Memahami Politik Melalui Language Games

Memahami Politik dengan Language Games
Politk ibarat bermain catur (Foto: Qureta)
4 minute read

Sering kali tidak berlakunya politik naratif di tataran politik praktis mungkin membuat kita geram. Akan tetapi, adanya perbedaan antara politik normatif dan politik praktis tersebut dapat kita pahami dengan lebih baik menggunakan konsep language games atau permainan bahasa.


PinterPolitik.com

Seperti kata pepatah “tak dikenal maka tak sayang,” maka pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan diri kepada pembaca sekalian. Nama saya adalah Muhammad Musfi Romdoni atau biasa dipanggil Musfi. Tapi kalau lagi ke tempat laundry pakaian atau ke tempat service motor, saya kerap memperkenalkan diri sebagai Dani supaya lebih mudah dieja. Hehe

Saya sebelumnya berkuliah di jurusan ilmu filsafat di Universitas Indonesia. Sedikit banyaknya, latar belakang pendidikan tersebut mempengaruhi berbagai tulisan saya di PinterPolitik. Oh iya, sebelumnya saya adalah salah satu penulis di kolom In-Depth di PinterPolitik. Itu looo, artikel yang bacanya bikin rada males karena panjang dan bikin pusing.

Tidak hanya memperkenalkan diri, pada kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, rekan-rekan, dan para pembaca sekalian yang sudah membaca, memberikan like, ataupun membagikan tulisan saya selama ini.

Kendati tentunya masih terdapat kekurangan dari berbagai sisi dalam tulisan saya, tapi bukankah “tiada gading yang tak retak”? Justru karena berbagai kekurangan tersebut lah yang memberikan saya ruang untuk terus memperbaiki dan mengembangkan tulisan ke depannya.


Tidak hanya saya, bahkan para pemikir besar seperti para filsuf nampaknya juga memiliki kesadaran akan pengembangan diri yang serupa. Misalnya saja filsuf besar logika, Ludwig Wittgenstein. Filsuf yang disebut oleh fisikawan mahsyur, Stephen Hawking sebagai filsuf paling terkenal di abad 20 ini, dengan lapang dada menyadari terdapat kesalahan dalam magnum opus atau karya terbesarnya, Tractatus Logico-Philosophicus.

Judul bukunya aja udah rumit banget kan? Tidak hanya judulnya, isinya juga bukan main rumitnya. Tapi, buku tersebut bukan rumit karena isinya penuh dengan kontradiksi, melainkan karena gaya penulisan buku tersebut yang tidak berbentuk deskriptif, melainkan berbentuk seperti daftar isi atau poin per poin. Oleh karenanya, tidak hanya karena kontennya yang memang begitu berat, melainkan juga karena gaya penulisan dalam buku tersebut yang menambah kerumitan tersendiri di dalamnya.

Menariknya, kendati Wittgenstein dikenal sebagai sosok yang keras kepala – karena terlalu pintar sepertinya. Ia dengan lapang dada mengakui kesalahan gaya penulisan dalam magnum opus-nya, Tractatus Logico-Philosophicus. Pengakuan tersebut ditulisnya di bagian pembukaan dalam bukunya yang banyak menginspirasi para filsuf kontemporer, yakni Philosophical Investigations.

Dalam pengakuannya tersebut, Wittgenstein menulis bahwa dirinya telah begitu angkuh atau sombong karena telah memaksakan pemikirannya dalam Tractatus Logico-Philosophicus untuk dipahami atau diterima oleh banyak orang. Ia kemudian menyadari bahwa gaya penulisannya dalam buku tersebut telah membuat banyak orang kebingungan dan terjadilah misinterpretasi yang tidak terhindarkan.

Benturan Politik Praktis dengan Politik Normatif

Menariknya, konteks pemikiran Wittgenstein ini, khususnya dalam Philosophical Investigations yang menjelaskan tentang language games atau permainan bahasa, dapat membantu kita untuk memahami terkait mengapa terjadi perbedaan yang sering kali berbenturan antara politik normatif dengan politik praktis.

Mengacu pada language games yang menekankan pada setiap bahasa memiliki aturan mainnya tersendiri, itu berkonsekuensi bahwa aturan main dalam politik praktis seyogyanya memang harus dipahami berbeda dengan aturan main dalam politik normatif yang kerap kita baca di buku-buku ataupun kita dengar di kelas-kelas.

Akan tetapi, itu tidak menandakan bahwa antar bahasa, yaitu bahasa politik praktis dan politik normatif lantas tidak dapat diperbandingkan. Menurut Wittgenstein, kendati memiliki aturan main tersendiri, bahasa-bahasa tersebut tetap dapat saling mengoreksi atau berkomunikasi satu sama lain.

Artinya adalah, memang harus disadari bahwa politik praktis bernaung di bawah konsep gain power atau keinginan untuk memperoleh kekuasaan, namun harus dipahami juga kalau politik normatif dapat mengkritik politik praktis tersebut, dan begitu pula sebaliknya. Bagi Wittgenstein, kendati terdapat aturan main tersendiri, akan terdapat hal-hal yang membuat tiap-tiap bahasa dapat berkomunikasi seperti objek pembahasan yang sama – yang pada konteks ini adalah dinamika politik.

Penjelasan Wittgenstein bahwa terdapat aturan main di setiap bahasa, tidak berarti bahwa bahasa-bahasa tersebut berdiri masing-masing, melainkan sebatas untuk menjelaskan bahwa terdapat konsep yang menaungi setiap bahasa itu sendiri.

Seperti kata Wittgenstein: ”If we spoke different language, we would perceive a somewhat different world.

Maksudnya adalah, setiap bahasa akan memberikan sudut pandang tertentu dalam melihat dunia. Mereka yang menggunakan kacamata politik normatif tentu melihat politik secara normatif atau ideal. Namun, mereka yang menggunakan kacamata politik praktis, akan melihat politik secara oportunis.

Pada akhirnya, kita sepertinya memang harus bersikap realistis atau lumrah terkait dinamika politik yang terjadi. Suka tidak suka, bagi mereka menjalankan politik praktis, gain power adalah hal yang tidak dapat dihindarkan.

Ya, sekian dulu sepertinya perkenalan diri saya ataupun sedikit mengenal pemikiran Wittgenstein. Hehe

Sampai jumpa di tahun baru, semoga momentum pergantian tahun ini membawa kita ke arah yang lebih baik.

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.