
Lewat disertasi doktoralnya di Universitas Indonesia, Yusril Ihza Mahendra membaca ulang pemikiran Mohammad Natsir dan menawarkan jawaban lewat konsep demokrasi teistik: sebuah jalan ketiga yang bukan sekularisme pragmatis, bukan pula negara teokratis.
Kuncinya ada pada satu hal yang sering luput, yaitu etika peradaban sebagai fondasi. Tanpa itu, kata Natsir, konstitusi dan perangkat negara sekokoh apa pun akan terasa hampa dan tidak berjiwa.
Menariknya, fondasi etis ini bukan milik satu agama. Natsir menyebutnya kalimatin sawa, yakni titik temu nilai lintas-iman, sehingga etika tauhid berjalan paralel dengan etika semua agama yang hidup di Indonesia.
Geser untuk memahami gagasannya.
#pinterpolitik #jaganegeri #Yusril #YusrilIhzaMahendra #MohammadNatsir