Menguak Kekuatan Politik Rocky Gerung

Menguak Kekuatan Politik Rocky Gerung
Rocky Gerung sebut Presiden Jokowi tidak paham Pancasila (Foto: Portal Rakyat)
7 minute read

Pernyataannya yang menyebut Presiden Jokowi tidak paham Pancasila dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada 3 Desember 2019 lalu kembali membuat Rocky Gerung mendapatkan sorotan panas dari berbagai pihak. Tidak hanya sekali, sebelumnya Rocky juga kerap melontarkan pernyataan kontroversial seperti “kitab suci itu fiksi”, hingga satire-satirenya yang menyindir pemerintah. Menariknya, kendati kerap dilaporkan ke pihak berwajib atas pernyataannya, sosok yang disebut sebagai “Presiden Akal Sehat” ini selalu lolos dari jeratan hukum.


PinterPolitik.com 

Bagi mereka yang mengikuti diskursus politik nasional, tentu tidak asing dengan nama Rocky Gerung. Sosok ini sendiri mulai mendapat perhatian yang luas dari publik dan diperhitungkan setelah melontarkan pernyataan mengejutkan bahwa “pembuat hoaks terbaik adalah penguasa” dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada 17 Januari 2017 lalu.

Tidak hanya kontroversial, pernyataan tersebut benar-benar berbeda alias out of the box dan seolah menjadi semacam representasi ketidakpuasan dan kegelisahan publik atas penguasa. Dengan aksentuasinya yang khas, Rocky menyebut hanya penguasa yang dapat menciptakan hoaks yang sempurna karena memiliki seluruh peralatan untuk berbohong, seperti intelijen, data statistik, dan media massa.

Tidak hanya sekali, Rocky diketahui kerap melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang banyak mendapat respon dari publik. Mulai dari istilah “dungu”, “IQ 200 sekolam”, “cebong”, dan yang paling fenomenal “kitab suci itu fiksi”. Kesemuanya benar-benar melambungkan nama Rocky menjadi semacam rujukan istilah, bahkan menjadi standar kecerdasaan dalam mengkritik penguasa.

Yang terbaru, dalam acara ILC pada 3 Desember 2019, Rocky memberikan kritik pedas yang menyebut tidak ada yang Pancasilais, bahkan ia menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga tidak memahami Pancasila karena hanya menghafalnya. Pernyataan tersebut didasari atas berbagai kebijakan Jokowi seperti berutang untuk pembangunan dan menaikkan BPJS yang disebutnya tidak Pancasilais.


Atas pernyaatan tersebut, khususnya terkait tudingan Presiden Jokowi tidak paham Pancasila, sontak saja membuat salah satu pendiri Setara Institute tersebut mendapat berbagai kritikan.

Tidak hanya dari kalangan politisi, warganet juga terlihat menyoroti negatif pernyataan Rocky, yang terbukti dengan tagar #RockyGerungMenghinaPresiden menjadi trending topic di Twitter. Atas derasnya respon negatif tersebut, ILC bahkan dikabarkan sampai menghapus video pernyataan Rocky di kanal YouTube-nya.

Tidak berhenti sampai di situ, Rocky pun terancam akan dipolisikan oleh politikus PDIP, Junimart Girsang karena dianggap telah melakukan penghinaan terhadap presiden. Menariknya, mantan dosen Filsafat di Universitas Indonesia ini justru mendukung wacana Junimart untuk melaporkan dirinya.

Tidak hanya sekali ini, dalam wawancara di kanal YouTube milik presenter kenamaan Deddy Corbuzier, Rocky menyebut mungkin masih terdapat tujuh tuntutan di kepolisian terhadap dirinya.

Akan tetapi, seperti yang diketahui, berbagai tuntutan yang mendera Rocky nyatanya tidak membuatnya mendekam di penjara sampai saat ini. Atas fenomena yang memperlihatkan Rocky seolah tidak takut terhadap jeratan hukum, tentu melahirkan pertanyaan. Faktor apa yang membuat Rocky terlihat kuat secara politik?

Rocky Gerung adalah Pemain Lama?

Berbagai kritik cerdas yang terkadang membuat kita mengucap “wah”, turut membuat Rocky dikenal sebagai “Presiden Akal Sehat”. Akan tetapi, istilah “akal sehat” tersebut pada dasarnya bukanlah istilah yang baru bagi Rocky.

Setidaknya, pada November 2010, Rocky telah memaparkan sebuah pidato bertajuk Merawat Republik, Mengaktifkan Akal Sehat. Namun, momentum kemunculannya di ILC pada 2017-lah yang membuat istilah “akal sehat” menjadi lekat dengan dirinya.

Terkait karir politiknya, mungkin banyak pihak menilai bahwa Rocky baru bergabung ke politik pada Maret 2019 lalu selepas resmi menjadi kader Partai Demokrat. Hal inilah yang mungkin membuat Ketua DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon lantas membela Rocky atas wacana pelaporan dirinya terkait pernyataan Presiden Jokowi tidak paham Pancasila.

Sebelum resmi menjadi kader Partai Demokrat, Rocky sendiri telah banyak diketahui memiliki hubungan baik dengan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hal ini misalnya terlihat dari Rocky yang mendampingi SBY mencoblos di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura pada April 2019 lalu. Selentingan kabar juga menyebutkan bahwa Rocky pernah menjadi penasihat SBY sewaktu masih menjadi presiden.

Karena kedekatannya dengan SBY ini, disebut pula sebagai alasan mengapa dirinya ditunjuk sebagai penasihat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Pilgub DKI Jakarta 2017, dan bahkan sempat mendeklarasikan dukungan kepada putra SBY tersebut untuk menjadi pemimpin alternatif yang potensial dihadirkan di luar Jokowi dan Prabowo Subianto pada Juli 2018 lalu.

Ternyata, Partai Demokrat bukanlah partai pertama Rocky. Pada 2011 lalu, bersama Rahman Tolleng dan beberapa tokoh lainnya, Rocky mendirikan Partai Serikat Rakyat Independen yang bertujuan untuk mengusung Sri Mulyani sebagai calon presiden di Pilpres 2014.

Jauh sebelum memulai hubungan dekat dengan SBY, menurut keterangan politikus Partai Demokrat, Rachlan Nashidik dalam cuitannya di Twitter, disebutkan bahwa Rocky ternyata juga merupakan teman dekat dari Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, atau yang biasa disapa Gus Dur. Kedekatan ini bahkan membuat Rocky dipercaya sebagai Ghost Writer bagi presiden yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.

Kedekatan Rocky dengan Gud Dur ini besar kemungkinan karena aktivitasnya bersama Rahman Tolleng di Forum Demokrasi (Fordem). Fordem sendiri adalah forum diskusi yang didirikan oleh Gus Dur pada Maret 1991  yang kala itu sebagai respon atas politik hegemoni Orde Baru.

Pada 1999, Fordem kemudian turut mengusulkan Gus Dur sebagai calon presiden yang berakhir pada terpilihnya sang ulama NU itu sebagai Presiden ke-4 RI. Hal tersebut disebut Rocky disambut baik oleh kalangan aktivis masyarakat madani (civil society) pada saat itu.

Selain aktif di Fordem bersama Gus Dur, Rocky juga kabarnya merupakan Kepala dari Sekolah Ilmu Sosial (SIS) dari Yayasan Padi dan Kapas. SIS sendiri merupakan tempat bagi para aktivis tahun 1980-an untuk belajar pemikiran politik para pendiri bangsa hingga filsuf besar dunia.

Merujuk pada variabel-variabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rocky pada dasarnya merupakan “pemain lama” dalam perpolitikan tanah air. Artinya, besar kemungkinan Rocky memiliki jaringan yang cukup luas dengan para politisi. Lalu kedekatannya dengan sosok besar seperti Gus Dur dan SBY boleh jadi membuatnya memiliki kekuatan politik yang melindunginya selama ini.

Apalagi, kedekatannya yang mulai terbangun dengan kelompok Islam seperti Presidium Alumsi 212 semasa Pilpres 2019 boleh jadi telah menjadi “nilai tawar” tersendiri bagi Rocky. Terlebih lagi, saat ini pemerintah disebut cukup berhati-hati dalam mengambil kebijakan terkait kelompok tersebut.

Rocky, Noam Chomsky Indonesia?

Kendati disebut memiliki kedekatan politik dengan beberapa tokoh politik, nyatanya Rocky lebih dikenal sebagai sosok intelektual, dan bukannya politisi. Secara khusus, berbagai kritikan keras yang selalu dilayangkannya kepada penguasa atau pemerintah, turut membuatnya dilabeli sebagai “intelektual pembangkang”.

Pada titik ini, kita mungkin dapat membandingkan sosok Rocky yang kerap disebut filsuf Indonesia dengan filsuf Amerika Serikat (AS), Noam Chomsky yang telah dikenal oleh banyak kalangan sebagai “intelektual pembangkang”.

Professor Linguistik dari Institut Teknologi Massachussetts tersebut bahkan dilabeli sebagai kecerdasaan paling berbahaya di AS. The Guardian juga turut menyebut Chomsky sebagai kritikus imperialisme AS paling terkemuka.

Bagaimana tidak, Chomsky bahkan secara terbuka menyebut AS sebagai negara teroris terkemuka di dunia, ataupun dengan menyebut negaranya tersebut sebagai teroris yang sesungguhnya. Chomsky yang dikenal sebagai seorang anti-perang ini adalah sosok terdepan yang mengkritik pemerintah AS.

Sama halnya dengan Chomsky melihat AS dengan “penuh dosa”, mungkin seperti itu pula Rocky melihat pemerintah Indonesia. Keduanya sendiri sama-sama liberal, di mana mereka sangat mengutuk berbagai kebijakan yang mereduksi hak-hak dasar kemanusiaan.

Rocky diketahui begitu geram dengan segala bentuk pengekangan berpendapat, karena baginya itu berkontradiksi dengan politik demokrasi.

Menariknya, kendati Rocky dan Chomsky merupakan intelektual yang kerap mengkritik pemerintah yang berkuasa, keduanya sama-sama tidak berakhir di dalam jeruji besi.

Pada konteks Chomsky, mungkin itu cukup dipahami karena AS adalah negara yang sangat menjunjung kebebasan berpendapat. Namun, beda halnya dengan di Indonesia, di mana banyak kritikus pemerintah justru mendekam di balik jeruji besi. Fakta ini boleh jadi membuat Rocky memiliki keunikan tersendiri dibandingkan Chomsky.

Pada akhirnya, mungkin dapat dipahami lolosnya Rocky dari berbagai tuntutan hukum sampai saat ini adalah wujud dari kekuatan politiknya. Di luar persoalan tersebut, sosok Rocky yang merupakan “intelektual pembangkang” seperti Chomsky pantas mendapat apresiasi menimbang pada keberaniannya dalam mengkritik politik hegemoni penguasa. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Mau tulisanmu terbit di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.