Jokowi-Puan Baperan

Jokowi Puan Baperan
(doc: tribunnews.com)
3 minute read

Puan Maharani mendukung rencana Jokowi untuk mengirim Ketua BEM UI  Zaadit Taqwa ke Asmat. Segitu aja kok baper?


PinterPolitik.com

[dropcap]A[/dropcap]ksi Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa yang memberikan ‘kartu kuning’ kepada Jokowi menjadi buah bibir. Ada yang menyayangkan aksi tersebut. Ada juga yang menganggap itu sebagai hal yang wajar. Lalu gimana tanggapan dari Jokowi sendiri?

Jokowi justru berencana mau mengajak ketua dan anggota BEM UI ke Asmat untuk melihat secara langsung kondisi di sana. Hm, apakah harus sampe segitunya atau ikutan-ikutan baper nih? Wkwkwk.

Rencana Jokowi turut didukung oleh  Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Nah, ini lagi. Jangan-jangan bapernya kompak dengan Pak Jokowi nih? Upsss, just kidding, hehehehe.

Bukannya bermaksud untuk membela mahasiswa-mahasiswa tersebut ya, tapi apakah perlu mereka dikirim ke Asmat? Apakah dengan berkunjung ke sana masalah gizi buruk di Asmat langsung mendadak hilang seketika, gitu? Mimpi di siang bolong itu namanya.

Jadi menurut saya nggak perlu ketua dan anggota BEM UI dikirim ke Asmat. Justru pemerintah yang harus berpikir bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah di sana dan masalah-masalah lain yang tengah melanda negeri ini. Anggap aja insiden ‘kartu kuning’ tersebut sebagai masukan bagi pemerintah untuk berbenah. Katanya pemimpin negara yang menganut paham demokrasi, masa cuma dikritik bentar langsung tersinggung? Edededehhhh, plisss dehhh.

Nah, sebenarnya aksi ketua BEM UI juga ternyata menjadi bahan nyiyiran Bang Denny Siregar. Kelihatannya Bang Denny juga masuk dalam deretan orang yang baper akibat insiden ‘kartu kuning’ tersebut. Saking bapernya, Bang Denny lantas memaparkan satu per satu keberhasilan dari A sampai  Z, eh maksudnya dari tahun 2015 hingga kini. Nggak ada salahnya sih, itu bukti nyata bahwa pemerintahan Jokowi punya kinerja yang positif.

Nah, kalau gitu, aksi Ketua BEM UI itu salah dong atau gimana?

Mungkin dari segi penyampaiannya dianggap kurang kurang sopan karena dilakukan di momen yang kurang tepat, tapi kalau soal isi kritikannya saya pikir sah-sah aja. Itu justru menandakan bahwa mereka menaruh perhatian besar bagi perkembangan dan kemajuan bangsa ini.

Udahlah Bang, nggak usah dibesar-besarin. Anggap aja itu hanya percikan kecil, ntar juga padam sendiri kok. Toh kita juga nggak bisa memungkiri kalau pemerintah saat ini masih banyak pe-ernya. Jadi wajar dong kalau dikritik oleh adek-adek kita dari UI. Kritikan tersebut nggak usah dianggap sebagai ancaman, tapi dianggap sebagai masukan yang baik supaya kinerja pemerintah ke depannya lebih baik lagi.

Kayaknya sekali-kali kita perlu ngopi bareng untuk saling tukar pikiran. Eh, tapi sebenarnya kopi nggak baik untuk kesehatan lho. Gimana kita ganti dengan susu aja, Bang? (K-32)