Keputusan PSBB Ada di Mahfud?

Keputusan PSBB Ada di Mahfud
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. (Foto: Media Indonesia)
3 minute read

“But one of us misread” – Kings of Convenience, duo musik folk-pop asal Norwegia


PinterPolitik.com

Hareudang hareudang hareudang, panas panas panas. Eitz, bukan suhu badan yang panas, melainkan hati mimin nih.

Bagaimana tidak? Mimin jengkel saja sama pernyataan para petinggi negara ini. Kemarin bilang apa, sekarang bilang apa. Kemarin bilang kalau Indonesia perlu relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sekarang tetiba kayak berat atau entah memainkan tensi kepanikan massa.

Mimin nih tahu kalau di tengah tekanan, apalagi bencana, siapa yang tampil ke muka biasanya cepat jadi tenar yang penuh puja-puji. Mimin juga tahu kok, kalau kadang kala tokoh politik sengaja membuat tegang suasana, meski padahal ia sudah mendapat jawaban yang solutif. Ya, sekadar gimmick gitu, cuy, kalau bahasa sarkastisnya.

Gak percaya? Tanya saja sama Jenderal Kuvira dalam serial Avatar Korra yang sengaja membuat situasi penduduk kerajaan bumi seakan tambah parah. Padahal, pemberontakan sudah agak mereda – hanya supaya Kuvira bisa membeli kesetiaan para penduduk yang dijanjikan rasa aman.

Meski begitu, gengs, di tempat lain, ada loh pemimpin yang secara jujur berkata tentang kondisi yang sebenarnya terjadi, meski harus kehilangan nyawa – Mahatma Gandhi misalnya. Bapak perdamaian India itu terbunuh di tangan Nathuram Godse, seorang penganut Hindu radikal yang tidak sepakat dengan kebijakan perdamaian Muslim-Hindu ala Mbah Gandhi.

Pemimpin yang tetap berlaku jujur di tengah kondisi panik perlu diakui memang mempunyai keberaniannya luar biasa ya, cuy. Setidaknya, kalau kata Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia, “Kita telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” sekalipun berakhir getir dan perih.

Lantas,nih, bagaimana dengan pemimpin kita yang mimin sentil soal relaksasi di atas? Coba langsung mimin called by name saja ya. Monggo, Pak Mahfud MD.

Mimin heran sih sama Pak Mahfud. Secara, doi pada 4 Mei kemarin paling vokal menyuarakan model relaksasi PSBB atau pelonggaran supaya ekonomi gak macet bin mampet. Eh, lha kok sekarang tiba-tiba bilang kalau hal ini masih dikaji. “Ada wacana, belum keputusan bagaimana tentang new normal ini,” katanya saat halal bi halal di acara Universitas Sebelas Maret (UNS).

Padahal, keinginan Pak Mahfud untuk relaksasi kan sudah ditanggapi dengan adanya gagasan new normal. Jadi sebenarnya sudah sesuai dengan keinginan Pak Mahfud. Tapi kok di saat new normal sudah disiapkan, malah bilang ‘belum diputuskan’.

Lha, terus Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) yang diterbitkan kemarin buat apa dong? Lagian, Kepmenkes itu berisi tentang apa yang menjadi tujuan Pak Mahfud, yakni geliat ekonomi harus tetap berjalan.

Ini Pak Mahfud yang tidak paham kalau new normal adalah jawaban dari relaksasi yang doi tegaskan atau Pak Mahfud belum koordinasi dengan kementerian-kementerian terkait, mulai dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sampai Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yang sempat bilang mengenai “pengurangan pembatasan” – jangan dibahas di sini, tambah pusing nanti.

Jadi, intinya, tolonglah, Pak Mahfud ini terkait sosok bapak sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), kalau memang sudah disepakati new normal dengan skenario yang sudah disiapkan, lhambokyo bilang saja apa adanya meski mungkin menurut mimin itu pahit, sebab bapak pasti dikritik oleh beberapa kawan politisi juga, kan.

Tapi setidaknya, jangan bikin masyarakat ini kebingungan. Lha wong, kebijakan sudah turun masa digantung. Harus tegas ya, Pak. Yang dibutuhkan rakyat Indonesia kan sebenarnya simpel, yaitu pemimpin yang tegas. Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.