Ketika Wiranto “Galau”

Ketika Wiranto “Galau”
2 minute read

Sebagai Dewan Penasihat Partai Hanura, Wiranto selalu mengelak bila ditanya akan keberpihakannya pada pertikaian di partainya. Apakah Wiranto tengah galau?


PinterPolitik.com

“Mekanismenya bagaimana, komunikasinya bagaimana ke pak OSO atau teman-teman Pak Daryatmo, itu serahkan ke saya.”

Sebagai seorang purnawirawan selevel jenderal,  Wiranto mungkin bisa dibilang punya kemampuan “poker face”. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) ini  sama sekali tidak terbaca reaksinya, ketika ditanya mengenai kisruh yang terjadi dalam partai besutannya, Hanura.

Wajah yang sama, akan selalu tampak saat menjawab pertanyaan wartawan. Kernyitan di dahi – pertanda entah mikir atau mengingat-ingat, dan mata yang seperti sedang ‘menerawang’ atau menatap tajam sang penanya, ya kira-kira begitulah yang selalu ia tampilkan.

Kernyitan di dahinya itu, hebatnya, bukan seperti kerutan akibat pertambahan usia, lho. Padahal Mantan Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) di era Soeharto ini, usianya sudah mencapai 70 tahun.  Hmmm, keajaiban botox atau memang awet muda ya?


Pokoknya, susah deh memprediksi sebenarnya Wiranto itu pro kubunya Oesman Sapta Odang (Oso) atau Syarifudin Sudding. Sebab kalau berdasarkan pengakuannya saja, ia cuma bisa bilang enggak kemana-mana, maksudnya enggak memihak ke siapapun.

Pernyataan inilah yang sebenarnya bikin rumit, apalagi kedua pihak mengklaim kalau punya restu dari Wiranto. Waduh, apakah lulusan Lemhanas ini tengah “galau”? Bisa jadi, soalnya Oso itukan yang angkat jadi ketua umum Wiranto, tapi yang mecat seluruh perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD).

Kalau Wiranto ikut memecat Oso, artinya, ia mengakui kesalahan sendiri. Sementara kalau tidak ikut keputusan Musyawarah Nasional Luarbiasa (Munaslub) semua DPD, ia pasti bakal ditinggal kader-kadernya. Jadi harusnya gimana dong? Bingungkan? Mungkin karena itu, Wiranto ogah bikin pernyataan yang menjurus kali ya?

Tapi sebagai partai yang isinya kebanyakan purnawirawan militer, seharusnya sih akan patuh dong pada komando atasan. Di Hanura, Wiranto memang “hanya” menjabat sebagai Dewan Penasihat, tapi di luar itu, ia kan juga senior dari para kadernya. Belum lagi, Hanura itu bisa dibilang “milik” Wiranto. Jadi kenapa dia harus bingkem ya?

Mungkin sebagai seorang perwira, Wiranto memang ogah membuka aib partainya ke publik. Jadi seperti yang ia selalu katakan, masalah internal akan ia selesaikan secara internal. Okelah, semoga saja segera selesai ya, Pak.  Biar enggak kelamaan galaunya. (R24)