Lafran Pane: Jejak Pemrakarsa HMI

5 minute read

“Pahlawan akan selalu dikenang dan pejuang takkan pernah mati”


PinterPolitik.com

Riuh rendah penobatan gelar pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo menunjukkan suatu potret bangsa yang menghargai dan menghormati perjuangan tokoh masa lampau.

Empat nama yang baru dinobatkan sebagai pahlawan nasional dinilai telah memberikan kontribusi bagi perjalanan Indonesia. Salah satunya ialah Prof. Lafran Pane dari Provinsi DI Yogyakarta.

Sosok Lafran Pane memang tak terlalu populer, namun jejak perjuangannya dapat menjadi refleksi nyata bagi spirit kebangsaan.

Kontribusinya bukan hanya memrakarsai terbentuknya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai wadah kaderisasi tokoh dan pemimpin nasional, namun Lafran pun terlibat aktif sebagai tokoh pemuda perintis kemerdekaan yang berperan mendorong Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.


Selain itu, kontribusi pemikiran visioner Lafran Pane yang juga terlihat dalam hal keagamaan, kebangsaan dan tata kelola negara menjadi pertimbangan lain mengapa gelar pahlawan pantas diberikan padanya.

Penyematan identitas pahlawan bukan hanya sekadar untuk dikenang, namun spiritnya dapat direfleksikan sebagai sebuah perjuangan yang tak berujung.

Dari berbagai kontribusinya, Lafran Pane bukan hanya menjadi pahlawan yang senantiasa diingat setiap peringatan 10 November, namun ia tetap hidup sebagai pejuang dengan kiprah yang takkan pernah berakhir.

Figur Bersahaja

Lafran Pane adalah sosok yang tidak mengenal lelah dalam proses pencarian jati dirinya dan secara kritis mencari kebenaran yang sejati. Semasa kecil, remaja dan menjelang dewasa, Lafran ialah seorang yang nakal dan pemberontak.

Hal inilah yang menjadi ciri paling menonjol dari sosoknya. Namun, pada dasarnya ia hadir sebagai figur yang mencari dan membentuk dirinya melalui petualangan.

Lahir dari keluarga sastrawan, Lafran hadir sebagai sosok dengan pemikiran terbuka yang bergelut dalam khasanah keilmuan dan pergerakan mahasiswa. Hal ini ditandai dengan diberikannya predikat Guru Besar Ilmu Tata Negara dari IKIP Yogyakarta (-sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) di era 1960-an. Lafran juga  memprakarsai berdirinya HMI pada Februari 1947.

Predikat Guru Besar dan tokoh berpengaruh tidak membuat Lafran bermegah diri, justru ia merasa nyaman dengan kesederhanaan yang dimilikinya.

Kehidupan yang bersahaja ditunjukkannya dengan mengayuh sepeda ontel untuk aktivitas sehari-hari. Sebagai pendiri HMI yang telah melahirkan tokoh nasional lintas generasi, Lafran pernah ditawari rumah yang lengkap dengan isinya serta mobil oleh kader HMI yang telah memiliki hidup yang berkecukupan. Namun, Lafran menolak tawaran tersebut secara halus.

Rahim Tokoh Nasional

“HMI menjadi Harapan Masyarakat Indonesia”- Panglima Besar Jenderal Soedirman, pada peringatan milad HMI I di Yogyakarta.

Dalam skala nasional, nama Lafran Pane mungkin tidak begitu terkenal. Namun, ia adalah orang yang sangat terkenal di Yogyakarta. Terlebih, ia dikenal sebagai sosok yang memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan terkhusus untuk ilmu tata negara.

Sebagai pendiri organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Lafran sukses mewadahi figur intelektual yang memiliki niatan besar melakukan kerja kemanusiaan.

Bukan hanya memiliki catatan kesuksesan di masa lampau saja, namun dalam setiap lintas generasi, Himpunan Mahasiswa Islam selalu menyumbangkan kader terbaiknya untuk menjadi pemimpin.

Bahkan, hal ini dibuktikan dengan distribusi kader HMI ke segala bentuk medium pengabdian baik di pemerintahan maupun di sektor lainnya.

Tentu banyak kabar burung bertebaran di sana-sini bahwa HMI haus jabatan dan ingin mengambil seluruh posisi di tingkat daerah maupun nasional. Namun, kader HMI memang disiapkan dan diproyeksikan menjadi pemimpin masa depan yang dibekali modal dasar yang mumpuni.

HMI yang didirikan Lafran Pane berkontribusi melahirkan tokoh – tokoh nasional dari rahim organisasi mahasiswa, misalnya yang termanifestasikan dalam diri Jusuf Kalla, Mahfud MD, Akbar Tandjung, Anies Baswedan dan segenap tokoh lainnya.

Intelektual-Visioner

Nilai dan perjuangan intelektual yang melekat pada Lafran Pane pun diakui sebagai kontribusi yang visioner. Salah satunya ialah usulan di awal masa orde baru untuk melakukan amandemen UUD 1945.

Lafran memandang agar perubahan tidak dilakukan pada Batang Tubuh UUD 1945, tetapi ditambahkan sebagai lampiran. Lampiran ini merupakan perubahan UUD yang dapat pula sewaktu-waktu dicabut atau diubah.

Selain itu, Lafran hadir sebagai intelektual yang berpikir melampaui zaman dengan menyatakan bahwa bila Indonesia menganut sistem presidensial secara tegas, alangkah lebih baik bila caranya diubah menjadi pemilihan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat, bukan melalui MPR RI.

Implementasi gagasan ini membutuhkan 34 tahun untuk mewujudkan gagasan mengenai pemilihan langsung Presiden oleh rakyat.

Di penghujung hayatnya Lafran mengabdikan diri sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang notabene masih dalam nuansa orde baru pimpinan Presiden Soeharto.

Namun, pada masa itu ada keharusan bahwa DPA harus mewakili Partai Golkar. Namun, akhirnya karena mengedepankan indenpendensi etis, Lafran Pane tetap menjadi DPA tanpa menjadi kader Partai Golkar.

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu” – John F Kenedy.

Mungkin petuah John F Kennedy ini dapat menjadi spirit bagi generasi muda agar mengambil pelajaran dari perjuangan Lafran Pane di masa lampau.

Tentunya, dari berbagai kiprah Lafran Pane di masa lampau menjadi sebuah refleksi bagi generasi muda agar mematangkan konsepsinya dalam berbangsa dan bernegara.

Selain itu, kesuksesan perjuangan para pahlawan akan menjadi album manis yang akan senantiasa diperingati setiap 10 November.

Namun yang menjadi pertanyaan apa yang akan diberikan generasi muda kepada bangsa dan negara di era kekinian?

Generasi muda harus mampu mengedepankan literasi dalam menganalisa fenomena sosial melalui diskursus yang bersifat kritis – solutif dan melampaui zaman.

Selain itu, generasi muda tidak hanya menjadi agen perubahan, justru menjadi pemimpin atas perubahan itu.

Sebagai epilog, wajah generasi muda dengan pemikiran terbuka yang bersedia terjun langsung dalam aksi nyata merupakan sebuah potret perjuangan Lafran Pane di masa lampau. Belajar dari masa lalu, mengibarkan optimisme di masa yang akan datang.

“Demikian kisahnya berakhir di tengah-tengah manusia” (Z19)