Menaker dan Benang Kusut TKA Tiongkok

Menaker dan Benang Kusut TKA Tiongkok
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah ketika bersama DPR. (Foto: WartaKan.id)
3 minute read

“Tenaga kerja ada sebelum dan tidak terikat pada modal” – Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Cuy, ada analogi menarik nih terkait kasus yang menimpa Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah saat mengatakan kalau tenaga kerja asing (TKA) dari Tiongkok yang didatangkan ke Indonesia mengemban fungsi transfer of knowledge atau berbagi pengetahuan kepada tenaga kerja lokal.

Padahal nih, ombudsman kita sudah bilang dalam investigasinya bahwa sebagian besar TKA tersebut datang ke Indonesia cuma jadi pekerja kasar. Analogi kasus itu begini, cuy: tahu Alexandre Pato kan? Anak bola pasti tahu lah.

Doi sangat fenomenal di masanya apalagi saat di AC Milan. Namun, seiring perjalanan kariernya, performanya menurun. Bisa dibilang sudah habis skill magisnya di lapangan hijau deh.

Namun, entah bisikan dari mana, tiba-tiba di tahun 2016, saat Pato benar-benar sudah tidak nyaring dielu-elukan oleh fans. Hal ini terjadi ketika si Biru London – sebutan Chelsea – mendatangkannya dari Corinthians.

Awalnya sih, Pato sempat menjawab keraguan dengan menyumbangkan satu gol kala melawan Aston Villa. Dan, ternyata itu jadi gol pertama dan terakhirnya bersama Chelsea. Kayak menyesal, Chelsea pun akhirnya mendepaknya balik ke Corinthians lagi.

Maka, tidak heran deh kalau pembelian Pato ini dianggap sebagai ‘hanya kepanikan Chelsea’. Ya kasihan Pato, sih, tapi lebih kasihan Chelsea deh, cuy. Pasalnya, ini menyangkut kesuksesan komunal bukan individual.

Ya, hampir sama dengan kasus Pato dan Chelsea, Indonesia soal TKA Tiongkok ini dikhawatirkan juga begitu. Soalnya nih, kedatangannya TKA saja sudah menggambarkan seakan Indonesia lagi panik ekonomi.

Bayangkan lho di tengah pandemi bukannya manfaatkan tenaga lokal, eh, malah TKA. Sudah gitu, alih-alih seperti Bu Menaker berharap TKA ini bisa jadi media untuk transfer knowledge, eh, lha kok dilihat dari investigasi Ombudsman pun, komposisi tenaganya justru kebanyakan diisi pekerja kasar.

Ya, mimin sih jujur aja nggakpapa kalau Menaker mendatangkan TKA – asal dari unsur tenaga ahli lah, biar serius gitulho transfer pengetahuannya. Kalau cuma tenaga kasar, yang lokalan sudah melimpah ruah. Tahan banting pula.

Mimin curiga deh ada kepentingan di belakang ini. Bau-baunya tercium saat mimin melihat aktor yang nyaring suaranya justru Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Panjaitan. Ini ketika doi meminta agar berbicara soal TKA Tiongkok dalam rapat dengan tiga menteri lainnya, yakni Yasonna Laoly (Menteri Hukum dan HAM), Ida Fauziah (Menaker), dan Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri).

Itu aneh, cuy, soalnya yang layak bicara nih justru ketiga menteri yang memilih diam itu. Kecurigaan mimin bertambah apalagi Yasonna menyebut bahwa Pak Luhut diberi waktu bicara lebih banyak soalnya ini berkaitan dengan investasi.

Lha kalau memang investasi, otomatis kan ada hukum ‘kalau bagus, ya dilanjut’. Terus andai benar, buat apa pernyataan Bu Ida soal durasi kontrak dan hanya transfer of knowledge? Jujur saja deh, kalau ternyata nanti memuaskan, pastinya lanjut kan? Hadeuh. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.