Menyoal Mencla-Mencle PSBB Corona

Menyoal Mencla-Mencle PSBB Corona
Presiden Jokowi dalam rapat kabinet menegaskan bahwa belum ada kebijakan pelonggaran PSBB dan masih dikaji dalam bentuk skenario. (Foto: Setneg)
3 minute read

“One day, you’re here. One day, you’re there. One day, you care. You’re so unfair” – Justin Timberlake, pemyanyi asal Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Di kala pandemi begini, jujur saja deh, spiritual kita semakin terasah, iya gak sih? Hmm, kalau mimin kok rasanya iya ya.

Ngomong-ngomong tentang spiritual, mimin jadi ingat sama ulasan Ustadz Abdus Somad (UAS) saat datang di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) pada 30 April kemarin. Kala itu, UAS membuat perumpamaan yang sederhana tentang keberhasilan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Jadi, kata UAS, pemerintah – seperti imam masjid – harus cepat dan kompak kalau pengen membatasi gerak para warga. Nah, menyukseskan itu, pemerintah dituntut cerdas dan tegas. Jangan mencla-mencle. Soalnya urusan virus ini gak bisa kalau setengah-setengah.

Contoh dari mimin nih, kalau sudah diminta pembatasan di kerumunan, ya berarti tidak peduli tempatnya di mana pun, selama di situ ada kerumunan berarti tetap dilarang. Seharusnya begitu, kan?


Serius lho ini karena wibawa negara dipertaruhkan. Orang bijak berkata, “seseorang kalau sudah mencla-mencle, maka ia kehilangan kepercayaan orang lain pun imannya.”

Sekarang lihat saja deh, cuy, kerumunan kayak tebang pilih. Masjid dibatasi habis-habisan, tapi kerumunan lain yang tidak berkaitan dengan hidup mati orang masih dibiarkan, misal terlihat di gambar yang viral kemarin tuh – mulai dari bandara sampai jalanan ngabuburit.

Ya, jangan heran deh kalau Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas nyeletuk, ” Yang menjadi pertanyaan, mengapa pemerintah hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di masjid tapi tidak tegas dan tidak keras dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, di mal-mal, di bandara, di kantor-kantor dan di pabrik-pabrik serta di tempat-tempat lainnya.”

Parahnya, si Juru Bicara (Jubir) Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, menanggapinya enteng begini, gaes, “Itu kan hanya kejadian tanggal 14 (Mei), cuma 14 aja setelah itu jadi rapi.” Yaelah, Pak Yuri, ini bukan soal “cuma” kelleus, tapi ini soal komitmen pemerintah.

Gimana kalau para jamaah masjid ngambek? Bisa-bisa, lempeng aja buat melanggar aturan PSBB. Nah, loh, mohon perhatiannya, deh. Atau jangan-jangan Negara ini keras cuman di ruang yang gak mendatangkan cuan. Sementara, di sektor beruang, semua kemungkinan bisa dibicarakan. Lha kok aneh banget sih ya, cuy?

Sudah begitu nih, kemarin ada lagi konser musik yang digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Publik menanggapinya beragam, tapi kebanyakan menyayangkan protokol yang banyak dilanggar.

Sampai-sampai, salah satu tokoh Muhammadiyah – Pak Din Syamsuddin – juga ikut geram, cuy. Untung saja di akhir ucapannya beliau bilangnya adem begini, “Tidak perlu ada yang ‘membalas dendam’ terhadap ketidakadilan pemerintah tersebut dengan keinginan berkumpul di masjid-masjid.”

Nah, untung masih ada tokoh yang bijak. Tapi, apakah semua orang bisa menahan kejengkelan terhadap ketidakjelasan pemerintah ini?

Kalau Pak Din mungkin pengalamannya sebagai negarawan dan tokoh umat bisa memandunya buat menahan amarah. Lha, penduduk yang tidak sabar-an, bisa-bisa berontak tuh.

Repotnya lagi, kalau yang berontak nih dari tenaga kesehatan, mimin gak berani membayangkan deh, cuy. Pikir saja.Indonesia ini – kata Kepala Gugus Tugas Covid-19 Doni Manardo – sudah kekurangan medis, lho, gaes.

Jadi, berdoa saja deh. semoga tidak ada tenaga medis yang ngambek terus boikot dari perjuangan melawan Covid-19 – apalagi sudah ada tagar #IndonesiaTerserah. Tolong, pemerintah, berhentilah mencla-mencle, Indonesia butuh kepastian. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.