Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Semiotika “Penak Jamanku, To?”

Semiotika “Penak Jamanku, To?”


I76 - Thursday, November 25, 2021 18:01
Jargon “Piye kabare le? Penak jamanku, to?” di belakang sebuah truk (Foto: Tribun)

0 min read

Meski telah jauh kita tinggalkan, Orde Baru seolah masih tetap hidup hingga saat ini. Jargon “Piye kabare le? Penak jamanku, to?” dengan gambar senyum khas Soeharto, menyimpan makna misterius. Slogan ini juga dipakai sebagai bentuk protes atas ketidakpuasan. Lantas, sebenarnya apa makna tersembunyi dari jargon ini?


PinterPolitik.com

Malam semakin larut, obrolan pun semakin menarik. Setidaknya, itu yang saya rasakan saat berdiskusi dengan mertua, rutinitas yang sengaja dibentuk untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru sebagai inspirasi dalam membuat tulisan.

Diskusi yang terbangun selalu terkait dengan wacana politik terkini, dan sering muncul pembahasan tentang kebijakan pemerintah yang berujung pada perbandingan antara pemerintah saat ini dengan pemerintah masa sebelumnya, spesifiknya, pemerintahaan Orde Baru.

Meski beliau termasuk orang yang pernah menentang Orde baru dan ikut membidani munculnya Reformasi, tapi kesan-kesan implisit bahwa Orde Baru masih lebih baik selalu tertangkap pada uraian-uraian cerita yang disampaikan.

Dua puluh tiga tahun sudah Soeharto jatuh, tapi sosok yang oleh sebagian orang dicerca sebagai penyebab keterpurukan negeri dan pelanggaran HAM, seolah berubah, menganggapnya sosok yang  pernah membawa stabilitas dan kepastian yang kini dirindukan.

Baca Juga: FPI, Buah Kesalahan Soeharto?

Hal ini, dapat kita lihat dari slogan “Piye kabare le? Penak jamanku, to?” yang kembali marak hadir pada poster-poster mobil. Tidak cuma disuarakan oleh para loyalis Soeharto, slogan ini dinilai juga populer karena munculnya kekecewaan sebagian rakyat terhadap Reformasi.

Slogan Piye kabare le? Penak jamanku, to? sering terlihat dalam sejumlah poster, grafiti, lukisan di bagian belakang truk, spanduk politisi, maupun unggahan di media sosial. Di sampingnya, terlihat gambar Soeharto yang memperlihatkan senyuman khas. Jika ditelisik, teks Piye kabare le? Penak jamanku, to? merupakan Bahasa Jawa ngoko alus yang berarti “Bagaimana kabarnya nak? Masih enak jamanku kan?”.

Slogan ini terlihat sederhana, seolah hanya sebuah simbol atau teks biasa yang ingin menyampaikan sebuah makna. Tapi kenapa setiap kali membaca jargon dan sekaligus melihat foto dengan senyum khas itu, seolah terpikir, mungkin ada benarnya tapi pada saat yang bersamaan muncul rasa seolah menentang karena mempunyai pengalaman yang buruk tentang hal itu.

Menggunakan semiotika, ada pesan politik yang ditangkap dari slogan dan senyum Soeharto tersebut. Lantas, apakah itu?

Semiotika dan Matinya Penulis

Upaya untuk menjawab pertanyaan di atas dapat menggunakan sebuah teori semiotika pragmatis yang dipopulerkan oleh filsuf Charles Sanders Peirce. Diambil dari namanya, teori semiotika Peirce menaruh titik tekan terhadap persoalan pragmatis atau kegunaan. Selain disebut pragmatis, teori semiotika Pierce disebut juga sebagai teori yang bersifat trikotomis karena melibatkan tiga segi, yakni representamen, objek, dan interpretan.

Sederhananya, representamen adalah fenomena yang pertama kali ditangkap oleh indra, sedangkan proses kognitif yang terbentuk dari penangkapan itu disebut dengan “objek”. Sementara proses hubungan dari representamen ke objek disebut semiomis, yang kemudian berlanjut ke dalam proses penafsiran atau “interpretan”.

Jika dibandingkan, teori semiotika Peirce berbeda dengan teori semiotika lainnya, seperti teori semiotika Ferdinand de Saussure yang dalam teori semiotikanya hanya menginterpretasi dalam satu proses. Teori semiotika Pierce memiliki keunggulan karena interpretasinya melibatkan dua proses. Dan yang lebih menarik adalah, interpretan yang tercipta dapat menjadi representamen baru, yang kemudian melahirkan interpretan lainnya.

Untuk  membantu memahami cara kerjanya, kita dapat mengilustrasikan gerak teori semiotika Peirce, layaknya konsep dialektika filsuf Jerman Friedrich Hegel. Berawal dari munculnya konsep, semacam argumentasi pendahuluan yang disebut tesis, kemudian argumentasi itu diperlawankan dengan konsep yang lain, disebut antitesis, lalu saling berbenturan kemudian menciptakan sintesis. Seperti dialektika Hegel, interpretan semacam sintesis, yang juga akan dapat menjadi tesis baru, atau representamen baru.

Layaknya sebuah konsep tafsir, semiotika Pierce juga mengandaikan kematian pengarang. Teks yang ditangkap oleh pembaca, merupakan teks mandiri tanpa teratribusi oleh yang membuat teks. Ini sejalan dengan konsep “sang pengarang sudah mati”.

Baca Juga: Soekarno–Soeharto Bersatu di 2024?

Filsuf Prancis Jacques Derrida pernah mengutip pernyataan Roland Barthes yang terkenal, bahwa “sang pengarang sudah mati”. Artinya, begitu teks selesai dituliskan dan dipublikasikan, ia telah kehilangan otoritas yang dapat menentukan mana tafsir yang tunggal atas teks tersebut.

Derrida sendiri mengatakan bahwa “saya mulai muncul dan lenyap” ketika berbicara mengenai teks yang ditulisnya. Tetapi Derrida tidaklah berhenti pada kematian sang pengarang setelah teks selesai ditulis. Ia bahkan sampai kepada pemahaman lebih ekstrem, bagaimana jika “sang pengarang  harus memiliki kesadaran untuk bunuh diri dalam prosesnya menulis”. Teks bagi Derrida adalah milik bahasa, bukan milik pengarang yang bisa sewenang-wenang padanya atau mengurungnya.

Dengan menggunakan teori semiotika Pierce, lantas seperti apa cara menafsirkan teks “Piye kabare le? Penak jamanku, to?” pada konteks saat ini?

Sebuah Bentuk Protes

Slogan Piye kabare le? Penak jamanku, to? dapat kita artikan sebagai ungkapan bahwa Orde Baru lebih baik dari reformasi. Jika dioperasionalisasikan pada semiotika trikotomis Peirce, kita akan membuat simulasi interpretasi bahwa Orde Baru lebih baik dari Reformasi, dalam arti yang lain, kenangan Orde Baru merupakan sebuah kondisi yang tak dapat dimiliki pada saat ini.

Kenangan Orde Baru adalah representamen. Langkah itu akan membentuk “objek” bahwa kenangan Orde Baru lebih baik dari Reformasi. Kemudian melahirkan interpretan bahwa ‘politik cendana’ masih lebih baik meski otoriter dan seolah menjadi sebuah harapan bagi masyarakat saat ini.

Akan tetapi, karena interpretan dapat menjadi representamen untuk diinterpretasi lagi, politik cendana masih lebih baik meski otoriter dapat membentuk “objek”, khususnya bagi kalangan yang menolak politik cendana, bahwa memunculkan narasi politik cendana adalah sebuah kemunduran demokrasi. Alhasil, interpretan yang menyebar di publik adalah meski sering dikenang, narasi politik cendana rasanya sulit kembali dalam era yang telah demokratis seperti ini.

Slogan Piye kabare le? Penak jamanku, to? dapat juga kita tafsirkan sebagai sebuah protes sosial, ketika kondisi ekonomi semakin susah saat ini, masyarakat memanifestasikan protes melalui slogan.

Angela Pontororing dalam tulisannya Sebuah Upaya Pembacaan Poskolonial Dengan Metode Dialog Imajinatif Antara Foto Soeharto "Piye Kabare, Penak Jamanku to?, menelusuri jejak digital fenomena ini. Ia menemukan slogan itu mulai muncul pada awal tahun 2013 dan semakin populer saat harga BBM Premium melonjak dari Rp4.500 menjadi Rp6.500 pada 22 Juni 2013.

Kenaikan BBM mengakibatkan harga sejumlah kebutuhan masyarakat naik dan mengguncang perekonomian. Di sisi lain, masyarakat juga mengalami krisis kepemimpinan. Sebagian dari mereka menganggap kondisi negara pasca Reformasi lebih parah ketimbang di zaman Soeharto. Masyarakat Indonesia mulai menganggap era Reformasi gagal menjawab tantangannya, yakni untuk memperbaiki keadaan setelah Indonesia dilanda krisis pada tahun 1998.

Baca Juga: Jenderal Hoegeng: Polisi Jujur Yang Disingkirkan Soeharto

Melalui pendekatan poskolonialisme, Angela Pontororingmenemukan pola bahwa teks tersebut muncul dari masyarakat yang pernah mengalami ketertindasan dan membicarakan masa sebelumnya yang sarat akan ketertindasan namun dirindukan. Angela lantas menemukan upaya tawar-menawar antara era Reformasi yang idealnya tidak militeristik dan bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) dengan Orde Baru yang sewenang-wenang dalam foto Soeharto itu.

Zamrud Kondang Darajati, Akademisi FISIP Universitas Airlangga mengungkap bahwa teks tersebut membandingkan keadaan hari ini dengan masa kekuasaan Soeharto yang dihiasi senyum khasnya. Dalam tulisan yang berjudul Dialogis Historikalitas dalam Memahami Teks Soeharto di Era Demokrasi, Zamrud mengungkap bahwa teks tersebut merupakan representasi suara masyarakat yang tengah mengalami masalah seperti barang-barang yang melambung tinggi, kekerasan yang semakin jamak, serta berjamurnya masalah sosial lainnya.

Sepertinya, jargon Piye kabare le? Penak jamanku, to? tidak berhenti hanya pada tafsir semiotik saja, lebih jauh, jargon tersebut hadir sebagai bentuk protes atas kondisi saat ini. (I76)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait