Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

Budiman dan kawan-kawan
Budiman Sudjatmiko di masa persidangan tahun 1996 (Foto: Reuters)
3 minute read

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar


Pinterpolitik.com

Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri keluar kelas mengambil jaket almamater lusuh mereka untuk menyuarakan keresahan mereka terkait dengan kondisi terkini. Mereka tampak begitu geram kepada pemerintah dan DPR dan sepakat soal satu hal: #ReformasiDikorupsi!

Wah, kalau sudah begini, bulu kuduk kita semua pasti akan merinding. Semua pasti ingat dengan gerakan mahasiswa di tahun 1998. Kala itu, singa-singa podium jalanan berhasil membuat rezim Soeharto ketar-ketir bahkan hingga lengser dari jabatannnya.

Orang-orang semacam Budiman Sudjatmiko, Adian Napitupulu, atau Masinton Pasaribu jadi sosok-sosok yang amat heroik di zaman itu. Mereka ini bahkan ingin mencoba meneruskan perjuangannya di bawah sinar mentari menjadi di bawah atap gedung DPR dengan menjadi anggota parlemen.

Apa rasanya ya jadi Pak Budiman, Pak Adian, dan Pak Masinton, aktivisi yang didemo oleh adik-adiknya sendiri? Click To Tweet

Nah, sayangnya para aktivis yang besar di 1998 ini sering kali membawa romantisme mereka sebagai aktivis 1998 ini sebagai bahan jualan. Coba liat aja pas Pilpres lalu, orang semacam Adian misalnya memakai label aktivis 98 untuk memberikan dukungan kepada Jokowi.

Kalau diperhatikan Budiman dan kawan-kawan ini ibarat preman pensiun yang masih terus mengenang kenakalannya zaman dulu. Sampai sekarang masih aja menyebut-nyebut perjuangan mereka zaman dulu. Hmmm.

Kita semua mengerti dan dalam kadar tertentu berutang sama perjuangan mereka, apalagi ada yang harus diculik dan ditahan rezim. Tapi zaman ini, adalah miliki generasi sekarang, jadi biarkan mereka ambil kesempatan itu.

Ibarat kata nih, Budiman dan kawan-kawan ini kayak orang susah move on, padahal generasi sekarang punya keresahan yang baru, yang sebenarnya dihadirkan oleh generasi Budiman, Adian, dan Masinton di DPR sekarang.

Ironis ya, Budiman dan kawan-kawan ini justru kini jadi bagian dari pihak-pihak yang didemo oleh mahasiswa. Kita mungkin gak pernah kepikiran kalau aktivis reformasi 98, justru abai pada kemunduran dari perubahan yang mereka bidani. Apalagi Masinton tuh, semangat banget kalau soal potensi pelemahan KPK.

Kalau udah kayak gini, jadi keingetan satu kutipan yang jadi benang merah penting film The Dark Night yaitu, “You either die a hero, or you live long enough to see yourself become the villain.”

Nah, Budiman dan kawan-kawan ini dulu heroik banget pas 1998, tapi sekarang di umur perjuangan parlemennya yang makin panjang, justru tampil seperti penjahat, setidaknya di mata masyarakat, bukan di mata DPR loh ya!

Wah, sayang loh Pak Budiman and the gang kalau cuma kayak preman pensiun susah move on. Idealnya  sih, sejuknya AC gedung DPR tak melupakan perjuangan mereka waktu masih ditiup debu jalanan. Kalau udah lupa gitu, hati-hati aja, mereka yang pernah jadi pahlawan mungkin akan dikenang sebagai penjahat oleh generasi sekarang. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.