Jokowi dan Gus Dur, Miripkah?

Foto Gus Dur dan Jokowi (Sumber: Istimewa)
7 minute read

Dengan kualifikasi kesederhaan pikiran dan tindakan, capres 01 dianggap oleh Yenny Wahid memiliki kemiripan dengan sang ayahanda, Gus Dur. Klaim tersebut kontroversial, dan mendapatkan cibiran dari beberapa kalangan, terlebih akademisi dan aktivis. Klaim tersebut cenderung tidak tepat dan nampakanya hanya dipergunakan untuk kepentingan elektoral semata, semenjak Yenny tergabung dalam barisan petahana untuk kontestasi 2019 ini.


Pinterpolitik.com

Pada kampanyenya di Jember kali lalu, putri Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid mengatakan bahwa calon presiden yang dia dukung kali ini, Joko Widodo, memiliki kemiripan dengan Gus Dur. Hal tersebutlah yang menjadikan keluarga Gus Dur menjatuhkan dukungan pada Jokowi.

Yenny menganggap, kesederhanaan pada tindakan dan pikiran Jokowi mirip dengan yang dimiliki Gus Dur. Klaim semacam ini perlu ditelisik, terlebih Gus Dur adalah sosok yang ikonik, dia otentik dan sulit untuk disamakan dengan bahkan presiden lain. Maka klaim anaknya sendiri, Yenny nampaknya harus mendapatkan saringan sebelum dia diiyakan.

Yang perlu ditelurusi lebih lanjut adalah pada level pikiran, sebab di level pikiranlah seorang kepala negara bisa diuji. Pemilihan presiden bukan ajang pamer kemeja, sebab dia bukan ajang lomba fashion.

Negara membutuhkan satu tingkatan abstraksi tersendiri untuk diolah. Sebab negara sendiri bahkan tidak memiliki pijakan material, dia adalah konsep yang tentu saja rumit dipahami oleh kalangan pikiran yang sederhana. Gus Dur membuktikan dia bisa mencangkokkan abstraksi pikirannya pada konsepsi metafisik atas apa itu negara.


Unggul-Unggulan Pikiran Gus Dur dan Jokowi

Kalau soal pikiran nampaknya Yenny boleh jadi keliru sedari awal. Jika ingin ditelisik rekaman perjalanan mereka berdua, Gus Dur memiliki gurat kesejarahan dirinya yang lebih unggul di bidang intelektual dibandingkan dengan Jokowi.

Gus Dur sendiri adalah seorang akademisi, dia mengajar di Universitas Hasyim Asy’ari Jombang. Gus Dur banyak menulis pada isu-isu pluralisme, humanisme juga politik. Selain itu, Gus Dur juga sangat aktif sekali untuk terjun ke jalanan, memberikan orasi di mimbar bebas, melancarkan kritik pada penguasa di tahun 1998.

Baca juga :
Jebakan Psikologis, Yasonna Lanjutkan RKUHP?

Sebelumnya Gus Dur berkuliah di Mesir, ketika pulang ke Indonesia dia justru tidak membawa gelar apapun. Kisah punya kisah, Gus Dur tidak pernah masuk kelas sebab merasa sudah tahu apa yang diajarkan di ruang kelas, dan memilih untuk membaca buku di perpustakaan. Walhasil dia pulang tanpa gelar, tapi surplus ilmu.

Hal tersebut berbeda dari Jokowi yang datang dari jurusan kehutanan Universitas Gajah Mada, lalu meneruskan bisnis di bidang kayu. Di umurnya yang ke 37 pada masa reformasi, Jokowi juga tidak masuk dalam barisan intelektual yang berani mengkritik pemerintah.

Di level internasional, keduanya juga adalah sosok yang jauh berbeda pada tingkatan intelektual. Gus Dur dianggap mampu mengikuti perkembangan pemikiran dunia internasional, dan Gus Dur sendiri sangat vokal dengan apa yang dia anggap benar. Banyak kalangan melihat Gus Dur terlalu maju untuk masa dan bangsa Indonesia saat itu.

Berbeda dari Jokowi yang kerap menolak menjawab pertanyaan wartawan, dan menggunakan bahasa yang sederhana ketika memberikan presentasi di forum-forum dunia. Gus Dur sangat lancar menanggapi semua isu yang ditanyakan oleh wartawan internasioanal kepadanya, dan jejaring pergaulan internasional Gus Dur diakui luas.

Jokowi diklaim mirip Gus Dur, yakin? Click To Tweet

Slavoj Zizek, dan Mengapa Guyonan Penting

Menjajaki kesederhaan dan level pikiran keduanya nampaknya bukan dua indikator yang adil, sebab untuk porsi pikiran Jokowi memang sedari awal tidak berkecimpung di dalamnya. Dengan demikian, guyonan akan dijadikan sebagai barometer tanding apakah betul keduanya mirip.

Barometer ini diambil dengan pertimbangan bahwa keduanya adalah orang yang rendah hati dan kerap kali melontarkan guyonan. Kedua, bahwa guyonan adalah hal paling mendasar dari kehidupan, kemampuan beretorika mungkin tidak semua orang miliki, namun membuat guyonan adalah hal paling mendasar untuk hidup, sebab guyonan masuk dalam alat kelengkapan basa basi.

Ketiga bahwa justru dengan guyonan akan tersibak seluruh kerangka berpikir dari seseorang, artinya kita bisa mengetahui perbedaan porsi pikiran antara Jokowi dengan Gus Dur. 

Baca juga :
Polemik Skuter, Anies Telat Adaptasi?

Standar guyonan ini menjadi penting untuk diulas, sebab guyonan adalah yang mampu menguak realitas secara utuh. Dia tidak hanya mempertontonkan diri, namun keseluruhan realitas yang mengitari diri seseorang.

Maka dengan demikian, bagi pemikir politik dan budaya seperti Slavoj Zizek, dia selalu menekankan dalam paket pemikirannya, bahwa apa yang disebut sebagai budaya adalah bukan yang soal-soal adiluhung, bukan tarian-tarian varian warna, atau nyanyi-nyanyian suku tertentu, namun budaya adalah yang menyehari, yang cabul, kata kasar, juga guyonan.

Sebab seluruh budaya yang dipertontonkan ke permukaan adalah kemunafikan itu sendiri, dia tidak menguak substansi dari berbudaya.

Maka guyonan adalah salah satu standar dari upaya pemahaman pada dunia, pada penyibakan realitas. Dua aras mampu dibedah dalam hal ini, yang satu menyasar kekhususan individu, kedua dia mengarah pada kategori umum, yaitu realitas sosial sekitar.

Keseharian adalah justru yang memabngun seluruh jaringan struktur dari realitas, sebab realitas budaya tidak hadir dengan ritus yang sifatnya aksidental, realitas justru hadir dari apa yang rutin dilakukan. Pemahaman atas dunia adalah pemahaman pada yang menyehari.

Dari sanalah, guyonan tidak hanya bekerja sebagai piranti basa basi, namun sekaligus kondensasi dari seluruh kemajemukan pikiran dan kompleksitas intelektual. Guyonan dikerangkeng oleh jejaring pikiran yang sudah terbentuk dalam diri seseorang, guyonan adalah percikan cahaya dari kosmologi epistemologis. Dan justru dari sana kita bisa mengejar sumber utamanya, yaitu lentera budi.

Ada beberapa level guyonan, pertama yaitu guyonan level terendah, dengan jalan mempermainkan fisik, dengan memukul, melemparkan tepung dan lain sebagainya. Kedua, yaitu mengejek diri sendiri maupun teman, dengan mengolok-olok kekurangan pada diri sendiri.

Ketiga, yaitu dengan jalan menceritakan ulang satu kejadian lucu yang bersifat sureal atau melucukan kejadian sehari-hari. Keempat, yaitu humor yang mempergunakan permainan berbahasa, dengan menjadikannya terdengar lucu.

Yang kelima, yaitu humor yang menyasar pada ide, pada konsep, guyonan kasar dan gelap, dia berbentuk sinisisme. Tentu daftarnya terus berlanjut, namun beberapa genre humor tersebut sudah cukup untuk menganalisis baik Jokowi dan Gus Dur.

Menakar Guyonan Gus Dur dan Jokowi

Gus Dur terkenal dengan guyonannya yang abadi. Gus Dur pernah bercerita soal dirinya yang kerap membeli jeroan ayam ketika masih di Mesir. Sang penjual bertanya berapa banyak anjing yang ia miliki sehingga harus setiap hari membeli jeroan. Gus Dur menjawab cukup banyak. Keesokan harinya dia pergi kembali ke pasar kali ini ditemani oleh rekannya sesama mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Mesir.

Baca juga :
Buka Puasa Ala Fadli Zon

Sang penjual ayam kembali berceloteh soal betapa gemarnya anjing Gus Dur makan jeroan. Tatkala berbalik, Gus Dur terkekeh, sebab jeroan tersebut untuk dimakan oleh dia dan teman yang menemaninya.

Bandingkan dengan guyonan Jokowi di tahun 2012, saat dia memaparkan materi stand up comedy-nya. Yang menjadi sorotan utama adalah bagaimana ajudannya yang tampan selalu dikira sebagai Wali Kota Solo, padahal justru dia adalah Wali Kota yang sesungguhnya. Akhirnya Jokowi mengganti dengan ajudan yang berparas tidak lebih tampan dibanding dia.

Gus Dur mampu melontarkan sinisme, di mana dia dan temannya adalah orang miskin yang harus makan setara dengan makanan anjing, dia tak hanya menertawakan dirinya sendiri dan rekannya, dia menertawakan kondisi realitas yang ada, dan sekaligus secara sinis mengkritik kemiskinan yang menggelayuti mereka berdua, level guyonan pada tingkat yang kompleks dan tinggi.

Di sisi lain, Jokowi hanya mampu menertawakan dirinya yang tidak berparas tampan. Dia baru bisa membawakan guyonan di tingkat fisik, belum ide seperti apa yang dilakukan oleh Gus Dur.

Dari sini mampu dilihat bahwa guyonan Gus Dur bertaraf lebih tinggi, dia mampu menguak sebuah realitas yang lebih dalam, dengan demikian nampak dalamnya pikiran dari Gus Dur. Sebaliknya, Jokowi hanya mampu membebani level guyonannya pada tingkat yang sederhana, menunjukkan kesederhaan dari pikiran, dengan demikian sulit untuk mengatakan ia berada di tingkat yang sama dengan Gus Dur.

Maka dengan demikian, pada level pikiran Gus Dur dan Jokowi jauh berbeda. Klaim Yenny bahwa sang Bapak memiliki kesamaan pikiran dengan capres petahana nampaknya tidak terbukti. Ia justru bisa saja dianggap menurunkan kualitas yang sudah tersemat pada sosok Gus Dur yang banyak dikagumi orang karena intelektualitas pikirannya. (N45)