Menanti Kartu Merah Nadiem Makarim

Nadiem Basically Anak Jaksel
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. (Foto: Antara)
2 minute read

“Aku bisa saja menjadi seperti virus yang melumpuhkanmu,” – Slank, Virus


PinterPolitik.com

Perkara kekerasan seksual sepertinya gak mengenal lokasi ya. Mau di tempat umum maupun ruang privat, ada aja kelakuan yang bikin geram ini. Hal ini bahkan termasuk di lingkungan institusi pendidikan baik di sekolah maupun di kampus. Sebal ya.

Adanya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan ini kemudian membuat sejumlah orang berunjuk rasa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Aliansi Gerakan Perempuan melakukan demonstrasi sebagai bentuk solidaritas kepada kasus kekerasan yang terjadi di kampus.

Gerakan ini bisa dibilang menyentuh poin yang penting. Kalau diingat-ingat, beberapa waktu yang lalu sempat ada kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus sekelas Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain itu, ada pula pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosen kepada mahasiswi di Universitas Negeri Padang (UNP).

Sebenarnya, mungkin ada banyak lagi kasus kekerasan di lingkungan institusi pendidikan. Sebuah potret miris dan ironis dari lingkungan yang harusnya tampak lebih terdidik.

Isu ini jelas kemudian menjadi perhatian bagi Mendikbud Nadiem Makarim. Kalau menurut pendapat pribadi mantan CEO Gojek itu, pelaku kekerasan seksual itu seharusnya bisa langsung dikeluarkan. Dengan kata lain, Pak Nadiem mungkin mendamba ada kartu merah kepada pelaku kekerasan seksual.

Sayangnya, Pak Nadiem mengaku kalau kemeneteriannya belum menemukan instrumen yang tepat buat menangani perkara tersebut di lingkungan institusi pendidikan. Ia mengatakan harusnya bisa ditemukan instrumen yang mencegah kekerasan seksual itu terjadi.

Hmmm, sebagai seorang menteri yang ingin memberi kartu merah, mungkin Pak Nadiem bisa membuat peraturan yang tepat. Sekarang ini kan udah ada Permendikbud No. 82 tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan, tapi dianggap belum efektif.

Nah, di institusi yang bisa memberikan kartu merah yaitu induk olahraga sepakbola FIFA atau kompetisi sepakbola tertentu, umumnya ada revisi terhadap aturan terhadap syarat keluarnya kartu merah. Pak Nadiem mungkin bisa belajar dari hal itu.

Kalau misalnya Pak Nadiem serius ingin memberi kartu merah, idealnya sih ada banyak yang bisa dilakukan. Kan bingung juga kalau institusi pendidikan malah punya kekerasan seksual, mana akhirnya suka damai lagi, bukannya diberi kartu merah. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.