Dengarkan artikel ini:
Sir David Beckham resmi jadi “Sir” dari Raja Charles III. Apa yang sebenarnya bisa dipelajari Indonesia, khususnya Danantara, dari kisah Beckham?
“Playing football is very simple, but playing simple football is the hardest thing there is.” – Johan Cruyff (1947-2016)
Cupin masih ingat ekspresi David Beckham waktu itu—berdiri gagah di Windsor Castle, mengenakan jas abu-abu dan dasi perak, sementara Raja Charles III menempelkan pedang ke bahunya. “Sir David Beckham,” kata sang raja dengan aksen Inggris yang nyaris seperti di film The Crown. Cupin yang menonton lewat YouTube spontan berkomentar, “Tuh orang bukan cuma ganteng, tapi sekarang resmi jadi bangsawan.”
Tapi di balik kemewahan upacara itu, ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar penghormatan simbolik. Peneliti dari Northeastern University menyebut sistem knighthood sebagai cara Inggris mengekspor pengaruh budayanya ke dunia. Mereka menulis, “Apakah lewat sepak bola dan David Beckham, The Beatles, atau Gary Oldman, Inggris selalu menggunakan simbol-simbol kebanggaan nasional untuk menegaskan identitas globalnya.”
Beckham adalah contoh paling menonjol. Ia bukan hanya ikon olahraga, tapi juga “produk ekspor” budaya Inggris yang sukses di panggung internasional. Di setiap iklan, wawancara, dan kegiatan amalnya, ada semacam pesan terselubung: Inggris itu keren, modern, dan humanis.
Namun, perjalanan Beckham tidak berhenti di ruang megah Windsor. Ia kemudian melangkah ke wilayah yang bahkan lebih menantang: Amerika Serikat. Negeri yang lebih identik dengan baseball dan American football itu dulunya memandang sepak bola seperti makanan diet—terlalu ringan buat selera lokal. Cupin, sambil menyeruput kopi, cuma bisa geleng-geleng, “Siapa juga yang berani jual sepak bola ke negara yang lebih cinta Super Bowl daripada Piala Dunia?”
Namun Beckham melakukannya, dan dunia berubah. Ia bukan sekadar datang sebagai pemain, tapi sebagai visioner bisnis yang membawa ide baru tentang bagaimana sepak bola bisa menjadi platform ekonomi dan soft power. Dan di sinilah Cupin mulai berpikir—kalau Beckham bisa mengubah Amerika, apakah Danantara, lembaga investasi baru Indonesia, juga bisa melakukan hal serupa di sini?
Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh. Tapi bukankah banyak hal besar justru dimulai dari ide yang terdengar gila? Cupin tersenyum—karena bahkan Sir David dulu dianggap mimpi di siang bolong saat pertama kali mendarat di Los Angeles.
Soccer-ization Amerika dan Strategi Bisnis Beckham
Ketika Beckham menandatangani kontrak dengan LA Galaxy pada 2007, dunia sepak bola terperangah. Dari Real Madrid yang penuh bintang ke liga yang bahkan tak punya promosi-degradasi? Cupin sempat mengira Beckham cuma cari matahari California dan kehidupan selebriti bersama Victoria. Tapi ternyata ada strategi brilian di balik langkah itu.
Gajinya memang turun drastis, dari $20 juta di Madrid jadi “hanya” $6 juta per tahun. Namun Beckham menegosiasikan hal yang jauh lebih bernilai: persentase dari seluruh pendapatan klub—tiket, merchandise, hingga sponsorship. Akibatnya, menurut data Forbes, penghasilannya justru melonjak hingga $50 juta per musim. Cupin sampai mencatat di notes-nya: “Orang pintar bukan yang cari gaji tinggi, tapi yang bikin sistemnya ngasih uang balik tanpa kerja.”
Yang paling jenius adalah klausul tersembunyi: hak membeli klub Major League Soccer (MLS) dengan harga $25 juta setelah pensiun. Tahun 2018, Beckham mengeksekusi opsi itu dan lahirlah Inter Miami. Kini valuasinya mencapai $1,2 miliar dengan pendapatan tahunan $180 juta—menjadikannya salah satu klub termuda namun terkaya di MLS.
Namun dampaknya lebih besar dari sekadar angka. Kedatangan Beckham memicu revolusi: penonton MLS meningkat 25% dalam dua tahun, stadion-stadion baru bermunculan, dan jumlah klub melonjak dari 12 jadi hampir 30. Liga yang dulu dianggap “liga pensiunan” berubah jadi magnet global. Cupin bahkan melihat anak-anak Amerika mulai menendang bola di taman-taman—sesuatu yang dulu hampir tak terbayangkan.
Secara akademik, fenomena ini tak muncul begitu saja. Thomas Hoehn dan Stefan Szymanski dalam “The Americanization of European Football” menjelaskan bagaimana sistem bisnis Amerika—revenue sharing, hak siar kolektif, dan closed league—menciptakan stabilitas finansial jangka panjang. Beckham memanfaatkan prinsip ini dengan sempurna, menciptakan ekosistem di mana kesuksesan satu klub ikut mengangkat seluruh liga.
Dan kalau mau bicara skala besar, Arab Saudi juga tak mau ketinggalan. Public Investment Fund (PIF) mereka membeli Newcastle United senilai £300 juta pada 2021, lalu mengambil alih empat klub besar Saudi Pro League pada 2023. Nilai liga pun melonjak dari €370 juta jadi hampir €1 miliar dalam dua tahun. Cupin, sambil membaca laporan di Journal of Sport and Society, menemukan bahwa tujuan mereka bukan cuma “sportswashing,” melainkan bagian dari Vision 2030 untuk mendiversifikasi ekonomi dan memperkuat citra global.
Lihat saja hasilnya: Ronaldo, Benzema, dan Kante kini bermain di liga yang dulu tak dilirik siapa pun. Penonton internasional meningkat, hak siar global dijual ke lebih dari 40 negara, dan Arab Saudi berhasil menempatkan dirinya sebagai kekuatan baru di peta sepak bola dunia.
Baik Beckham maupun PIF, keduanya memahami satu hal yang sama: sepak bola bukan hanya olahraga, tapi alat diplomasi dan bisnis global. Beckham membangun soft power Inggris lewat gaya, sementara Saudi membangunnya lewat kekuatan modal. Cupin lalu menatap peta Indonesia di dinding dan bertanya pelan, “Kalau Amerika bisa, kalau Arab bisa, kenapa Indonesia belum mencoba?”
Toh, pasar kita jauh lebih besar, penonton lebih fanatik, dan gairahnya tak tertandingi. Mungkin yang kurang hanya satu—visi dan keberanian untuk memperlakukan sepak bola bukan sebagai hiburan mingguan, tapi investasi jangka panjang.
Danantara dan Peluang Emas Indonesia
Cupin masih ingat headline besar itu: “Indonesia Luncurkan Danantara, Sovereign Wealth Fund Baru.” Modal awalnya $61 miliar, dengan target mencapai hampir $1 triliun aset pada 2029. Itu berarti Danantara berpotensi menjadi lembaga keuangan terbesar keempat di dunia. Tujuannya jelas: mengoptimalkan aset BUMN, menarik investasi asing, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun di antara daftar prioritasnya—dari infrastruktur digital hingga energi terbarukan—tidak ada kata “sepak bola.” Cupin yang membaca proposal itu hanya bisa mengernyit, “Padahal bola itu sektor paling menjanjikan buat soft power Indonesia.”
Lihat saja datanya: pada musim Liga 1 2024/25, total penonton mencapai hampir tiga juta orang. Itu artinya, setiap pekan stadion di seluruh Indonesia dipenuhi massa yang lebih banyak daripada total pengunjung bioskop dalam sebulan. Tahun 2018 bahkan jadi musim dengan penonton terbanyak dalam sejarah—3,07 juta orang. Angka yang menggambarkan gairah luar biasa, tapi belum dikelola sebagai aset ekonomi.
Coba bayangkan kalau Danantara mulai berinvestasi di klub-klub besar seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, atau Bali United. Dengan modal dan manajemen yang profesional, klub-klub ini bisa naik kelas jadi perusahaan bernilai ratusan juta dolar. Cupin menulis di buku catatannya: “Kalau Beckham bisa ubah LA Galaxy jadi bisnis, kenapa Persib tak bisa jadi versi Bandung-nya Inter Miami?”
Langkah-langkahnya bisa dimulai dari hal konkret. Pertama, modernisasi infrastruktur—membangun stadion seperti Miami Freedom Park yang berfungsi juga sebagai kompleks komersial. Kedua, pengembangan akademi pemain, agar Indonesia bisa mengekspor talenta muda ke Eropa. Ketiga, membawa pemain internasional ke Liga 1 untuk menarik minat global. Keempat, menegosiasikan hak siar internasional secara terpusat. Dan terakhir, menjalin kemitraan strategis dengan klub-klub Eropa agar terjadi transfer teknologi dan pengalaman.
Keuntungannya bukan hanya finansial. Ini soal nation branding. Ketika Messi gabung Inter Miami, dunia tiba-tiba menatap MLS. Ketika PIF membeli Newcastle, dunia bicara tentang Arab Saudi. Dengan langkah yang sama, Indonesia bisa memosisikan diri sebagai pusat baru sepak bola Asia Tenggara. Pariwisata melonjak, lapangan kerja terbuka, dan yang terpenting—muncul rasa bangga nasional yang otentik.
Secara teoritis, inilah contoh sempurna dari soft power economy. Joseph Nye, dalam karya klasiknya Soft Power: The Means to Success in World Politics (2004), menulis bahwa kekuatan budaya seringkali lebih efektif dari kekuatan militer. Sepak bola adalah manifestasi paling konkret dari ide itu—alat diplomasi yang menghubungkan emosi publik lintas negara.
Apalagi, Indonesia punya keunggulan demografis: 270 juta penduduk, mayoritas muda, dan sebagian besar penggemar sepak bola. Potensi pasarnya jauh lebih besar dari Amerika saat Beckham datang ke MLS. Yang kita butuhkan hanyalah manajemen profesional dan keberanian berinvestasi. Cupin membayangkan: stadion modern di Bandung, akademi di Yogyakarta, dan hak siar Liga 1 tayang di platform global.
Danantara punya semua yang diperlukan untuk mewujudkan itu—modal besar, legitimasi politik, dan jaringan internasional. Seperti Beckham dulu yang berani bermimpi di Los Angeles, Indonesia kini berada di posisi serupa. Tinggal satu langkah: berani menjadikan sepak bola bukan hanya tontonan, tapi kendaraan menuju kemandirian ekonomi dan citra global yang kuat.
Cupin menutup bukunya sambil tersenyum. “Beli Suarez” mungkin cuma candaan, tapi ide di baliknya serius: bukan membeli pemain, tapi membeli visi. Kalau Beckham bisa mengubah sepak bola Amerika dengan $6 juta dan mimpi panjang, bayangkan apa yang bisa dilakukan Danantara dengan $61 miliar dan semangat 270 juta jiwa.
Sepak bola, ujarnya pelan, bukan sekadar 90 menit di lapangan. Ia adalah panggung ekonomi, diplomasi, dan kebanggaan nasional—yang menunggu untuk dimainkan Indonesia. Dan mungkin, sudah waktunya peluit pertama itu ditiup. (A43)
