Ma’ruf Amin, Tenggelamnya Titanic Jokowi

Ma’ruf Amin, Tenggelamnya Titanic Jokowi
Performa debat Ma'ruf Amin berpotensi jadi penyebab kekalahan Jokowi (Foto: Tirto.id)
7 minute read

Penampilan Ma’ruf Amin pada debat perdana Pilpres 2019 menjadi sorotan banyak pihak. Bahkan sebagian memprediksi sang kiai akan menjadi titik lemah Jokowi pada debat-debat berikutnya, terutama saat head to head melawan Sandiaga Uno. Ma’ruf yang dipilih di saat-saat terakhir pengumuman cawapres, semula mendatangkan kepercayaan diri bagi kubu Jokowi untuk menang mudah. Namun, kini ia berpotensi menjadi alasan kekalahan sang petahana. Faktanya, pilihan-pilihan yang dibuat di detik-detik akhir sering kali mendatangkan tragedi, sama seperti yang terjadi pada kecelakaan Kapal Titanic.


PinterPolitik.com

“We would all like to vote for the best man but he is never a candidate”.

:: Kin Hubbard (1868-1930), kartunis dan jurnalis ::

Salah mengambil keputusan di saat-saat akhir memang seringkali berbuah pada lahirnya tragedi. Kisah tenggelamnya Kapal Titanic akibat menabrak gunung es pada tahun 1912 – yang dianggap sebagai salah satu kecelakaan transportasi komersial terbesar sepanjang sejarah – nyatanya juga terjadi karena keputusan di saat-saat terakhir.

Pasca kejadian tersebut memang terungkap fakta bahwa kecelakaan yang menewaskan 1.500 dari 2.224 penumpang itu terjadi karena keputusan mengganti Second Officer – sebutan untuk salah satu jabatan penting di dek kapal, di bawah Kapten/Nahkoda dan Chief Officer – beberapa saat sebelum kapal berangkat.

David Blair – sang Second Officer yang digantikan – diketahui lupa meninggalkan kunci tempat penyimpanan teropong binokular saat ia meninggalkan kapal tersebut. Akibatnya, saat berlayar, para kru kapal tersebut harus melakukan pengamatan langsung tanpa alat bantu.

Konteks posisi Ma’ruf Amin ini menegaskan kelemahan Jokowi di hadapan partai-partai pendukungnya. Ini menunjukkan bahwa ia tidak mampu melawan keinginan elite-elite parpol. Click To Tweet

Mereka kemudian tidak mampu melihat keberadaan gunung es di depan dan kisah berikutnya adalah seperti yang digambarkan oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet dalam film karya James Cameron.


Kini, kisah serupa tentang keputusan di saat-saat akhir itu juga berpotensi melahirkan tragedi dalam konteks politik elektoral. Adalah keputusan saat-saat akhir Joko Widodo (Jokowi) memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya yang kini disebut-sebut akan mendatangkan tragedi kekalahan untuk calon petahana tersebut.

Pasalnya, pasca debat Pilpres perdana beberapa waktu lalu, berbagai sorotan datang kepada performa Ma’ruf. Politisi senior Amien Rais misalnya, melontarkan kritik dan menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang menonjol pada debat tersebut, salah satunya adalah ia hampir tak melihat peran Ma’ruf.

Pada debat tersebut, sang kiai memang tidak banyak bicara. Terhitung ia hanya berbicara selama 4 menit 1 detik. Bandingkan dengan Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo Subianto yang sekalipun juga sedikit berbicara, namun masih lebih lama dibandingkan Ma’ruf. Ia total menghabiskan 7 menit 25 detik.

Atas dasar itulah banyak yang menyebut penampilan Ma’ruf tenggelam selama acara tersebut. Bahkan, performa Ma’ruf di debat perdana dianggap sebagai salah satu titik lemah Jokowi. Sang kiai berkilah bahwa ia sebagai cawapres memang tidak harus berbicara banyak. Apalagi, berbagai pertanyaan yang harus dijawab oleh kubunya berhubungan dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi.

Persoalan ini sempat diulas oleh portal berita asal Jepang, Nikkei Asia Review sehari pasca debat. Ma’ruf bahkan disebut sebagai weak link – mata rantai yang lemah – bagi keinginan Jokowi untuk berkuasa di periode berikutnya.

Konteks dampaknya juga akan semakin besar karena pada debat ketiga nanti, sang kiai akan head to head dengan Sandi yang nota bene dari sisi usia jauh lebih muda. Jika Ma’ruf tidak mampu tampil baik, bukan tidak mungkin hal itu akan menjadi titik lemah untuk Jokowi. Tentu pertanyaannya adalah apakah hal ini bisa menjadi faktor yang memungkinkan “Titanic” Jokowi tenggelam di Pilpres nanti?

Confidence Trap, Bahaya Jokowi

Pasca memilih Ma’ruf Amin, kubu Jokowi memang percaya diri akan memenangkan kontestasi Pilpres 2019 dengan lebih mudah. Pasalnya, Ma’ruf dianggap sebagai penetralisir riuh politik identitas yang menjadi warna utama beberapa tahun terakhir. Sang kiai juga dianggap sebagai win-win solution kepentingan partai-partai koalisi Jokowi.

Dengan statusnya sebagai ulama paling powerful di Indonesia berbekal jabatannya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), tentu saja kubu Jokowi – terutama partai-partai pengusungnya – percaya diri terhadap pilihan politik tersebut.

Walaupun demikian, track record Ma’ruf dengan segala fatwa kontroversialnya terhadap kelompok minoritas – termasuk dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – telah diprediksi akan menjadi beban tersendiri bagi Jokowi. Hal itu salah satunya ditulis oleh Greg Fealy dari Australian National University (ANU). Menurut Fealy, Ma’ruf bisa menjadi beban bagi Jokowi serta menjadi ganjalan pemenangannya.

Konteks ini juga sejalan dengan fakta bahwa secara personal, Jokowi lebih menyukai sosok Mahfud MD. Mahfud adalah kandidat yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari, namun gagal terpilih karena benturan kepentingan politik partai-partai koalisi di saat-saat akhir.

Kini, potensi beban politik yang disebut Fealy menjadi bertambah besar dengan aktivitas debat politik yang harus dihadapi oleh Ma’ruf Amin yang sudah berusia sepuh.

Pasalnya, debat kandidat adalah salah satu bentuk kampanye politik paling penting yang menjadi alat publik untuk menilai calon pemimpin yang akan dipilih. Thomas Holbrook – profesor Ilmu Politik dari University of Wisconsin-Milwaukee, Amerika Serikat (AS) – dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa debat Pilpres adalah “ujian paling ketat” untuk melihat efektivitas kampanye politik yang dilakukan oleh para kandidat.

Menurutnya, debat menjadi sangat penting karena merupakan cara publik mengetahui program, karakter dan tampilan calon pemimpinnya, apalagi jika debat-debat tersebut ditayangkan di televisi.

Hal ini misalnya bisa dilihat pada debat Pilpres AS tahun 1960 yang merupakan momen pertama kali aktivitas tersebut disiarkan di televisi nasional. Penampilan John F. Kennedy – calon dari Partai Demokrat – yang muda dan energik mendominasi Richard Nixon – calon dari Partai Republik – yang gugup dan berkeringat. Hasilnya? Kennedy memenangkan pertarungan pada Pilpres kala itu.

Sejak momen Kennedy vs Nixon tersebut, konteks debat Pilpres memang selalu dinanti dan signifikansinya terus meningkat.

Pada titik inilah, konteks performance debat Ma’ruf Amin bisa menjadi kuncinya. Sekalipun Jokowi sebagai capres adalah penentu utamanya, namun posisi cawapres tidak bisa dianggap remeh. Jules Witcover, seorang jurnalis politik dan penulis buku The American Vice Presidency: From Irrelevance to Power, menyebutkan bahwa cawapres telah menjadi posisi yang penting dalam kampanye elektoral.

Salah memilih dan performa cawapres yang buruk, bisa berujung pada kekalahan, misalnya yang terjadi pada John McCain yang kalah karena performa Sarah Palin, sang cawapres. (Baca: Sandi Mencuri Panggung Debat) 

Dengan demikian, memang ada confidence trap – perangkap kepercayaan diri – yang terjadi pada kubu Jokowi. Istilah ini – meminjam judul buku David Runciman, profesor politik dari University of Cambridge – tentu saja berbahaya untuk Jokowi.

Kubu petahana memang terlihat over confidence dengan pilihan politik yang diambil di saat-saat akhir lewat penunjukan Ma’ruf Amin sebagai cawapres karena merasa akan aman dari serangan politik identitas. Namun, pada saat yang sama, mereka terjebak pada proses politik yang sangat mungkin membuat Jokowi kalah di Pilpres tahun ini.

Jokowi Terjebak Partai Koalisi

Lalu, apakah Titanic Jokowi akan benar-benar tenggelam di Pilpres kali ini?

Jawabannya sebetulnya tergantung pada bagaimana sang kiai dikemas dalam debat-debat yang akan datang. Selain itu, masih ada keuntungan pada diri Ma’ruf sebab oposisi tidak akan mengritiknya secara langsung karena takut kehilangan potensi dukungan dari kelompok-kelompok Islam. Apalagi, sang kiai masih menjabat sebagai Ketua MUI non-aktif.

Selain itu, ada kemungkinan rasionalitas pemilih akan jadi faktor penentu hasil akhir. Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu adalah salah satu contoh bagaimana irasionalitas menjadi kunci kekalahan Ahok – sosok yang kinerjanya diapresiasi oleh 70 persen warga Jakarta, namun tidak dipilih akibat faktor penistaan agama.

Artinya, jika konteks pemilih di Pilpres kali ini didominasi oleh kelompok irasional – yang memilih bukan berdasarkan penilaian terhadap program dan kinerja saja – maka posisi Jokowi-Ma’ruf masih cukup aman.

Namun, hal sebaliknya akan terjadi jika pemilih rasional-lah yang mendominasi. Apalagi debat-debat Pilpres adalah salah satu proses untuk merasionalisasi kontestasi elektoral. Dengan demikian, potensi kekalahan Jokowi akan semakin besar jika penampilan Ma’ruf mengecewakan di debat-debat mendatang.

Pada akhirnya, konteks posisi Ma’ruf Amin ini menegaskan kelemahan Jokowi di hadapan partai-partai pendukungnya. Ini menunjukkan bahwa sang presiden tidak mampu melawan keinginan elite-elite parpol dan kini terjebak pada fakta makin kuatnya potensi kekalahan itu terjadi.

Yang jelas, pilihan-pilihan yang dibuat di saat-saat akhir memang punya potensi menjadi tragedi, sama seperti saat Titanic tenggelam. Pemandangan yang kini terlihat di hadapan publik adalah pertaruhan konteks kemenangan dalam demokrasi, terutama bagi para pendukung Jokowi.

Sebab, seperti kata Kin Hubbard di awal tulisan, mereka ingin memilih kandidat terbaik, namun nama yang bersangkutan tidak ada di surat suara. (S13)