Meneladani Jejak Antikorupsi Bung Hatta

Hatta antikorupsi
Mohammad Hatta (Foto: Historia)
2 minute read

“Tuhan, terlalu cepat semua. Kau panggil satu-satunya yang tersisa proklamator tercinta,” – Iwan Fals, Bung Hatta


PinterPolitik.com

Prihatin. Mungkin itu yang dirasakan oleh banyak aktivis dan masyarakat lain yang antikorupsi. Tahun 2019 dipandang berat karena berbagai upaya pemberantasan korupsi sepertinya mendapatkan beragam hambatan.

Nah, nuansa prihatin itu dirasakan pula oleh Natalia Soebagjo salah satu pengurus perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA). Saking prihatinnya, perkumpulan tersebut memutuskan untuk tidak memberikan penghargaan BHACA kepada siapapun di tahun ini.

Hmmm, sedih ya. Masa sih, saat ini gak ada sosok yang bisa dianggap punya komitmen antikorupsi sehingga bisa diberi penghargaan itu?

Mungkin, kita jadi harus merefleksikan jauh hingga ke era sosok yang namanya dijadikan penghargaan itu, yaitu Mohammad Hatta. Siapapun sepertinya bisa meneladani sosok proklamator ini agar upaya pemeberantasan korupsi di negeri ini gak dideskripsikan dengan kata “prihatin”.


Kalau kata Iwan Fals, Bung Hatta ini dianggap sebagai sosok yang jujur, lugu, dan sederhana. Kata-kata itu, sebenarnya cukup tergambar dalam kiprahnya selama mewarnai perjalanan republik ini.

Berbeda dengan pejabat saat ini yang senang mendapatkan banyak fasilitas negara bahkan menyelewengkannya, Bung Hatta justru menghindari hal itu, bahkan untuk urusan yang dianggap kecil sekalipun.

Misalnya, Bung Hatta pernah menegur putrinya Gemala Hatta karena mengirim surat pakai amplop dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney. Menurut Bung Hatta, surat Gemala kan surat pribadi, bukan surat dinas, jadi jangan pakai amplop konsulat.

Selain itu, ada juga kisah Bung Hatta yang menolak menggunakan mobil dinas untuk menemui ibunya sendiri. Loh, bukannya biasa aja ya bepergian dengan mobil dinas? Orang juga gak akan protes kalau pejabat yang pergi pakai mobil dinas itu sekelas Bung Hatta.

Wapres RI pertama itu sepertinya gak setuju dengan anggapan tersebut. Menurutnya, mobil itu bukan kepunyaannya, sehingga ia tidak bisa menggunakan mobil dinas untuk urusan pribadi.

Wah, pantesan aja nama Bung Hatta diabadikan jadi penghargaan antikorupsi di negeri ini. Untuk urusan kecil aja, kalau membebani negara beliau gak mau. Kalau pejabat sekarang seperti apa ya kalau diberikan situasi seperti itu?

Makanya mungkin, pantas aja BHACA gak diberikan di tahun ini soalnya gak semua pejabat merefleksikan kehidupan sang proklamator. Kalau misalnya penghargaan itu dipaksakan diberikan dalam kondisi seperti sekarang, mungkinkah dia akan setuju atau justru akan menangis? (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.