Jeritan Dari Rusun Rawa Bebek

Jeritan Dari Rusun Rawa Bebek
2 minute read

Para korban penggusuran yang saat ini tinggal di Rusun Rawa Bebek mengaku keberatan untuk terus tinggal di rumah susun, karena biaya sewa yang terlalu mahal.


PinterPolitik.com

Menaikkan taraf hidup warga, dari perkampungan kumuh ke tempat lebih baik dan sehat, memang membutuhkan biaya serta pengorbanan besar. Bukan hanya dari Pemerintah Daerah (Pemda) saja yang harus mengeluarkan koceknya dalam-dalam, warganya pun harus ikut mengikat pinggang kencang-kencang.

Itulah yang terjadi sekarang. Niat baik Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk menaikkan taraf hidup warga dari perkampungan nelayan yang kumuh ke rumah susun (rusun), hanya berakhir dengan keluhan. Pasalnya, warga mengaku biaya tinggal di rusun sangat memberatkan.

Padahal, katanya, Pemda sendiri telah mensubsidi biaya sewa mereka sampai 80 persen! Lalu mengapa mereka masih merasa keberatan? Usut punya usut, ternyata para warga yang dipindahkan ini, umumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Jadi wajar saja, bila biaya hidup yang mencapai sekitar Rp 700 ribu sebulan, mereka rasa terlalu berat.


Jadi ketika Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Baswedan, berjanji akan merehabilitasi kembali Kampung Akuarium dengan konsep “kampung deret”, para warga Rusun Rawa Bebek pun seketika mendapatkan harapan baru. Serta merta pun mereka memutuskan akan kembali ke kampung asal mereka dulu.

Pertanyaannya, masih berapa lama pembangunan kampung deret itu akan terlaksana? Dan bagaimana nasib mereka sampai bisa kembali lagi ke tanah asal mereka? Karena bila harus menunggu di rusun, kemampuan mereka sudah tidak ada.

Akhirnya, banyak dari warga yang terpaksa menunggak biaya sewa karena untuk biaya makan sehari-hari pun mereka sudah berupaya seadanya. Apalagi ternyata, pihak pengelola gedung mulai menaikkan sewa seenaknya. Akan kemana mereka bertanya? Pada siapa mereka mengadu?

Jadi inilah dia nasib mereka. Terkatung-katung karena kebijakan Pemda. Sudah tergusur, terbelit utang pula. Wahal para petinggi Pemda, cobalah dengarkan jeritan mereka. Sedikitnya, berempatilah dengan keadaan mereka. Kebijakan penguasa tanpa perhitungan, pada akhirnya akan menghasilkan kepedihan warganya semata. (R24)