Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Video Call, Blusukan Baru Jokowi?

Video Call, Blusukan Baru Jokowi?


A43 - Wednesday, September 30, 2020 14:00
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika melakukan video call dengan dr. Faisal Rizal Matondang, Sp.P dan membahas perihal situasi penanganan Covid-19 di rumah sakit. (Foto: BPMI)

0 min read

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghubungi seorang dokter, perawat, dan guru melalui video call dan saling berbagi kisah mengenai kehidupan profesional yang dilalui dalam menghadapi pandemi Covid-19. Apakah ini cara baru dari blusukan ala Jokowi?


PinterPolitik.com

“In Indonesia, walkin' and connecting with the people” – 6LACK, penyanyi rap asal Amerika Serikat (AS)

Siapa yang sadar bahwa banyak teknologi baru yang umat manusia miliki saat ini sebenarnya berasal dari gagasan dan ide yang telah lama muncul? Bahkan, terkadang, ide-ide akan teknologi masa depan itu datang dari gambar layar lebar.

Sejumlah teknologi – seperti telepon seluler (ponsel), artificial intelligence (AI), mobil nir-pengemudi, dan sebagainya – telah lama diprediksi oleh film-film yang dibuat oleh Hollywood. Star Trek (1966), misalnya, disebut-sebut menjadi inspirasi bagi lahirnya ponsel beberapa dekade setelah seri dan filmnya diproduksi.

Kabarnya, ponsel berantena yang digunakan di seri dan film tersebut menjadi inspirasi bagi insinyur Motorola yang bernama Martin Cooper. Cooper akhirnya membuat desain ponsel pertama di dunia pada tahun 1973.

Selain itu, sejumlah fitur yang ada di ponsel juga sebenarnya telah ada dalam imajinasi para pembuat film. Salah satunya adalah videophone – atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah “video call”.

Lebih tua lagi, teknologi videophone telah muncul dalam sebuah film yang dirilis pada tahun 1927. Salah satu film yang menunjukkan teknologi serupa adalah Metropolis (1927).

Dalam film itu, Joh Federsen tampak menggunakan sebuah mesin telepon yang disertai sebuah layar. Videophone tersebut dilakukan dengan berbicara di depan layar sambil memegang gagang telepon.

Selain Metropolis (1927), terdapat juga film yang berjudul 2001: A Space Odyssey (1968) yang dianggap menunjukkan penggunaan videophone yang lebih mirip dengan masa kini. Dalam film tersebut, videophone dilakukan melalui sebuah komputer – mirip dengan aplikasi seperti Skype dan Zoom.

Meski telah lama berkembang di dunia nyata dan terintegrasi dalam ponsel yang kita bawa ke mana-mana, videophone tampaknya benar-benar mencapai tingkat penggunaan baru di tengah pandemi. Hampir setiap warga yang memiliki akses terhadap teknologi ini kini menggunakan video call sebagai medium komunikasi.

Cara komunikasi dengan menampilkan wajah secara real-time ini pun juga digunakan oleh pemerintah Indonesia – dan tak terkecuali oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ketika rapat dengan para menteri, misalnya, Jokowi menggunakan aplikasi video conference agar protokol kesehatan Covid-19 tetap terjaga.

Selain itu, mantan Wali Kota Solo tersebut tampaknya juga menggunakan teknologi videophone untuk menyapa warganya. Beberapa waktu lalu, Jokowi menghubungi sejumlah warganya yang berprofesi sebagai dokter, perawat, dan guru.

Beberapa dari mereka membagikan kisah personal mereka dalam menjalani kehidupan profesionalnya di tengah pandemi. Bahkan, dalam salah satu video call tersebut, dr. Faisal Rizal Matondang, Sp.P bahkan menyampaikan keluh kesahnya akan kurangnya tenaga kesehatan yang tersedia dalam menangani pasien-pasien Covid-19.

Namun, sejumlah video call yang dilakukan oleh Jokowi ini mengundang beberapa pertanyaan. Mengapa Sekretariat Presiden (Setpres) merasa perlu mengunggah percakapan-percakapan tersebut secara daring? Selain itu, apakah ini bagian dari straregi komunikasi politik ala Jokowi yang baru?

Dampak Psikologis

Dalam video call yang dilakukan Jokowi, guru, dokter, dan perawat tersebut saling membagikan kisah soal situasi pekerjaan dan pengalaman personal yang mereka alami dalam menghadapi pandemi Covid-19. Bukan tidak mungkin, dengan video call tersebut, mereka yang profesinya bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 dapat merasa lebih didukung.

Bagaimana pun, berbagi kisah dan cerita merupakan salah satu teknik psikologis yang mampu membantu seseorang dalam melalui perjuangan yang dihadapinya. Setidaknya, asumsi serupa dijelaskan oleh Elaine J. Lawless dalam bukunya yang berjudul Women Escaping Violence.

Lawless menghubungkan bagaimana kisah-kisah kehidupan para perempuan yang menghadapi kekerasan dan dominasi budaya patriarkis dapat menimbulkan narasi (narratives) yang mampu menguatkan perasaan akan diri sendiri. Setidaknya, kisah yang mereka ceritakan mampu membawa dampak therapeutic terhadap para pencerita.

Bukan tidak mungkin, Jokowi ingin mereka mendapatkan efek therapeutic melalui video call tersebut. Pasalnya, seperti yang banyak diperbincangkan, para tenaga kesehatan mulai kewalahan dalam menangani jumlah pasien yang terus meningkat setiap harinya.

Selain itu, berbagi kisah pengalaman personal (personal experience narratives) juga dapat memotivasi para pendengarnya. Menurut Lawless, pembagi cerita secara tidak langsung meminta pendengar untuk memahami kesulitan yang dialaminya.

Kisah yang dibagikan dapat menjadi cara agar para pendengar “berpartisipasi” dalam perjuangan yang dilalui pembagi cerita. Bukan tidak mungkin, Jokowi ingin kisah mereka dapat tersalurkan melalui video call yang diunggahnya di YouTube.

Pasalnya, sebagian masyarakat disebut masih belum memiliki kesadaran akan pengamalan protokol kesehatan – seperti mengenakan masker dan menjaga jarak. Cuplikan video call yang berisi narasi kisah guru, dokter, dan perawat tersebut bisa saja menjadi cara agar publik mau “berpartisipasi” dalam menghalau virus Corona (SARS-Cov-2).

Mungkin, manfaat psikologis dari kisah mereka dapat menjadi hal yang positif. Namun, pertanyaan lanjutan pun tetap ada. Apakah mungkin ada dinamika politik yang melandasi video call Jokowi tersebut? Apa dampak politiknya?

Strategi Blusukan Baru?

Selain memiliki manfaat psikologis, narasi juga dapat memiliki pengaruh politik. Bahkan, narasi dapat menjadi penguat terhadap branding dari seseorang atau kelompok.

Asumsi ini dijelaskan oleh Deborah N. Simorangkir dari Swiss German University dan Sigit Pamungkas dalam tulisan mereka yang berjudul Strategic Political Communication through Storytelling. Tulisan itu menjelaskan bahwa persona dari sebuah merek atau individu dapat diilustrasikan dalam narasi atau kisah.

Simorangkir dan Pamungkas mencontohkan beberapa persona yang dapat terbentuk dari sebuah kisah, seperti rebel yang melawan otoritas, mom yang memelihara, rugged individualist yang terkesan egois, champion yang melawan kekuatan-kekuatan jahat, dan underdog yang terus berjuang meski selalu diremehkan atau dianggap lemah.

Dengan terciptanya brand atau persona tersebut, narasi dan kisah dianggap dapat menjadi taktik yang bermanfaat dalam strategi komunikasi politik. Bahkan, Simorangkir dan Pamungkas menyebutkan bahwa Jokowi kerap menggunakan kisah sebagai bagian dari strategi komunikasi politik – misal melalui komik yang biasa diunggah oleh Jokowi di akun-akun media sosial.

Menariknya, video call yang dilakukan Jokowi bisa jadi bukan hanya sebatas menciptakan narasi, melainkan juga bagaimana teknik komunikasi itu bisa dibilang mirip dengan apa yang biasa dilakukan oleh mantan Wali Kota Solo itu, yakni blusukan.

Blusukan sendiri berasal dari istilah dalam bahasa Jawa, yakni blusuk (masuk ke tempat-tempat kecil). Betty Gama dan timnya dalam tulisan mereka yang berjudul Blusukan Cultural as a Political Power in The Regional Head Election of Surakarta menjelaskan bahwa blusukan adalah upaya untuk mencari tahu kondisi akan suatu tempat.

Upaya blusukan ini kerap dilakukan oleh raja dan bangsawan Jawa. Beberapa raja dan bangsawan yang disebutkan oleh Gama dan timnya adalah Pakubuwono V, Mangkunegoro I, dan Sultan Hamengkubuwono IX.

Blusukan yang dilakukan oleh Pakubuwono V, misalnya, terjadi ketika krisis pangan di Surakarta. Akhirnya, sang raja memutuskan untuk mencari asal muasal persoalannya dengan anjajah desa milang kori yang artinya adalah berkeliling layaknya orang biasa.

Upaya untuk mencari persoalan dengan terjun dan berkeliling dengan orang-orang biasa inilah yang bisa jadi dilakukan oleh Jokowi. Pasalnya, sang presiden juga berusaha mencari tahu bagaimana situasi penanganan pandemi Covid-19.

Namun, upaya blusukan daring ala Jokowi ini juga mengingatkan kita akan dinamika politik yang mengitari sang presiden, yakni kekuatan-kekuatan politik lain di kabinetnya. Pasalnya, dengan latar belakang sebagai political outsider (di luar lingkaran kuasa elite politik), pemerintahannya rentan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan elite politik dan oligarki.

Lemahnya pengaruh Jokowi ini, misalnya, mulai terlihat dari bagaimana sang presiden telah beberapa kali menunjukkan kemarahannya dalam rapat kabinet. Namun, aura krisis para menteri justru terkesan biasa-biasa saja.

Maka dari itu, mirip dengan apa yang dilakukan oleh Pakubuwono V, Jokowi bisa saja menggunakan blusukan secara online itu guna kembali menekankan bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat.

Marcus Mietzner dalam bukunya yang berjudul Reinventing Asian Populism menjelaskan bahwa blusukan menjadi penting bagi Jokowi karena dapat memunculkan empati emosional antara dirinya dengan masyarakat. Hal inilah yang menjadikan mantan Wali Kota Solo tersebut berbeda dengan para politisi pada umumnya.

Meski begitu, gambaran kemungkinan yang melandasi video call oleh presiden di atas belum tentu benar adanya. Yang jelas, pemerintahan Jokowi kini menghadapi tantangan yang berat dari pandemi Covid-19, baik itu tantangan kesehatan, ekonomi, maupun politik. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait