Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Teror Makassar Menginspirasi Serangan ke Mabes Polri?

Teror Makassar Menginspirasi Serangan ke Mabes Polri?


R53 - Friday, April 2, 2021 8:00
Foto: Antara

0 min read

Setelah ledakan bom di Makassar, polisi setidaknya menangkap 13 terduga teroris dan mengamankan 5 bom aktif. Tidak lama berselang, secara mengejutkan aksi teror ke Mabes Polri dilakukan oleh seorang perempuan menggunakan pistol airgun. Mungkinkah aksi teror di Makassar adalah inspirasi dari serangan di Mabes Polri?


PinterPolitik.com

Seseorang melakukan tindakan kejahatan bukan karena ia monster atau iblis. Tindakannya bukan karena ia memiliki kelainan jiwa, kegilaan khusus, atau memiliki sikap kejam dan sadis dalam dirinya, melainkan karena ia bertindak hanya berdasarkan perintah di luar dirinya.” – Rieke Diah Pitaloka, dalam buku Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat

Berdasarkan kajian penelitian The Habibie Centre (THC), hampir 74 persen serangan terorisme pada 2017-2018 menargetkan polisi. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar bahkan menyebutkan polisi menjadi salah satu target utama serangan teroris sejak 2010 lalu. Tentu pertanyaannya, mengapa itu terjadi?

Setidaknya ada dua alasan atas fenomena tersebut. Pertama, teroris menyebut polisi sebagai thogut atau thagut karena mereka bertugas melindungi negara kafir. Laber kafir ini merujuk pada negara yang tidak menggunakan syariat Islam sebagai hukum utama. Kedua, ada faktor dendam karena polisi yang bertugas menangkap para teroris.

Dua alasan itu menjadi rasionalisasi  atas serangan ke Markas Besar (Mabes) Polri pada 31 Maret kemarin. Ini juga ditegaskan oleh Deputi VII Badan Intelijen Nasional (BIN) Wawan Purwanto. "Mabes Polri merupakan lini terdepan dalam penindakan, khususnya penindakan hukum dan memang Mabes atau Polri kerap jadi target serangan karena Polri lah yang ditugasi untuk membendung langkah-langkah mereka," begitu tuturnya.  

Di luar persoalan ini, ada dua hal menarik lain yang sebenarnya dapat dilihat dari serangan ke Mabes Polri. Pertama, terkait momentum. Serangan ini berdekatan dengan ledakan bom di Makassar pada 28 Maret. Pun begitu dengan penangkapan setidaknya 13 terduga teroris dan berhasil diamankannya 5 bom aktif di berbagai lokasi.

Baca Juga: Terorisme Makassar, Radikalisme Bukan Akar Masalahnya?

Kedua, berbeda dengan aksi teror di Makassar yang memang meniatkan dampak destruktif dengan melakukan bom bunuh diri, mengapa serangan di Mabes hanya menggunakan pistol airgun? Pasalnya, pistol tersebut tidak akan mengakibatkan kematian. Lantas, apa tujuan serangannya? Apakah hanya sekadar misi bunuh diri semata?

Dalam tulisan ini kita akan mencoba membedah dan menjawab dua hal menarik tersebut.

Contagion Theory of Terrorism

Terkait persoalan momentum, terdapat satu teori yang tampaknya dapat menjadi jawaban, yakni contagion theory of terrorism – juga disebut dengan contagion hypothesis (hipotesis penularan). Brigitte L. Nacos dalam tulisannya Revisiting the Contagion Hypothesis: Terrorism, News Coverage, and Copycat Attacks menyebutkan istilah contagion atau penularan mengacu pada bentuk peniruan kejahatan (copycat crime).

Individu dan kelompok akan meniru bentuk kekerasan yang menarik bagi mereka berdasarkan contoh atau peristiwa yang disaksikan di media massa. Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, misalnya, teroris Palestina melancarkan sejumlah pembajakan pesawat komersial.

Saat itu, pembajakan yang sengaja dilakukan secara berkepanjangan agar mendapatkan liputan besar-besaran untuk menyuarakan pesan-pesan politik pelaku teror, disebut-sebut telah menginspirasi kelompok lain untuk mengikuti langkah mereka.

Kendati cukup menjelaskan, teori contagion bukannya tanpa kritik. Robert G. Picard dalam tulisannya News Coverage as the Contagion of Terrorism: Dangerous Charges Backed by Dubious Science, misalnya, membantah adanya relasi kausal antara tindakan terorisme dengan pemberitaan media.

Dalam temuan yang didapatkan, serangan teror bukan sesuatu yang dapat dilakukan hanya berdasar pada inspirasi pemberitaan. Ini karena serangan terorisme adalah sebuah proses. Butuh perencanaan, misalnya terkait pengumpulan dana, perakitan bom, ataupun penentuan target.

Dengan demikian, serangan teror yang mirip atau yang terjadi dalam waktu yang berdekatan bisa saja merupakan dua serangan yang memang telah disiapkan sebelumnya, namun memiliki momentum yang berbeda. Eric Neumayera dan Thomas Plümper dalam tulisannya Galton’s Problem and Contagion in International Terrorism along Civilizational Lines menyebut kemungkinkan tersebut sebagai Galton’s problem.

Dalam contagion theory, hipotesisnya adalah serangan teror kedua diinspirasi oleh serangan teror pertama. Namun, bagaimana apabila kedua serangan dipicu oleh hal yang sama? Ini yang disebut dengan Galton’s problem.  

Nah, kembali pada serangan ke Mabes Polri, apakah serangan itu terinspirasi dari ledakan bom Makassar? Atau justru merupakan dua serangan yang memang telah disiapkan?

Baca Juga: Literasi Digital Gagal, Teroris Leluasa?

Untuk menjawabnya, kata kuncinya terdapat pada keterangan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menyebut pelaku merupakan lone wolf atau bergerak secara mandiri. Jika benar merupakan lone wolf, maka besar kemungkinan ini bukan Galton’s problem, melainkan contagion theory.

Meskipun dalam contagion theory yang disebut sebagai copycat adalah melakukan kejahatan atau serangan yang sama, atau setidaknya menggunakan teknik yang sama, hipotesis inspirasi serangan terjadi melalui pemberitaan media sekiranya sudah cukup untuk menjelaskan serangan tersebut.

Simpulan ini juga terlihat dari analisis pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib. “Ini yang wanita aja berani, masa laki-laki cuma rebahan. Ini makanya harus hati-hati, aksi ini menjadi inspirasi bagi aksi-aksi yang lain,"  begitu tuturnya.

Akan tetapi, apabila dibatasi pada ledakan bom di Makassar dan penangkapan sejumlah terduga teroris dan penemuan bom selepas aksi tersebut, analisis mantan Wakil Presiden sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) tampaknya lebih tepat. "Bisa jadi ini mereka merencanakan gerakan serentak nasional,” begitu dugaan JK. Ini adalah Galton’s problem.

Setelah pembahas persoalan pertama, sekarang kita akan berlanjut pada persoalan kedua. Mengapa serangan dilakukan menggunakan pistol airgun?

Kejahatan Itu Banal

Terkait keganjilan penggunaan pistol airgun, podcast Deddy Corbuzier yang berjudul TERORIS GOBLOK INDONESIA‼- Deddy Corbuzier Podcast sekiranya adalah ekspresi dari keanehan yang kita rasakan. Pertanyaan Deddy, berbeda dengan aksi terorisme di Makassar yang memang membawa bom, sehingga pasti memberikan dampak destruktif, dampak destruktif apa yang diharapkan penyerang Mabes Polri dengan membawa pistol airgun?

Keanehan itu melahirkan dua asumsi. Pertama, pelaku tidak mengetahui pistol airgun tidak dapat membunuh orang. Kedua, pelaku mengetahuinya dan serangan itu memang aksi bunuh diri semata.

Menariknya, apa pun asumsi yang benar, poin pertanyaannya adalah, mengapa pelaku yang baru berusia 26 tahun semudah itu memutuskan melakukan serangan ke Mabes Polri yang pasti berbuah kematiannya? Mengapa ia semudah itu ingin mengakhiri hidup dan ingin cepat-cepat ke surga?

Buku Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat yang ditulis oleh Rieke Diah Pitaloka sekiranya dapat menjawab pertanyaan tersebut. Dalam bukunya, Rieke menggunakan teori banality of evil atau banalitas kejahatan dari filsuf Hannah Arendt sebagai pijakan teoretis.

Berbeda dengan prasangka selama ini bahwa kejahatan itu adalah sesuatu yang radikal atau direnungkan secara mendalam, Rieke justru menyebut kejahatan itu dangkal. Itu buah dari kurangnya self-dialog atau refleksi dari pelakunya.

Seperti kutipan pernyataan Rieke di awal tulisan, pelaku kejahatan melakukan kejahatan bukan karena ia adalah monster atau iblis yang memang memiliki sikap kejam dan sadis, melainkan karena ia bertindak hanya berdasarkan perintah dari luar dirinya.

Penjelasan itu menjawab testimoni tetangga pelaku yang berinisial EI. Menurutnya, pelaku adalah kebanggaan orang tuanya karena ibadahnya sangat rajin. Shalatnya rajin dan berbagai puasa sunnah dijalankan.

Seperti dalam penegasan Deddy, serangan tersebut menunjukkan terdapat pihak tertentu yang entah bagaimana caranya mampu mendoktrin atau menghasut pelaku agar melakukan serangan ke Mabes Polri.

Seperti dalam hipotesis banalitas kejahatan, tindakan kejahatan itu adalah tindakan yang dangkal. Tindakannya tidak berangkat dari refleksi mendalam, melainkan dari doktrin eksternal. Artinya, yang ada dalam benak atau pikiran pelaku adalah tindakannya tersebut adalah jihad dan merupakan amalan yang luar biasa.

Pelaku tidak merefleksikan hal kompleks seperti apakah tindakannya memengaruhi citra Islam secara nasional dan global, apakah tindakannya dapat memperkuat stigma cadar adalah simbol terorisme, atau bagaimana tindakannya akan meninggalkan persepsi buruk bagi orang tua dan keluarganya.

Baca Juga: Larang Cadar, Menag Fachrul Hobbesian?

Hal-hal kompleks dan reflektif seperti itu tidak terpikirkan karena pelaku hanyut dalam banalitas. Pikirannya dangkal karena hanya berorientasi pada cara menuju surga dengan cara yang instan.

Well, pada akhirnya tentu perlu digarisbawahi bahwa sekelumit penjelasan ini adalah analisis teoretis semata. Kesimpulan yang berbeda sekiranya akan tercipta apabila menggunakan teori atau sudut yang berbeda pula.

Namun yang jelas, serangan ke Mabes Polri harus menjadi pelajaran agar pihak-pihak terkait harus meningkatkan mitigasi atau upaya pencegahan serangan teror ke depannya. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait