekarang.

Beberapa jabatan politik juga pernah ia duduki di era Orde Baru diantaranya Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat II Rembang, dari tahun 1971 hingga 1978. Ia juga sempat merasakan kursi Anggota MPR RI dari utusan Jawa Tengah pada tahun 1987 hingga 1999.

Sedangkan sebagai seorang ulama, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Syuriah NU Provinsi Jawa Tengah di tahun 1985 hingga 1990.

Tak hanya mentok menjadi tokoh NU, beliau juga pernah melebarkan sayap ke dunia internasional dengan menjadi utusan Indonesia dalam Majelis Ijtima Ulama Nusantara kedua di Malaysia pada tahun 2007 dan menjadi anggota ICIS (International Conference of Islamic Scholars) dari Indonesia yang diutus ke Uzbekistan pada tahun 2010.

Titel sebagai politisi dan ulama tersebut yang pada akhirnya membuatnya begitu disegani, utamanya di wilayah Jawa Tengah. Terlebih, ia juga merupakan pimpinan sebuah pondok pesantren.

Meskipun usianya kini telah menginjak senja, ia merupakan simbol sekaligus penggerak utama eksistensi Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, yang menjadi pondok pesantren terbesar di  Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Jika mengacu pada klasifikasi kelas dalam masyarakat Jawa ala Clifford Geertz yakni santri, abangan, dan priyayi, maka peran kharisma Mbah Moen dalam kelas sosial santri cukup dibilang kuat.

Selain itu, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Aris Fahmi, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya, terungkap bahwa relasi Mbah Moen dengan PPP yang terjalin cukup intens dan lama telah menimbulkan berbagai konsekuensi-konsekuensi politik elektoral.

Hal ini berkaitan dengan keberadaan Ponpes Al-Anwar sebagai salah satu lumbung suara terbesar bagi PPP yang tak bisa dielakkan.

Di sinilah peran mbah Moen sebagai pengasuh pondok dan Majelis Syuriah PPP, sebagai penghubung antara PPP dan pondok pesantren Al Anwar dalam mendulang suara dalam pemilu. Oleh karenanya, peran Mbah Moen menjadi sentral di kedua lembaga tersebut.

Dengan posisi Ketua Majelis Syuriah, Mbah Moen sesungguhnya memegang otoritas tertinggi dalam menentukan arah kebijakan partai berlambang Kakbah tersebut.

Tercatat beberapa kemenangan politisi PPP diantaranya terpilihnya pasangan H. M Salim dan H. Abdul Hafidz sebagai pasangan bupati dan wakil bupati pada tahun Pemilukada di tahun 2009 dan terpilihnya beberapa calon legislatif tidak terlepas dari adanya relasi antara PPP dan mbah Moen sendiri.

Berdasarkan realitas itulah, maka wajar jika seorang mbah Moen memang memiliki tuah politik sakti, utamanya di kalangan pesantren dan kalangan warga Nahdliyin. Lalu bagaimana tuah politik sang kiai menjelang Pilpres 2019 ini?

Jadi Rebutan

Ciri khas hubungan patron-klien yang begitu kuat dalam kultur pesantren menjadikan kehadiran sosok sang kiai menjadi begitu penting, terlebih menyoal dukungan terhadap salah satu paslon yang akan melaju dalam pertarungan Pilpres mendatang.

Jika melihat tingkah laku para politisi yang kini ramai-ramai mengambil keuntungan politis dari sang kiai sepuh tentu adalah sebuah hal yang wajar.

Relasi mbah Moen dengan PPP bisa jadi masih menjadi daya tarik yang cukup kuat bagi para tim sukses yang kini hendak bertarung.

Seperti yang telah banyak diberitakan sebelumnya, PPP kini terpecah ke dalam dua kubu yakni PPP Romahurmuziy dan PPP Humphrey Djemat. Keduanya juga memiliki dukungan politik berbeda. Kubu Romy pro Jokowi, sedangkan Humphrey pro Prabowo.

Meskipun dalam gelaran pesta demokrasi kali ini PPP adalah salah satu partai Islam yang diprediksi tak lolos parliamentary threshold, namun peran mesin partai sebagai jembatan mobilisasi suara dikalangan grassroot, utamanya pemilih muslim Nahdliyin di wilayah Jawa Tengah nampaknya masih begitu besar.

Terlebih, Jawa Tengah merupakan salah satu kawasan yang kini tengah menjadi medan perang sesungguhnya antara petahana dan oposisi setelah BPN Prabowo-Sandi memutuskan untuk memindahkan markas pemenangan mereka di Jawa Tengah.

Sedangan jika mengingat secara historis-politik, di Kabupaten Rembang, khususnya di Kecamatan Sarang yang merupakan daerah lokasi Ponpes Al-Anwar merupakan wilayah di mana  Prabowo-Hatta mendapatkan kemenangan di Pilpres 2014.

Kala itu, PPP memang jadi salah satu mesin politik pasangan Prabowo-Hatta bersama Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Bulan Bintang dan Partai Golkar.

Kasihan mbah Moen jadi rebutan politisi Click To Tweet

Kini, momentum kepeleset lidah mbah Moen yang malah mendoakan Prabowo menang Pilpres padahal ia tengah bersama Jokowi memang cukup memberikan angin segar bagi kubu oposisi. Peristiwa tersebut seolah telah terlanjur mengkonstruksi opini publik bahwa sang kiai lebih mendukung Prabowo daripada Jokowi.

Meski demikian, mbah Moen sendiri akhirnya telah mengklarifikasinya melalui video blog (vlog) bersama Presiden Joko Widodo dan Rommy.

“PPP tidak ada PPP yang Prabowo, dan semuanya adalah ke Pak Jokowi,” kata Mbah Moen dalam vlog yang diunggah akun Instagram resmi Romahurmuziy pada Sabtu lalu.

Meski begitu, upaya klaim terhadap restu Mbah Moen tampaknya tak berhenti sampai di situ. Putra Mbah Moen, Gus Wafi memilih merapat ke kubu PPP Humphrey dan menyatakan dukungan kepada Prabowo. Tak hanya itu, ia juga mengklaim bahwa suara hati Mbah Moen sebenarnya adalah mendukung Prabowo.

Upaya saling klaim ini seperti menggambarkan bahwa tuah politik Mbah Moen tampaknya masih menjadi sesuatu yang dianggap penting. Sebagaimana disebut di atas, kharisma sang kiai terlampau memukau jika harus dilewatkan oleh masing-masing kandidat.

Lalu apa sebenarnya isi suara hati Mbah Moen? Apakah mendukung Jokowi seperti video Romy? Atau mendukung Prabowo seperti klaim Gus Wafi? Melihat ‘kesaktian’ politiknya yang melegenda, pertanyaan ini jadi hal yang penting untuk dijawab jelang hari pencoblosan. (M39)