Luhut Tiba-tiba Cinta Lingkungan?

Luhut Tiba tiba Cinta Lingkungan
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan ketika menghadiri rapat dengan Komisi VII DPR. (Foto: Istimewa)
3 minute read

“Walk it like I talk it” – Quavo, penyanyi rap asal Amerika Serikat


PinterPolitik.com

Jika sebelumnya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ramai dibicarakan di media dan publik karena sering menjalankan kunjungan luar negeri, sebenarnya terdapat menteri lain yang juga sering melintasi lautan dan daratan di luar Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan misalnya, sering menjalankan kunjungan luar negeri ke berbagai negara – dari Jepang, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Swiss – guna menarik para pemilik modal asing agar dapat berinvestasi di Indonesia.

Kegigihan Pak Luhut yang tidak tampak disertai lelah ini beberapa kali membuahkan hasil tertentu. Bagaimana tidak? Beliau sering kali pulang dengan membawa buah tangan berupa kesepakatan-kesepakatan kerja sama dan investasi.

Kunjungan beliau yang terakhir dilaksanakan di Davos, Swiss – bertepatan dengan pelaksanaan World Economic Forum (WEF) 2020. Dalam pertemuan tersebut, Pak Luhut mengklaim bahwa beberapa negara – seperti Australia – telah menyatakan ketertarikan mereka untuk berinvestasi.


Bagusnya nih, pengusaha dan pemerintah Australia akan menjalankan investasinya di bidang lingkungan, seperti pembangunan hydropower, penanganan bushfire, dan manajemen sampah plastik. Ketertarikan ini nantinya akan ditindaklanjuti dengan kunjungan pada bulan Februrari 2020.

Wah, kira-kira apa sih kiat-kiat suksesnya Pak Luhut biar bisa menarik para investor ini ke Indonesia? Apa yang diceritakan oleh Pak Luhut tentang Indonesia?

Hmm, kabarnya sih, Pak Luhut bercerita dalam Forum Tri Hita Kirana – bagian dari rangkaian kegiatan WEF – tentang bagaimana Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Bagi beliau, kekayaan alam negara kita ini merupakan modal keajaiban dunia.

Bagaimana tidak? Indonesia merupakan rumah bagi salah satu hutan hujan terakhir di dunia. Pak Luhut pun menilai kalau jutaan orang bergantung pada ekosistem itu. Oleh sebab itu, Menko Kemaritiman dan Investasi tersebut mengajak para investor di WEF untuk melakukan pembangunan sekaligus menjaga lingkungan.

Eits, tapi, Pak Luhut juga sering lho disorot soal kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap dapat merusak lingkungan. Soal benih lobster misalnya, beliau mendukung adanya ekspor benih yang dianggap banyak orang dapat merusak ekosistem bawah laut.

Masih berhubungan dengan ekosistem laut, Pak Luhut juga pernah menolak pelarangan cantrang yang diberlakukan oleh mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Selain itu, Pak Luhut dulu juga sempat menolak wacana pelarangan penggunaan plastik guna mengatasi persoalan sampah plastik lho.

Belum lagi, Pak Luhut pernah dikabarkan memiliki beberapa usaha di sektor energi fosil – yang mana memiliki reputasi sebagai penyumbang gas karbon biang pemanasan global. Kepemilikan usaha dan bisnis beliau di bidang batu bara ini pernah diungkapkan oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) kala Pilpres 2019 lalu.

Hmm, jadi yang benar bagaimana nih, Pak Luhut? Modal keajaiban dunia Indonesia bisa digunakan untuk pembangunan atau justru harus dilestarikan ya? (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.