Keris Diponegoro Tak Setangguh Corona

Keris Diponegoro Tak Setangguh Corona
Raja Belanda dan Presiden Jokowi (Foto: istimewa)
3 minute read

“Sejarawan belum tentu mengerti atau ahli keris. Bahkan di Belanda pun mereka tak mengerti berbagai jenis keris tersebut”. – Fadli Zon, politikus Partai Gerindra


PinterPolitik.com

Di tengah maraknya pemberitaan tentang virus corona, beberapa hari lalu publik Indonesia disuguhi pemberitaan terkait kunjungan pemimpin Belanda, Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima ke Indonesia.

Keduanya diterima oleh Presiden Jokowi. Kunjungan ini cukup bersejarah karena menjadi kunjungan ketiga penguasa Belanda ke Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan negara ini pada 17 Agustus 1945.

Penguasa Belanda yang pertama kali datang ke Indonesia pasca proklamasi adalah Ratu Juliana yang menginjakkan kaki ke Indonesia pada 26 Agustus 1971. Kunjungan tersebut merupakan balasan setelah Presiden Soeharto melakukan kunjungan kenegaraan pertama ke negara yang menjajah Indonesia selama hampir 350 tahun tersebut.

Nah, kedatangan Raja Willem Alexander kali ini membawa oleh-oleh loh. Adalah Keris Diponegoro yang merupakan pusaka milik Pangeran Diponegoro yang dikembalikan ke Indonesia dari museum di Belanda.


Tapi, keberadaan keris tersebut menjadi perdebatan lanjutan. Soalnya, beberapa pengamat menyebut keris tersebut bukanlah Nogo Siluman – nama keris utama milik Diponegoro. Salah satu yang mengomentarinya adalah politikus Partai Gerindra Fadli Zon.

Dalam cuitannya di Twitter, Fadli menyebutkan bahwa keris yg dibawa kembali itu “dhapurnya” – sebutan untuk bentuk keris – bukanlah Nogo Siluman. Menurut Fadli, dhapurnya adalah Nogo Rojo tangguh dari era Sultan Agung Mataram. Doi juga menyebutkan bahwa ada 3 keris Diponegoro, kemungkinan yang 2 Nogo Siluman masih ada di Belanda.

Hmmm, Bang Fadli, tapi tetap benar kan kalau yang dibawa oleh Raja Belanda itu Keris Diponegoro? Soalnya, gara-gara Bang Fadli ngomong gitu, banyak media yang memberitakan bahwa keaslian dari keris itu diragukan. Padahal kan masalahnya adalah namanya saja yang nggak sesuai dengan ciri-cirinya.

Kan bisa jadi ribut antara dua negara loh kalau hasil cuap-cuap Bang Fadli berbuntut panjang. Apalagi kalau berdampak ke investasi, Bang. Ssssttt. Upppss.

Lha iya, kedatangan Raja Belanda ternyata membawa investasi yang diklaim jumlahnya mencapai US$ 1 miliar alias sekitar Rp 14 triliun. Beh, jumlah yang nggak sedikit lah itu.

Beberapa proyek yang disebut dalam kunjungan itu adalah pengembangan terminal di Pelabuhan Tanjung Priok, pembangunan pabrik susu Frisian Flag, dan investasi Shell di sektor hilir migas.

Nah kan, makanya perdebatan mengenai keris ini memang rada-rada sensitif secara ekonomi. Apalagi kalau sampai narasinya berbunyi “keris palsu”. Beh, bisa perang kemerdekaan lagi kita, bang. Uppps.

Apa pun itu, semoga hubungan Indonesia dan Belanda bisa terjalin dengan baik ke depannya. Bahkan, semoga bisa mendatangkan kemajuan untuk negara kita. Minimal susu yang iklannya “hingga tetes terakhir” itu bisa bikin kuat anak-anak Indonesia untuk menangkal virus corona. Sementara investasi Shell nggak bikin ribut terus kayak kasus yang di Masela. Uppps. (S13)

View this post on Instagram

Angka kekerasan terhadap #perempuan terus meningkat setiap tahun, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Saat ini Indonesia bahkan telah ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual menurut laporan dari #KomnasPerempuan. Nyatanya, ada persoalan ketidakseimbangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki di #Indonesia yang menjadi salah satu akar persoalan ini. Ini juga terjadi akibat budaya dominasi laki-laki yang sangat kuat. ⠀ ⠀ Temukan selengkapnya di Talk Show: “Dominasi dan Legacy Male Power terhadap Wanita Indonesia, Kenapa? Dari Mana? Masih Perlu?”⠀ ⠀ Tiket dapat dibeli di: http://bit.ly/TalkShowPinterPolitik ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik #EventPinterPolitik #TalkShowPinterPolitik #komnasperempuan #rockygerung

A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik) on

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.