Mengapa Jokowi Inginkan Nadiem?

Tepatkah Jokowi Pilih Nadiem?
Nadiem Makarim adalah Mendikbud yang dapat mewujudkan visi pendidikan Presiden Jokowi (Foto: Antara)
6 minute read

Ditunjuknya Nadiem Makarim, pendiri dan mantan CEO Gojek Indonesia sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membuat banyak pihak terkejut. Muhammadiyah misalnya diketahui kecewa dengan pengangkatan Nadiem, mengingat selama ini Mendikbud merupakan pos langganannya. Di luar pro-kontra penunjukan Nadiem sebagai Mendikbud, mencuat satu pertanyaan, apakah alumnus Harvard ini adalah sosok yang tepat untuk membawa perubahan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik?


PinterPolitik.com

Sehari sebelum pengumuman resmi kabinet periode kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi), sosok Nadiem Makarim yang terlihat di Istana menggunakan kemeja putih benar-benar menarik perhatian.

Nadiem sendiri memang sudah lama diisukan masuk ke dalam bursa calon menteri. Terlebih lagi, dengan kemunculannya pada hari itu, sontak membuat berbagai pihak ramai-ramai menebak pos menteri apa yang akan diberikan kepadanya.

Melihat background-nya yang merupakan pendiri dan mantan CEO Gojek Indonesia – yang merupakan startup berstatus decacorn – Nadiem diprediksi akan ditempatkan sebagai menteri yang berhubungan dengan ekonomi digital.

Sebagaimana diketahui, Jokowi memang ingin mengembangkan ekonomi berbasis digital dan menambah jumlah startup unicorn di Indonesia.


Keesokan harinya, atau pada saat pegumuman nama-nama menteri Jokowi, publik cukup terkejut karena Nadiem justru ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Alumnus Harvard University ini, seperti yang diketahui memang tidak berlatar belakang dari sektor pendidikan. Atas hal ini, tidak mengherankan berbagai kalangan turut mempertanyakan putusan Jokowi.

Muhammadiyah misalnya, melalui Wakil Ketua Majelis Tabligh Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Fahmi Salim, menuturkan bahwa organisasinya kecewa atas penunjukan Nadiem sebagai Mendikbud. Terlebih lagi, pos ini memang menjadi langganan kader-kader Muhammadiyah.

Menilik pada background-nya yang tidak selaras dengan pendidikan, tentu mencuat satu pertanyaan, mengapa harus Nadiem yang ditunjuk Jokowi sebagai Mendikbud?

Mengapa Harus Nadiem?

Melihat deretan menteri-menteri hebat Jokowi, terdapat dua perbedaan kontras Nadiem dengan yang lainnya, yaitu dirinya adalah sosok termuda dan berlatar pebisnis startup.

Dua poin tersebut, bukan hanya semacam serba-serbi atasnya, melainkan merupakan faktor utama mengapa Nadiem harus dipilih.

Nadiem yang masuk menjadi bagian dari pemerintah mengingatkan kita pada adagium: “Pebisnis yang masuk ke dalam politik, ibarat ikan yang keluar dari kolam”.

Merujuk pada istilah Nissim Cohen, Nadiem adalah seorang policy entrepreneur yang dapat memberi berbagai perubahan regulasi dalam birokrasi.

Ini sejalan dengan ungkapan Jokowi yang menyebut bahwa Nadiem dipilih karena dirinya merupakan sosok yang out of the box, sosok muda yang dapat memunculkan loncatan-loncatan besar.

Anggapan mengenai sosok muda yang lebih inovatif dan ideologis seperti yang terlihat dalam pernyataan Jokowi sebenarnya bukanlah adagium semata.

Setidaknya dalam tinjauan 92 studi ilmiah, penambahan usia justru berbanding lurus dengan sifat yang lebih ke arah konservatisme. Hal ini disebabkan karena seiring bertambahnya usia, kemampuan kognisi manusia seperti mengingat, memproses, ataupun memprediksi sesuatu cenderung mengalami penurunan.

Ini mungkin menjadi alasan kuat mengapa sosok tua tidak diharapkan mampu memberi perubahan regulasi dalam birokrasi. Secara psikologis, mereka yang telah berusia lanjut, memiliki kecenderungan untuk menjaga birokrasi yang telah berlangsung secara bertahun-tahun dan cenderung menjadi sensitif terhadap perubahan.

Lalu, apakah jiwa muda Nadiem menjadi faktor penentu? Tentu saja tidak. Jiwa muda sekalipun akan luntur karena kuatnya godaan kapital. Seperti dalam pandangan Karl Marx, ideologi adalah cara untuk mengakumulasi kapital. Artinya, bagi Marx, kebutuhan akan kapital adalah kebutuhan mendasar bagi manusia.

Namun, semenjak psikolog Abraham Maslow merumuskan “piramida kebutuhan”, kita sepertinya dapat membatalkan tesis Marx karena kebutuhan tertinggi manusia adalah self-actualization. Merujuk pada definisi Maslow, ini adalah kebutuhan seseorang untuk mewujudkan potensinya semaksimal mungkin.

Ditambah lagi karena Nadiem merupakan sosok yang mapan dalam hal kapital, tentu akan menjadi modal kuat untuk terhindar dari jerat mafia-mafia pendidikan yang kerap kali memberikan tawaran menggiurkan.

Terkait mafia pendidikan, ini menjadi masalah besar lainnya yang harus diselesaikan oleh Nadiem, mengingat mereka adalah pintu terakhir dan terberat dalam revolusi birokrasi pendidikan.

Dengan adanya pertalian ideologi muda dan kemapanan kapital, kita tentu berharap Nadiem dapat memutus “rantai setan” tersebut.

Terakhir, bisnis Nadiem yang merupakan startup adalah puzzle terakhir yang dapat melengkapi visi Jokowi untuk mengembangkan link and match atau penyesuain kurikulum dan sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Link and match sebenarnya adalah narasi lama dalam perombakan sistem pendidikan, tetapi tidak kunjung berhasil dilakukan. Hal tersebut sebenarnya cukup wajar karena dunia kerja selalu mengalami dinamika.

Misalnya, pada tahun 1990 jurusan X dinilai dibutuhkan untuk pekerjaan, tetapi ternyata setelah tahun ke 2000, ketika jurusan X telah lulus, jurusan Y justru yang dibutuhkan dunia kerja.

Contoh tersebut selaras dengan pernyataan Jokowi bahwa sekarang ini kita berada di era disrupsi, yakni era yang sulit dihitung, sulit dikalkulasi, dan penuh dengan risiko-risiko.

Oleh sebab itu, untuk menyongsong masa depan perlu adanya sebuah penguasaan data. Lanjut Jokowi, jawaban atas masalah ini adalah Big Data, dan karena itulah alasannya memilih Nadiem, sosok yang perusahaannya – Gojek – telah mahir berkecimpung dalam pengelolaan Big Data tersebut.

Big Data sendiri yang memiliki kemampun dalam mengolah data yang sangat banyak dan cepat memang telah lama dipergunakan untuk merumuskan kebijakan publik ataupun kebijakan yang membutuhkan kecepatan dan skala data besar lainnya.

Memahami hal tersebut, mungkin sudah mulai terlihat mengapa Nadiem dipilih.

Ya, karena Nadiem adalah seorang pebisnis startup yang kesehariannya menggunakan Big Data. Dengan kesuksesannya bersama Gojek, ini jelas menunjukkan Nadiem sukses pula menerapkan Big Data yang memang menjadi pranata utama dalam bisnis berbasis digital tersebut.

Menuju SDM Unggul

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa link and match ini vital untuk diwujudkan?

Jawabannya terdapat pada pidato pelantikan Jokowi 20 Oktober 2019 lalu. Saat itu, Jokowi menjelaskan terkait bonus demografi yang merupakan tantangan sekaligus kesempatan besar.

Indonesia sendiri oleh banyak pihak memang dinilai tengah mengalami bonus demografi, di mana jumlah usia produktif melebihi usia non-produktif yang diprediksi pada tahun 2030-2040 akan mencapai 64 persen.

Lantas, kira-kira apa masalah yang timbul dengan adanya bonus demografi? Tentu saja adalah masalah penyediaan lapangan kerja.

Jika hal tersebut tidak diselesaikan, maka Indonesia akan terus mengalami peningkatan jumlah pengangguran yang berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir stagnan di angka 5 persen.

Di titik ini, terlihat begitu vital peran link and match karena dapat menjadi jawaban atas tingginya angka pengangguran ataupun potensi peningkatan pengangguran di masa depan.

Akan tetapi, untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap kerja serta membantu peningkatan pertumbuhan ekonomi yang pernah dijanjikan Jokowi sebesar 7 persen, sekedar mewujudkan link and match saja tidaklah cukup.

Masalah pendidikan yang harus diselesaikan Nadiem, bukan hanya persoalan regulasi, birokrasi atau prosedural semata, melainkan juga harus mampu mengembangkan pendidikan berbasis critical thinking.

Oleh banyak pihak, saat ini sistem pendidikan Indonesia masih menerapkan penguasaan materi berbasis hafalan yang membuat tingkat penguasaan materi menjadi rendah.

Atas masalah ini, pemerintah tengah mengupayakan pengembangan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang dapat melatih kemampuan critical thinking.

Merujuk pada taksonomi Bloom, penguasaan materi berbasis hafalan memang merupakan hierarki terendah, dan analisis serta evaluasi menempati hierarki tertinggi.

Pada akhirnya, kita dapat melihat berbagai korelasi mengapa Nadiem dipilih Jokowi sebagai Mendikbud. Dirinya adalah sosok yang dinilai dapat membawa perubahan regulasi, birokrasi, ataupun mewujudkan link and match melalui penerapan Big Data.

Pemilihan Nadiem sendiri, merupakan kebijakan jangka panjang yang dapat kita maknai bahwa dirinya akan menjadi pionir perubahan yang akan meletakkan batu pertama. (R53)

Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.