Jaringan Global di Teroris Tuban

    Jaringan Global di Teroris Tuban
    Menghapus lambang ISIS (foto: SBS Indonesia)
    7 minute read

    Baku tembak antara polisi dan teroris terjadi dua kali di Jawa Timur. Kali ini siapa dalang di balik aksi teror para pemuda ini?


    PinterPolitik.com

    Serangan dilakukan oleh tujuh orang pemuda pada April Lalu, membuat warga dusun Siwalan, Jenu, gempar dan takut. Peristiwa berawal saat mereka menyerang pos polisi dengan mengeluarkan empat tembakan ke arah polisi yang sedang berjaga. Tembakan amatir yang dikeluarkan dari dalam mobil tersebut tentu saja meleset.

    Para polisi yang terdiri dari tim gabungan Polres Tuban, Kodim Bojonegoro, dan Brimob Polda Jatim, lantas mengejar mobil yang membawa para pelaku. Ketika terdesak, keenam pelaku keluar dari mobil dan melarikan diri ke arah ladang jagung. Baku tembak kembali terjadi, hingga enam dari tujuh pelaku meninggal ditembak polisi.

    Barang bukti seperti enam senapan angin, senjata tajam, satu handy talkie, empat telepon genggam, satu buah mobil, dan beberapa buah buku latihan terorisme, disita polisi. Enam pemuda di ladang jagung tersebut, tak memiliki identitas sehingga jasadnya dibawa ke Rumah Sakit dr. Koesma, Tuban. Sedangkan satu orang bernama Satria (19) yang ditemukan dalam mobil, masih berada dalam pemeriksaan.


    Jenazah salah satu pelaku penembakan diautopsi (foto: Tirto)

    Ketujuh pelaku merupakan anggota Jamaah Anshuriah Daulah (JAD). Aksi ini dilakukan mereka, diduga sebagai sebuah amaliyah atau bentuk balas dendam karena komandan mereka ditangkap pada Jumat April lalu di Lamongan, Jawa Timur oleh anggota Densus 88. Pihak yang ditangkap di Lamongan antara lain, Zainal Anshori, Hendis Effendi, dan Hasan.

     

    Apa Jamaah Anshuriah Daulah (JAD)?

    Organisasi Jamaah Anshuriah Daulah (JAD) dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada (11/1) lalu. Seperti yang dilansir dari Agence France-Presse (AFP), JAD adalah payung utama kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk tahun 2015.

    “Semua kelompok ekstrimis pendukung ISIS di Indonesia, dikumpulkan jadi satu di JAD.” Ujar As’ad Said Ali, wakil ketua Badan Intelejen Negara pada tahun 2015 lalu, tepat seminggu setelah diresmikannya JAD oleh ISIS.

    Beliau melanjutkan, kelompok-kelompok ekstrimis tersebut adalah Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan Mujahidin Indonesia Barat (MIB), ditambah dengan Jamaah Islamiyah dan kelompok Al-Muhajirun, yang keduanya dibentuk oleh anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). JAD membantu ISIS menyuplai para militan ISIS dari kelompok-kelompok tersebut.

    Adalah Aman Abdurrahman, yang berada di balik organisasi ekstrimis JAD. Tidak seperti rekan-rekan sejawatnya yang lain, ulama sekaligus pentolan ISIS di Indonesia ini belum pernah terjun langsung dalam medan perang. Dia juga tidak pernah berkonflik dengan sesama jihadis di Afganistan, Irak, Suriah, atau aliran sektarian domestik. Ceramahnya mampu ‘membakar’ dan menularkan ide-ide ekstrimis sehingga berhasil merekrut banyak pengikut.

    Atas pengaruhnya itu, Abu Bakar Ba’asyir, mantan petinggi jaringan terorisme nasional, bersedia bergabung dengan ISIS. Keputusan Ba’asyir yang dikeluarkannya di dalam penjara itu, seperti yang dilansir The Jakarta Post, membuat marah dan kecewa keluarganya dan para loyalis yang sejak dulu mendukung Al-Qaeda. Sejak awal, Abu Bakar Ba’asyir berpegang pada ideologi memerangi Barat, sedangkan Aman Abdurrahman dengan ideologi takfiri, berusaha mengembalikan masa kejayaan kekhalifahan Islam dan mengkafirkan tiap muslim yang tidak sejalan dengan visi misinya.

    Abu Bakar Ba’asyir (foto: Google)

    Aman bukanlah orang sembarangan. Ia lulus dengan predikat cumlaude  dari LIPIA (Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab), Jakarta Selatan fakultas Syari’ah. Mendapat kesempatan melanjutkan S2 dengan beasiswa ke Arab, namun tak diambilnya. LIPIA sendiri adalah cabang Universitas Islam Imam Muhammad ibn Saud di Riyadh, Saudi Arabia. Ia juga produktif menghasilkan banyak tulisan terkait politik dan tauhid (aqidah Islam). Di dalam Lapas Nusa Kambangan, ia mampu mengendalikan 200-300 muridnya, hingga menjadi pembimbing aksi pengeboman yang terjadi di Sarinah, Jakarta Pusat 2016 lalu.

    Aman Abrurrahman dalam Lapas Nusa Kambangan (foto: Google)

    Ketua Badan Nasional Penganggulangan Terorisme (BNPT), Ansya’ad Mbai mengatakan, “Aman dapat memikat banyak orang melalui kefasihannya berbicara (agitasi). Para ekstrimis menaruh hormat yang tinggi padanya karena luasnya pengetahuan agama dan kelancarannya berbahasa Arab.”

    Kesamaan Geografis, Jaringan, dan Tujuan

     Tentu saja hubungan JAD dengan kelompok-kelompok ekstrimis lainnya di Indonesia menarik untuk diulur. Maria A. Ressa, jurnalis Filipina dan penulis buku Seeds of Terror: An Eyewitness Account of Al-Qaeda’s Newest Center Operations in Southeast Asia membeberkan relasi dan sejarahnya.

    Menurutnya, ISIS sudah menebar jaring-jaring pengaruhnya di Asia Tenggara sejak 2014. Di Indonesia sendiri, relasi tersebut bermula di sebuah Pondok Pesantren Ngruki di Lamongan, Jawa Timur. Ini bisa dihubungkan kepada aksi teror para pemuda Tuban, atas balasan ditangkapnya komandan mereka di Lamongan, Jawa Timur.

    Pondok Ngruki bukanlah basis terorisme nasional secara de facto, namun sejak Ba’asyir memimpin Jamaah Islamiyah (JI), pelaku pengeboman dan terorisme negeri mayoritas jebolan dari Pondok Ngruki. Contohnya adalah Ali Gufron (Adik Amrozi, pelaku bom Bali), Bahrun Naim, hingga pelaku pengeboman di Solo dan Jakarta tahun 2016, Farhan Mujahiddin, Muchsin Tsani, dan Firmansyah. Pada Maret 2015, dua kakak beradik beserta anak-anaknya yang merupakan murid dan alumni Pondok Ngruki, bahkan dideportasi dari Turki karena ketahuan menyebrangi perbatasan untuk masuk ISIS.

    Tito Karnavian (foto: Tempo)

    Jaringan Lamongan, menurut Maria, bergandengan tangan dengan Poso sebagai lokasi pelatihan operasi militer pengikut ISIS. Poso masuk dalam kawasan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Santoso. Sama halnya seperti JAD, MIT juga ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat. MIT, seperti yang dilansir oleh kepolisian Indonesia Tito Karnavian, mendapatkan bantuan logistik langsung dari ISIS.

    Jaringan Lamongan, Santoso, Abu Jandal, serta Aman Abdurrahman memiliki keterkaitan dan hubungan satu sama lain dengan ISIS. Mereka adalah kelompok yang bertanggung jawab merekrut militan Indonesia masuk ISIS dan menerima donor secara langsung dari ISIS.

    Masa Depan Terorisme Indonesia

    PBB sudah mengeluarkan ancang-ancang bahwa serangan atau aksi terorisme di Asia Tenggara akan semakin tinggi. Hal ini dikaitkan dengan catatan tahun lalu tentang penangkapan dan kematian terduga teroris yang mencapai 170 kasus. Di Filipina, pengeboman dan penyanderaan oleh kelompok yang berelasi dengan ISIS, Seperti Abu Sayyaf sudah mencapai dari 800 kasus, sedangkan di Thailand sudah mencapai angka kematian 300 orang.

    Douglas dan Gyte dari PBB, melanjutkan bahwa ISIS akan terus memperluas pengaruhnya di Asai Tenggara sembari terus memantau dari Timur Tengah. Pihak IS menggunakan wacana penidasan Rohingnya sebagai alasan memerangi rezim pemerintahan yang menindas kaum muslim.

    Muslim Rohingya merupakan kelompok minoritas di Burma, Myanmar. Dalam negara yang didominasi oleh Budha, eksekusi dan perkosaan dianggap wajar dilakukan oleh para aparat militer Burma. Gyte melanjutkan, aksi kejam tersebut membuat Indonesia dan Malaysia marah, di sisi lain isu tersebut digunakan oleh IS untuk agenda ‘kebebasan’ ala mereka.

    John T Sidel dalam Riots Pogroms Jihad mengungkapkan bahwa aksi teror merupakan bentuk respon dari pemerintahan korup terdahulu. Namun, patut diingat pula bahwa aksi terorisme dalam sejarahnya belum mampu menumbangkan rezim atau mengubah sistem pemerintahan yang korup dan menindas dengan sistem yang baru. Al-Qaeda yang sudah mulai ditinggalkan, maupun ISIS, atau organisasi terorisme lainnya, belum juga berhasil mendirikan negara khilafah anti Barat. Sebaliknya, aksi-aksi teror tersebut semakin memperkuat otot-otot rezim dan menjadikannya berlipat ganda.

    Di Indonesia, dalam satu dekade, mulai dari kasus bom Bali, bom Kedubes Australia, hingga Sarinah, negara dan aparat keamanan sudah melakukan tindakan ekstra yudisial, hingga membuka kedok-kedok jaringan terorisme nasional. Namun, Institute of Policy Analysis Conflict menyatakan, Indonesia belum mampu menangkal bibit-bibit terorisme, walau sangat sukses dalam aksi pengejaran pelaku dan tahapan setelah investigasi. Inilah sisi yang harus diperhatikan kembali oleh pihak yang berwenang, terutama Densus 88.

    Memahami propaganda ISIS yang disebarkan melalui media sosial sebagai senjata utama juga patut diwaspasdai. Time mencatat, sebanyak 3000 sosial media yang mendukung ISIS di Asia Tenggara, 70 persennya berasal dari Indonesia. Hal ini menjawab banyaknya anak-anak muda yang akrab dengan gawai dan sosial media tergiur ideologi ISIS, entah dalam latar, ekonomi, ideologi, dan lain-lain.

    Salah satu contoh akun Twitter pendukung ISIS (foto: Google)

    Rohan Gunaratna, kepala Internasional Centre for Political Violence and Terrorism Research di Nanyang  Technological University, Singapura mengungkapkan hal lain yang perlu dipahami oleh pemerintah dalam menangkal pengaruh ISIS antara lain, menambahkan personil Densus 88, mengkriminalisasi semua kelompok yang memiliki afiliasi ISIS yang berpopaganda melalaui daring dan memahami aksi terorisme sebagai sebuah keterhubungan ancaman global.

    Al-Qaeda memang sudah ditinggalkan pengikutnya, sekarang giliran ISIS menampung para pemuda yang terjebak ekstremisme. Jika pemerintah tidak berusaha menghadang bibit-bibit terorisme, maka ketakutan dan kematian sia-sia seperti pemuda di Tuban tersebut akan terus terjadi. (Berbagai Sumber/A27)