Menanti Eggboy Indonesia

Eggboy Indonesia
Eggboy dan Fraser Anning. (Foto: Istimewa)
6 minute read

Will Connolly, sang Eggboy, menjadi pahlawan para netizen karena mampu mewakili kemarahan mereka pada Senator Fraser Anning. Mungkinkah sosok seperti itu hadir juga di Indonesia?


Pinterpolitik.com

Netizen di seluruh dunia tampaknya telah menemukan pahlawan baru bagi mereka. Adalah Will Connolly atau dikenal sebagai Eggboy, bocah berumur 17 tahun asal Australia yang menjadi sosok pahlawan itu.

Sambutan baik kepada sang Eggboy memang tak main-main. Sang bocah melakukan tindakan yang cukup berani dengan memecahkan telur di kepala Senator Australia Fraser Anning. Sang senator sendiri sebelumnya menuai kecaman karena pernyataannya berbau fasisme dan rasisme kala membahas penembakan di Christchurch, Selandia Baru.

Banyak orang menganggap bahwa sang Eggboy mewakili kemarahan mereka kepada sosok rasis seperti Anning. Oleh karena itu, dukungan bertubi-tubi diberikan kepada Connolly, mulai dari pujian hingga bantuan dana melalui laman GoFundMe.

Sebenarnya, kemarahan masyarakat pada politisi boleh jadi tidak hanya terjadi di Australia. Masyarakat Indonesia misalnya, juga boleh jadi telah muak dengan perilaku politisi Tanah Air yang sama-sama bersikap rasis seperti Anning. Belum lagi, para politisi di negeri ini juga dikenal dengan perilaku korupnya.


Merujuk pada hal tersebut, boleh jadi perlu ada sosok yang mau mengekspresikan kemarahan tersebut di Indonesia. Lalu, akankah ada sosok serupa Eggboy di negeri ini?

Kemarahan pada Politisi

Eggboy menjadi fenomena yang menarik perhatian netizen di seluruh dunia. Bagaimana tidak, ia mau mewakili kemarahan masyarakat dunia pada Anning yang memberikan pernyataan kontroversialtentang penembakan di Selandia Baru.

Anning sendiri boleh jadi layak menjadi sasaran kemarahan warga dunia. Komentarnya tentang penembakan tersebut tidak hanya kontroversial, tetapi juga tidak sensitif terhadap korban. Alih-alih bersimpati, ia justru menyalahkan imigran Muslim sebagai penyebab dari aksi terorisme tersebut. Tak cukup sampai di situ, ketika pernyataannya itu menjadi bulan-bulanan netizen, sang senator justru tak menyesal apalagi meminta maaf.

Eggboy kemudian menjadi perwakilan masyarakat dunia untuk “menghukum” Anning. Merasa kejengkelan mereka pada Anning terwakili sang Eggboy, para netizen kemudian melakukan penggalangan dana untuknya. Tujuan dari penggalangan dana ini sendiri cukup nyeleneh. Tak hanya ditujukan untuk membantu proses hukum Eggboy, dana tersebut juga dikumpulkan untuk membeli telur-telur baru.

Sang Eggboy kemudian dianggap sebagai pahlawan karena mampu mewakili kejengkelan masyarakat dunia kepada Anning. Hal ini menjadi semakin kuat karena Connolly memutuskan dana yang dikumpulkan para netizen akan digunakan untuk membantu korban penembakan di Selandia Baru tersebut.

Kemarahan kepada politisi-politisi di kursi kekuasaan kerap kali jadi hal yang mempersatukan masyarakat. Hal ini menjadi gambaran dari bagaimana pada umumnya masyarakat memang jengah pada politisi dan perilakunya saat menjabat. Fenomena dukungan masyarakat dunia kepada Eggboy dapat menjadi contohnya.

Masyarakat yang marah sendiri dianggap sebagai aktor politik yang cukup diperhitungkan. Hal ini diungkapkan oleh Srirupa Roy saat membahas kemarahan masyarakat di India. Menurutnya, kemarahan ini cenderung dibentuk secara sejarah dan tertanam secara sosial-politik, alih-alih perasaan yang sifatnya individu.

Merujuk pada pendapat tersebut, kemarahan masyarakat kepada para politisi tak bisa dianggap sebagai ekspresi biasa saja. Ada akumulasi kekesalan yang menumpuk dan juga diisi oleh faktor-faktor yang sifatnya politis di dalamnya.

Tidak hanya lazim, kemarahan ini dalam kadar tertentu, diperlukan di dalam politik. Menurut Peter Lyman, tanpa kemarahan, politik akan kekurangan suara orang lemah yang mempertanyakan keadilan dari kelompok berkuasa. Tak hanya itu, kemarahan juga dianggap sebagai pembuka bagi dialog politik yang konstruktif.

Mengutip Lyman, kemarahan idealnya diperlakukan secara serius sebagai sebuah cara berkomunikasi, alih-alih dianggap kelainan atau perilaku menyimpang. Oleh karena itu, idealnya kemarahan masyarakat ditanggapi dengan empati dan tidak direspons dengan pembungkaman.

Mencari Penghukum Politisi

Berdasarkan kondisi tersebut, terlihat wajar jika masyarakat Indonesia perlu sosok yang bisa mengekspresikan kemarahan mereka kepada para politisi. Marah tak melulu dianggap sebagai sesuatu yang negatif, tetapi menjadi hal yang perlu di dalam politik.

Ada beberapa hal yang membuat masyarakat Indonesia sangat wajar untuk marah kepada aktor-aktor politik tanah air. Sebagaimana disebut Roy, kemarahan masyarakat ini memang terbentuk seiring dengan berjalannya waktu.

Indonesia butuh sosok seperti Eggboy untuk mengekspresikan kemarahan masyarakat kepada politisi. Click To Tweet

Beberapa waktu terakhir ini misalnya, masyarakat Indonesia mengalami hal serupa dengan yang terjadi di Australia. Banyak politisi yang dalam strategi kampanyenya menggunakan politik identitas yang memecah belah bangsa. Perkara anti asing dan aseng kerap menjadi salah satu cara kampanye dari para politisi tanah air. Selain itu, isu pribumi dan identitas agama juga kerap muncul dalam kampanya mereka.

Hal ini tentu belum termasuk dengan kemarahan-kemarahan lain yang lebih dahulu muncul akibat perilaku korup para politisi. Masyarakat Indonesia sudah sejak lama harus menerima fakta bahwa dana yang idealnya digunakan untuk seluas-luasnya manfaat bagi rakyat, justru lenyap di saku para politisi.

Ada pula kemarahan masyarakat yang muncul akibat janji-janji politik yang tak ditepati. Mulut politisi di masa kampanye memang berbunga dan penuh janji surga. Akan tetapi, ketika akhirnya terpilih, mereka seolah mengalami amnesia mendadak dan ingkar akan janji-janji kampanye mereka.

Merujuk pada hal-hal tersebut, tampaknya Indonesia butuh sosok seperti Will Connolly, sang Eggboy kesayangan netizen. Para politisi tersebut sudah terlalu lama berbuat demikian, sehingga mereka perlu mendapat hukuman dari masyarakat yang mempercayakan mereka duduk di kursi kekuasaan.

Memang, cara yang ditempuh tak harus benar-benar serupa yang dilakukan oleh Connolly. Bagi beberapa orang, cara itu terlampau ekstrem dan bisa saja mengandung konsekuensi hukum. Meski begitu, bukan berarti para politisi yang menjengkelkan itu bisa berlalu begitu saja dari amarah warga. Walau bagaimanapun, mereka tetap perlu mendapatkan “hukuman” atas perilaku-perilaku yang membuat geram masyarakat.

Dalam kadar tertentu, salah satu cara paling halus untuk bertindak bak Eggboy adalah dengan mengekspresikan diri di bilik suara. Para politisi tersebut dapat dihukum dengan cara tidak lagi dipilih pada gelaran Pemilu.

Di luar itu, ada banyak cara ekspresif lain yang dapat ditempuh tanpa harus melakukan kontak fisik dengan para politisi yang dapat memicu gugatan hukum. Yang jelas, para politisi tersebut perlu mengetahui bahwa masyarakat sudah sangat kesal kepada mereka.

Sebagaimana disebutkan oleh Lyman di atas, ekspresi marah kepada para politisi Indonesia diperlukan karena ini adalah salah satu cara berkomunikasi dengan mereka. Kemarahan merupakan cara untuk membangun iklim politik yang dialogis dan tak perlu dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang.

Tanpa ada Eggboy di Indonesia, maka tidak ada sosok yang mampu mewakili suara orang-orang lemah saat berhadapan dengan mereka yang punya kuasa. Padahal, orang-orang yang berkuasa itu tak selalu berlaku adil dan bahkan banyak yang merugikan masyarakat yang mengamanahi mereka.

Pada titik ini, pantas jika ada yang menanti sosok serupa Eggboy hadir di Indonesia. Para politisi tanah air sudah terlalu lama duduk enak di kursinya tanpa harus berhadapan dengan kemarahan serupa emosi Connolly. Lalu, siapakah yang mau menjadi Eggboy-nya Indonesia? (H33)