Iriawan, Dendam PDIP-Demokrat

Iriawan, Dendam PDIP-Demokrat
Eva Sundari menyebut Demokrat pernah mengangkat Jenderal TNI aktif sebagai Pj Gubernur Sulawesi Selatan tahun 2008. (Foto: istimewa)
2 minute read

“Hari ini kumasih bertahan, mungkin esok aku bisa muak, lihat tingkahmu, gayamu makin berubah, dan aku benci!” – Jamrud, ‘Aku Benci’


PinterPolitik.com

[dropcap]H[/dropcap]ubungan politik antara PDIP dengan Partai Demokrat memang nggak ada habisnya buat dibahas. Menurut Abdul, kedua partai ini ibarat Tom dan Jerry, dua karakter kartun yang diciptain oleh William Hanna dan Joseph Barbera. Nggak ada akur-akurnya.

Tapi nih ya, kalau dilihat-lihat, kayaknya PDIP deh yang lebih sering baperan. Secara pasca Pilpres 2004 yang katanya jadi pemicu keretakan, upaya Demokrat untuk membina kembali hubungan baik selalu mental. Kayaknya PDIP dendam banget sama partai biru itu.

Rasa-rasanya, hubungan keduanya juga nggak akan baik dalam waktu dekat. Bahkan, wacana koalisi bersama untuk mendukung Jokowi juga makin sulit terwujud. Secara, koalisi untuk pasangan capres-cawapres itu kan kayak menjodohkan anak buat dinikahin. Lha gimana nikahnya kalau berantem terus?

Isu terbaru adalah terkait pengangkatan Komjen Iriawan sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat oleh Mendagri Tjahjo Kumolo – sang politisi PDIP. Demokrat dan beberapa partai lain menyebut PDIP tidak bisa begitu saja mengangkat Iriawan yang adalah seorang polisi aktif.


Isu ini menjadi pergunjingan para tukang gorengan karena PDIP melalui Sekretaris Badan Pelatihan dan Pendidikan DPP PDIP, Eva Kusuma Sundari membalas dengan menyebut Demokrat pernah mengeluarkan kebijakan yang sama. Ia menunjuk keputusan mengangkat Mayjen TNI Ahmad Tanribali sebagai Pj Gubernur Sulawesi Selatan tahun 2008.

Demokrat membantah dan menyebut Tanribali sudah alih status menjadi PNS Kemendagri saat itu.

Lha, ini kok pada saling cari aib dan buka-buka rahasia? Kayak pasangan kekasih yang lagi berantem.

“Kamu tuh yang nggak setia!” ‘Eh, kok malah aku? Kamu tuh yang ngedeketin tetangga rumah!’ “Kamu tidurnya ngorok!” ‘Eh, enak aja, kamu tuh yang jarang mandi!’ “Yang kamu lakukan ke aku itu…JAHAT!” ‘Eh, enak aja, kamu tuh yang penjahat!’

Husss, husss. Cukup sandiwaranya Meriam Bellina! Eh? Kan, jadi kebawa-bawa suasana gara-gara PDIP vs Demokrat ini.

Hmm, singkatnya hubungan dua partai ini jadinya nggak sehat buat politik Indonesia. Penuh dendam dan saling tuduh serta benci. Makanya, menurut Abdul, bakal susah deh jika dua partai ini pengen bikin koalisi mendukung Jokowi. Demokrat-nya sih mau, tapi PDIP-nya baperan terus.

Sebenarnya, saling tuduh ini juga menjadi indikator bahwa dua partai memang lagi “berperang” di belakang Jokowi. Jadinya bakal ribut terus deh republik ini.

Menurut Abdul sih, selama elit partai bisa berdamai, yang di bawah pasti akur. Lha kalau elitnya saling dendam terus, nggak kelar-kelar perang Negara Api vs Suku Air ini. Hmm. (S13)