Mahfud, ‘Pembocor Aib’ Pilkada

Mahfud, ‘Pembocor Aib’ Pilkada
Mahfud MD. (Foto: Beritasatu)
2 minute read

“Buah yang manis hanya bisa dipetik dari pemilihan bibit yang baik dan cara menanam yang benar.”


PinterPolitik.com

[dropcap]B[/dropcap]agaimana kita bisa menggantungkan harapan pada pemimpin yang menang dari kontestasi politik yang amat curang dan jauh dari kata ideal. Terlebih ada yang muncul sebagai pemimpin tanpa konsepsi. Heuh!

Kini rasanya tak asing deh, bahkan masih terdengar sayup – sayup adanya perilaku para calon kepala daerah yang menghalalkan segala cara untuk merebut singgasana kekuasaan, weleeeh weleeeh. Sedari awal aja sudah begini, gimana nantinya kalau terpilih, ahhh syudahhhlah.

Semua kembali pada niat awalnya sih, makanya kalau sedari awal kekuasaan itu ingin direbut hanya untuk memperkaya diri dan melenggangkan kuasa sewenang – wenang, hadeuuhhh patut dilawan dan rasanya patut juga untuk dibumihanguskan, wadidawww.

Seharusnya sih kekuasaan itu dimanfaatkan untuk menyejahterakan rakyatnya, sehingga akan berdampak pada proses perebutan kekuasaan yang hanya dilandaskan pada pertarungan ide, bukan pertarungan uang.


Hadeuuuh, susah deh kalau uang udah ikut campur urusan politik, bisa jadi buta semuanya, ahhh syudahhhlah, miris betul.

Makanya ga aneh kalau Mahfud MD, pakar hukum tata negara yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi membocorkan aib kalau semua Pilkada itu pasti curang. Kalau ga curang ya ga akan menang kali ya, weleeeh weleeeh.

Sekotor itukah jalan kalau mau jadi kepala daerah? Waduhhh, ga ada gitu cara yang lebih punya makna ideal, masa kalau mau jadi kepala daerah mau tak mau harus pake cara kotor sih, ahhh syudahlah.

Yang begini nih yang bikin rusak makna politik, nantinya kan jadi diidentikkan dengan praktik yang kotor. Makanya coba ubah. Weeeeiittsss, ga sesederhana itu juga kali ubahnya, weleeeh weleeeh.

Nah makanya simak ada tiga pilihan kalau punya niatan maju jadi kepala daerah dengan kondisi yang kayak begini.

Pertama, calon harus punya hoki saat mencalonkan diri, karena para ‘pemain’ politiknya lagi ngolah calon yang lain, otomatis kita jadi bersih kan? Lolos dah, tapi bentaran doang, nanti kan pasti ketemu lagi, yah mau ga mau jadi kotor dah, weleeeh weleeeh.

Kalau yang kedua, sedari awal mencalonkan itu memang bersih, semua praktik politiknya bersih, tapi gara-gara kondisinya kotor, mau tak mau harus rela tumbang karena dicurangi, hmmm, karakter yang begini harus bisa sabar, hmmm.

Yang ketiga itu, mencalonkan diri dan ikuti arusnya yang penting menang dulu, nah kalau udah terpilih baru deh paksakan bersihin praktik kotornya.

Berisiko semuanya ya, hmmm, masa ga ada cara lainnya sih, ahhh syudahlah. (Z19)