Kemenag Nimbrung Nadiem Makarim?

Kemenag Nimbrung Nadiem Makarim
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. (Foto: Antara)
3 minute read

“Oh, they doin’ that. I did it first” – Lil Baby, penyanyi rap asal Amerika Serikat


PinterPolitik.com

Siapa sih yang nggak kenal dengan Nadiem Makarim? Sosok pengusaha start-up muda tersebut beberapa bulan lalu didapuk oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengisi peran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di periode kedua kepresidenannya.

Selain sosok muda yang dianggap inovatif, Pak Jokowi tampaknya juga ingin melakukan beberapa perubahan nih dalam dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan tinggi misalnya, kini kembali menjadi bagian dari nomenklatur kementerian yang kini dipimpin oleh Nadiem.

Di media sosial, Mas Nadiem sempat viral karena pidato beliau kala peringatan Hari Guru Nasional 2019 pada November lalu. Muatan pidato beliau dianggap memunculkan cara pandang baru untuk para guru.

Baru beberapa bulan saja, Nadiem juga telah melakukan beberapa kebijakan yang dianggap sebagai gebrakan-gebrakan baru. Penghapusan Ujian Nasional (UN) yang telah lama menjadi wacana pemerintah misalnya, telah dilakukan oleh Mas Nadiem dengan menggantinya menjadi Tes Asesmen Kompetensi.


Tes tersebut nantinya menjadi bagian dari kebijakan dan program Merdeka Belajar yang diusulkan Nadiem. Kebijakan itu nantinya akan memberikan keleluasaan bagi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Kebijakan-kebijakan Mas Nadiem tersebut memang baru di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Namun, ada beberapa pihak yang merasa bahwa ide tersebut telah dilakukan sebelumnya, yakni Kementerian Agama (Kemenag).

Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan Madrasah Ahmad Umar bilang kalau program serupa sudah dilaksanakan oleh kementeriannya sejak tahun ajaran 2018/2019. Menurut beliau, Kemenag telah membiarkan guru lebih bebas dalam menyusun kurikulum, menyederhanakan asesmen nasional, dan memberikan kewenangan kelulusan pada masing-masing madrasah.

Hmm, terlepas dari mana yang lebih dulu nih, hal yang penting kan adalah kebijakan dan hasilnya. Siapa yang lebih dulu juga tidak akan mempengaruhi sasaran kebijakan masing-masing.

Mungkin nih, Kemenag pengen nimbrung ke branding-nya Mas Nadiem yang lagi populer nih. Apalagi, citra Kemenag tidak seterkenal sebaik Mas Mendikbud. Soal kebijakan tentang pendaftaran majelis taklim dan kriterianya misalnya, dikritik beberapa pihak dan organisasi masyarakat.

Hmm, kalau soal nimbrung-menimbrung dan merasa lebih baik nih, jadi ingat kisah film Thor: Ragnarok (2018). Dalam salah satu adegan film tersebut, Thor selalu merasa menjadi avenger terkuat tuh. Padahal, kalau kata komputer pesawat Avengers, superhero terkuat adalah Hulk.

Ya, seperti di film itu, penilaian siapa yang duluan atau lebih baik bukan ada di diri sendiri, melainkan kembali lagi pada kacamata masyarakat. Lagi pula, publik juga nantinya yang menilai dan merasakan dampak dan manfaat masing-masing kebijakan. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.