Mahfud dan Sejarah Awal Seksisme

Menko Polhukam Mahfud MD
Menko Polhukam Mahfud MD (Foto: Warta Kota)
7 minute read

Menko Polhukam Mahfud MD kembali mendapatkan sorotan tajam setelah menyampaikan meme yang berisi tentang penyamaan virus Corona (Covid-19) dengan istri. Tidak sedikit kemudian yang mengecam Mahfud karena pernyataannya dinilai seksis ataupun menunjukkan budaya patriarki yang masih kental dipertontonkan di hadapan publik.


PinterPolitik.com

Mahfud MD memang tidak ada habisnya. Ya, setelah masuk ke dalam jajaran kabinet, entah mengapa sosok yang dahulu kerap diminta pandangan atau nasihat bijak ini berulang kali mengeluarkan pernyataan tidak tepat yang memancing keriuhan publik.

Mulai dari menyebut tidak ada pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang kemudian dikritik keras oleh aktivis HAM, hingga pada berbagai pernyataan tidak tepatnya selama pandemi virus Corona (Covid-19) ini banyak disorot minor oleh publik.

Sebelum Covid-19 terdeteksi di Indonesia misalnya, publik tentu mengingat Mahfud mencuit di akun Twitter pribadinya bahwa Covid-19 belum masuk ke Indonesia karena perizinan yang berbelit-belit, seperti halnya dalam mengurus izin usaha. Kemudian, Mahfud menyebut bahwa korban kematian akibat kecelakaan lalu lintas 9 kali lipat lebih banyak dari angka kematian Covid-19.

Kendati secara statistik pernyataan Mahfud terbenarkan, namun sebagai pejabat publik, tentunya diharapkan seorang menteri tidak mengeluarkan pernyataan yang seolah tidak memperlihatkan simpati kepada keluarga korban Covid-19 seperti itu.

Terbaru, Mahfud membagikan cerita perihal meme yang didapatkannya dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan yang bertuliskan, “Corona is like your wife. In easily you try to control it, then you realize that you can’t. Than you learn to live with it”.

Yang lebih kontroversial adalah, bagaimana mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut mengartikan meme yang didapatkannya. “Corona itu seperti istrimu, ketika engkau mau mengawini kamu berpikir kamu bisa menaklukkan dia. Tapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu,” begitulah pemaparan Mahfud.

Sontak saja, berbagai pihak kemudian memberikan sorotan tajam dan kritik keras. Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan, Dinda Nisa Yura misalnya, ia menilai pernyataan Mahfud tersebut merendahkan perempuan, bahkan dinilai dapat melanggengkan budaya kekerasan terhadap perempuan.

Ada pula pernyataan aktivis feminis Dea Safira yang menilai reproduksi candaan seksis semacam itu menguatkan pandangan bahwa pejabat publik mengabaikan suara-suara perempuan yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

Lantas, benarkah humor seksis Mahfud tersebut sebagai indikasi kuat akan mengakarnya budaya patriarki, seksisme, ataupun budaya kekerasaan terhadap perempuan?

Humor Seksis dan Rape Culture

Thomas E. Ford dan rekan-rekan penulisnya (dkk) dalam Sexist Humor and Beliefs that Justify Societal Sexism menyebutkan bahwa adanya humor seksis merupakan indikasi kuat yang menunjukkan pembenaran atas ekspresi prasangka terhadap perempuan.

Menggunakan teori norma prasangka, setidaknya terdapat empat proposisi yang tergambarkan dalam humor seksis. Pertama, humor seksis mengaktifkan aturan “kesembronoan” percakapan, untuk beralih dari pola pikir serius untuk menafsirkan pesan, ke pola pikir humor non-kritis yang meremehkan pesan atau subjek pembahasan.

Dengan demikian, humor seksis mengomunikasikan meta-pesan implisit bahwa seseorang dapat memperlakukan diskriminasi dengan cara yang kurang serius. Misalnya ketika menganggap insiden diskriminasi seksual tidak berbahaya dan dapat diterima ketika insiden tersebut dianggap lucu.

Kedua, humor seksis membuat pihak-pihak terkait untuk meringankan diskriminasi terhadap perempuan. Dengan kata lain, humor seksis meningkatkan toleransi terhadap peristiwa seksis karena peristiwa tersebut ditafsirkan sebagai humor atau sesuatu yang kurang serius.

Ketiga, masyarakat yang menafsirkan humor seksis secara kurang serius atau kritis menunjukkan bahwa mereka sebenarnya memiliki sifat yang seksis. Keempat, mereka yang menafsirkan humor seksis dalam pola pikir yang tidak kritis lebih cenderung untuk memahami dan menyetujui norma prasangka terhadap perempuan.

Ford, dkk menyebutkan bahwa humor seksis berkontribusi untuk menciptakan posisi hierarkis yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki dalam masyarakat. Tidak hanya itu, humor seksis juga menunjukkan bentuk perendahan terhadap perempuan serta menciptakan struktur sosial yang menegaskan dominasi dan kekuasaan laki-laki.

Lebih getir lagi, Manuela Thomae  dan Afroditi Pina dalam tulisannya Sexist Humour and Social Identity: The Role of Sexist Humour in Men’s Ingroup Cohesion, Sexual Harassment, Rape Proclivity and Victim Blame menyebutkan bahwa humor seksis juga dapat berelasi dengan kekerasan seksual terhadap perempuan (pelecehan) dan memperkuat kecenderungan untuk menyalahkan korban perkosaan yang sebagian besar adalah perempuan.

Merangkum pada temuan yang menyebutkan humor seksis dapat berelasi dengan toleransi atas diskriminasi ataupun kekerasan terhadap perempuan, konteks tersebut adalah apa yang disebut sebagai rape culture atau budaya pemerkosaan oleh para feminis Amerika Serikat (AS) pada tahun 1970-an.

Emilie Buchwald, dalam bukunya Transforming a Rape Culture mendefinisikan budaya pemerkosaan sebagai “seperangkat keyakinan kompleks yang mendorong agresi seksual laki-laki dan mendukung kekerasan terhadap perempuan”.

Budaya pemerkosaan lantas membenarkan teror fisik dan emosional terhadap perempuan sebagai semacam norma. Hal ini misalnya terlihat dari persoalan kasus kekerasan seksual yang terjadi di ranah personal – seperti di keluarga – yang jarang dilaporkan karena korban yang merupakan istri dan anak merasa dirinya harus patuh terhadap ayah sebagai kepala rumah tangga.

Kemudian dalam budaya ini, baik laki-laki dan perempuan memandang kekerasan seksual sebagai suatu fakta kehidupan yang tak terhindarkan. Artinya, itu adalah fenomena yang memang lumrah terjadi, sehingga tidak perlu untuk diherankan atau ditanggapi secara serius.

Singkat kata, pernyataan Dinda Nisa Yura ataupun Dea Safira terkait humor seksis Mahfud yang menyamakan Covid-19 dengan istri sebagai bentuk objektivikasi ataupun melanggengkan budaya kekerasan terhadap perempuan adalah benar adanya.

Namun, di luar persoalan Mahfud telah melontarkan humor seksis yang menjadi indikasi atas prasangka atas perempuan, timbul pertanyaan tersendiri mengenai sejak kapan sebenarnya budaya seksisme hadir di kehidupan manusia?

Awal Sejarah Seksisme

Anil Ananthaswamy dan Kate Douglas dalam tulisannya The Origins of Sexism: How Men Came to Rule 12,000 Years Ago, dengan mengutip pernyataan antropolog dan primatolog dari University of California, Sarah Hrdy, memberikan kita penjelasan menarik terkait asal muasal budaya seksisme terbentuk di kehidupan manusia. Berbeda dengan kebanyakan orang yang mungkin menyebutkan seksisme selalu lekat dengan kehidupan manusia, Hrdy justru menyebutkan bahwa seksisme sebenarnya adalah budaya yang baru terjadi sejak 12 ribu tahun yang lalu.

Dalam temuannya, dahulunya ketika manusia masih hidup dengan cara berburu, sistem patriarki justru tidak terjadi karena posisi perempuan dan laki-laki adalah setara atau egaliter karena para perempuan pemburu prasejarah memiliki dukungan yang besar dari kelompok yang dibesarkannya.

Akan tetapi, sistem tersebut berubah sejak 12 ribu tahun yang lalu ketika manusia mulai hidup dengan cara bercocok tanam. Dengan munculnya pertanian dan manusia mulai menetap, kelompok-kelompok manusia mulai memperoleh sumber daya – seperti tanah dan hasil tanam – untuk dipertahankan, dan kekuasaan bergeser ke laki-laki yang secara fisik lebih kuat.

Ayah, anak laki-laki, paman, dan kakek mulai tinggal berdekatan, harta warisan kemudian diturunkan melalui garis laki-laki, yang mana ini berimbas pada terkikisnya otonomi perempuan. Pergeseran budaya tersebut kemudian melahirkan apa yang kita sebut sebagai patriarki saat ini.

Temuan tersebut misalnya didukung oleh penelitian di Universitas Sapienza, Roma, Italia pada 2004 lalu yang mempelajari DNA mitokondria (diwarisi dari ibu) dan penanda genetik pada kromosom Y (diwarisi dari ayah) pada 40 populasi dari sub-Sahara Afrika. Penelitian tersebut menemukan bahwa perempuan dalam populasi pemburu – seperti Kung dan Hadza – lebih mungkin untuk tetap bersama ibu mereka setelah menikah daripada perempuan dari populasi bercocok tanam. Sebaliknya bagi pria, menunjukkan bahwa pertanian memang berkorelasi dengan masyarakat patrilokal.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa patriarki atau seksisme adalah buah dari pergeseran budaya manusia dari yang sebelumnya berburu menjadi bercocok tanam. Oleh karenanya, pergeseran untuk kembali menuju egalitarian juga dapat saja terjadi apabila pergeseran budaya fundamental terjadi ke depannya. Saat ini, dengan budaya perempuan karier yang semakin masif terjadi, sepertinya itu dapat menjadi preseden atas perpindahan budaya tersebut.

Kembali pada persoalan humor seksis Mahfud, dengan mengacu pada tulisan Ananthaswamy dan Douglas, tentu dapat dipahami bahwa Mahfud yang sepertinya merasa lumrah atas humor tersebut sehingga dikeluarkan di hadapan publik merupakan buah dari munculnya budaya patriarki dan seksisme yang telah muncul sejak 12 ribu tahun yang lalu. Tentu saja, selaku pejabat publik, ke depannya Mahfud diharapkan menyaring pernyataan yang akan dikeluarkan ke hadapan publik agar keriuhan semacam ini tidak terjadi kembali. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.