
Film Obsession lagi ramai. Nikki tampak “gila”, padahal dia korban, bukan pelaku. Yang mematahkan jimat justru Bear, si incel.
Tanpa sengaja, film ini membongkar satu mekanisme paling tua dalam politik gender: menuduh perempuan “gila” justru saat ia sedang dikendalikan.
Fenomena “cegil” terasa khas Indonesia. Tetapi mekanismenya universal, dari crazy ex-girlfriend di AS, hysteria di Inggris, sampai politisi perempuan dunia yang dicap “histeris” atau “terlalu emosional”.
Dan label itu juga bekerja di politik kita. Bukan berarti tokoh-tokoh ini “cegil”, justru sebaliknya. Perhatikan polanya: emosi, tubuh, kecerdasan perempuan lebih cepat dibaca sebagai “masalah”, sementara hal yang sama pada laki-laki disebut “tegas” atau “pakar”.
Ada satu tes sederhana: hilangkan gendernya. Kalau kritik tetap masuk akal untuk laki-laki, itu substantif. Kalau kehilangan tenaganya, di situlah bias bekerja.
Kritik substantif tetap sah untuk siapa pun. Yang kita bongkar bukan haknya dikritik, tapi kosakata yang punya kemiringan sejarah.
Geser sampai habis, dan tanyakan pada dirimu: setiap kali seorang perempuan disebut “gila”, siapa sebenarnya yang mematahkan jimat itu?
#pinterpolitik #jaganegeri #Obsession #cegil #perempuan