Mahfud Minta Media Setop Bertanya

Mahfud Minta Media Setop Bertanya
Menko Polhukam Mahfud MD ketika ditanyai di kantornya. (Foto: Gatra)
2 minute read

“Press, press, press, press, press. Cardi don’t need more press” – Cardi B, penyanyi rap asal Amerika Serikat


PinterPolitik.com

Menjadi aneh apabila pejabat jarang muncul di pemberitaan media. Wakil Presiden Ma’ruf Amin misalnya, kemarin menjadi sorotan publik karena jarang terlihat di berbagai pemberitaan pers.

Mungkin, bukan pejabat kalau misalnya tidak dikejar-kejar para awak media. Bagi para pewarta, ungkapan, sikap, kebiasaan, hingga tingkah laku pejabat memang kerap menjadi bahan berita yang menjanjikan.

Soal kebijakan pemerintah dalam memulangkan para warga negara Indonesia (WNI) yang merupakan mantan anggota organisasi teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) misalnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menjadi salah satu pejabat yang ditanyai oleh para wartawan.

Meski pemerintah telah pasti memutuskan untuk memulangkan WNI anak-anak yang berusia 10 tahun ke bawah, para awak media masih terus bertanya pada Pak Mahfud soal kebijakan tersebut. Mungkin, sedikit merasa kesal, Pak Menko akhirnya meminta para wartawan untuk berhenti menanyakan hal itu.


“Kan sudah jelas,” begitu ucap Pak Mahfud. Beliau hanya menjawab bahwa negara udah memastikan langkah-langkah yang diperlukan untuk pemulangan anak-anak tersebut, seperti bagaimana nanti anak-anak itu dipelihara oleh negara.

Selain itu, Pak Mahfud juga khawatir lho kalau anak-anak itu nanti dikejar-kejar oleh para awak media – membuat anak-anak itu mendapatkan tekanan (stress). Maka dari itu, pemerintah memutuskan untuk menutup informasi pemulangan dan identitas dari anak-anak tersebut.

Hmm, cukup beralasan juga sih apa yang dijelaskan oleh Pak Mahfud. Kasihan juga kalau anak-anak tersebut malah terekspos menjadi bahan berita yang diperlukan oleh para wartawan yang mengejar deadline.

Apalagi, sudah menjadi rahasia umum bahwa media-media Indonesia dinilai memiliki kebiasaan yang dianggap buruk dalam membuat berita. Bisa jadi, malah muncul judul-judul berita yang dianggap nggak perlu.

Jangan sampai lah nanti ada berita-berita yang menanyakan sikap dan tingkah laku anak-anak itu ke tetangga-tetangganya. Belum lagi, banyak juga tuh berita yang menjelaskan mengenai firasat-firasat aneh yang muncul ketika berangkat ke atau pulang dari Irak atau Suriah.

Bagaimana pun, anak-anak tersebut telah melalui hal-hal yang berat di sana. Dan, mungkin, ratusan pertanyaan bukanlah hal yang dibutuhkan oleh mereka nanti. Bukan begitu? (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.