Dengarkan artikel ini:
Aksi nekat warga Langkat hentikan mobil Presiden Prabowo dan mengadu soal kinerja bawahan. Mengapa Prabowo justru “dibela”, sementara birokrasi disalahkan?
“The peasants externalized their sense of justice and fastened it to the person of the tsar, who ‘orders’ them to do what they want.” — Daniel Field, Rebels in the Name of the Tsar (1976)
Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Sumatera Utara menyisakan sebuah drama yang lebih menegangkan daripada sekadar seremonial kenegaraan biasa. Di Kabupaten Langkat, iring-iringan kendaraan orang nomor satu di republik ini tiba-tiba terhenti oleh aksi nekat seorang pria paruh baya.
Tanpa mempedulikan protokol keamanan yang ketat, pria tersebut menerobos barikade Paspampres demi bisa bertatap muka langsung dengan Sang Presiden. Aksi ini bukan upaya penyerangan, melainkan sebuah keputusasaan seorang rakyat kecil yang merasa suaranya tak pernah didengar.
Ketika kaca mobil terbuka dan Prabowo menyambut tangannya, pria itu tidak meminta uang atau sembako seperti yang lazim terjadi dalam pembagian bantuan sosial. Ia justru meneriakkan sebuah kalimat yang mengandung muatan politik sangat dalam: “Saya pemilih Bapak!”
Pengakuan ini menegaskan posisinya bukan sebagai oposisi, melainkan sebagai loyalis yang menaruh harapan besar pada pundak Prabowo. Namun, kalimat lanjutannya adalah antitesis yang menohok jantung birokrasi pemerintahan kita hari ini.
“Bawahan Bapak tidak bagus!” teriaknya dengan nada emosional di tengah kerumunan yang histeris. Ia melanjutkan curhatannya dengan menegaskan bahwa sosok Prabowo sangat bagus, namun hancur oleh kinerja anak buahnya yang tidak becus.
Momen di Langkat ini menjadi viral bukan hanya karena keberanian si bapak, tetapi karena pesan yang ia bawa mewakili kegelisahan kolektif. Ada pemisahan yang sangat tegas dalam benak pria tersebut antara figur Prabowo sebagai individu dengan mesin birokrasi yang bekerja di bawahnya.
Bagi si bapak, Prabowo adalah simbol kebaikan dan harapan yang masih suci, sementara “bawahan” adalah sumber dari segala masalah yang ia hadapi. Ia rela mempertaruhkan nyawa menghadang mobil presiden hanya untuk memastikan Prabowo tahu bahwa “kaki tangannya” sedang sakit.
Fenomena ini menarik untuk dibedah karena menunjukkan bahwa legitimasi Prabowo di mata akar rumput masih sangat tebal dan tak tergoyahkan. Kesalahan manajemen di lapangan, ketidakadilan hukum, atau lambatnya pelayanan publik tidak serta merta digetahkan kepada sang Presiden.
Justru, rakyat merasa perlu melindungi Presiden mereka dari “kebohongan” atau ketidakmampuan para pejabat di sekelilingnya. Ini adalah paradoks demokrasi kita: semakin buruk kinerja birokrasi, semakin tinggi harapan digantungkan pada satu sosok sentral.
Peristiwa Langkat ini memaksa kita merenung, apakah ini sekadar insiden spontan dari warga yang stres? Atau jangan-jangan, ini adalah manifestasi dari sebuah pola psikologi politik purba yang kembali berulang di era modern?
Good Tsar vs Bad Boyars
Untuk memahami apa yang berkecamuk di benak pria di Langkat tadi, kita tidak bisa hanya menggunakan kacamata politik praktis Indonesia. Kita perlu membedah literatur sejarah yang mencatat fenomena serupa di Kekaisaran Rusia, yang dikenal dengan konsep “Good Tsar, Bad Boyars”.
Konsep ini menjelaskan mentalitas kaum tani Rusia yang meyakini bahwa Tsar (Raja) adalah wakil Tuhan yang senantiasa menginginkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Jika ada kelaparan, ketidakadilan, atau pajak tinggi, rakyat menolak percaya bahwa itu adalah perintah Tsar.
Mereka meyakini bahwa segala penderitaan itu disebabkan oleh ulah para Boyars—kaum bangsawan dan pejabat istana—yang korup dan jahat. Rakyat percaya bahwa Boyars inilah yang memanipulasi kebijakan dan menutupi kebenaran dari mata Tsar yang agung.
Sejarawan terkemuka, Daniel Field, dalam bukunya yang sangat mendalam berjudul Rebels in the Name of the Tsar, mengupas tuntas fenomena ini. Field menjelaskan konsep Naive Monarchism, di mana rakyat menciptakan mitos kesucian raja sebagai mekanisme pertahanan mental.
Menurut Field, rakyat membutuhkan harapan untuk tetap hidup, sehingga mereka harus menjaga citra Tsar tetap bersih di dalam pikiran mereka. Jika mereka mengakui Tsar juga jahat, maka runtuhlah dunia mereka karena tidak ada lagi tempat untuk mengadu.
Oleh karena itu, ketika memberontak, rakyat Rusia tidak berteriak “Turunkan Tsar!”, melainkan berteriak “Selamatkan Tsar dari para Boyars!”. Mereka merasa sedang membantu rajanya untuk membersihkan istana dari pengkhianat.
Perspektif ini diperkuat oleh Maureen Perrie dalam tulisannya yang berjudul The Image of Ivan the Terrible in Russian Folklore. Perrie menemukan bahwa bahkan Tsar yang dikenal kejam dalam sejarah seperti Ivan the Terrible, tetap dianggap pahlawan dalam cerita rakyat.
Dalam narasi folklore tersebut, Ivan digambarkan sebagai pemimpin tegas yang sedang berperang melawan konspirasi para Boyars yang ingin menyengsarakan rakyat. Kekejaman Tsar dimaklumi sebagai tindakan yang diperlukan untuk menertibkan anak buah yang membangkang.
Apa yang terjadi di Langkat adalah refleksi sempurna dari teori yang ditulis oleh Daniel Field dan Maureen Perrie tersebut. Pria paruh baya itu adalah representasi “kaum tani” modern yang percaya bahwa Prabowo (Sang Tsar) berniat baik, tapi dikhianati oleh pejabat (Boyars).
Ia datang bukan untuk memprotes Prabowo, melainkan untuk memberikan “laporan intelijen” agar Prabowo bisa menindak para Boyars nakal itu. Kepercayaan ini memberikan Prabowo “baju besi” politik yang sangat kuat, karena ia kebal dari kritik langsung atas kegagalan operasional.
Namun, sejarah Rusia juga mengajarkan bahwa mitos ini tidak bertahan selamanya jika sang Tsar gagal merespons keluhan rakyat. Ketika Tsar terbukti tidak mampu mengendalikan para Boyars, cinta rakyat bisa berubah menjadi kemarahan yang membinasakan.
Lantas, apakah Prabowo menyadari bahwa ia sedang berada dalam posisi “Good Tsar” ini? Dan bagaimana ia harus merespons ekspektasi setinggi langit yang dibebankan ke pundaknya sendirian?
Strategi Turun Gunung Sang Jenderal
Memahami konteks psikologis tersebut, kita akhirnya mengerti mengapa Prabowo Subianto memilih strategi yang sangat melelahkan: turun langsung ke lapangan. Aksi Prabowo menyisir daerah bencana hingga membuka kaca mobil di tengah kerumunan massa bukan sekadar pencitraan populis.
Prabowo tampaknya menyadari bahaya dari apa yang disebut dalam ilmu manajemen sebagai Principal-Agent Problem. Masalah ini muncul ketika agen (bawahan) memiliki agenda sendiri yang berbeda dengan visi prinsipal (pemimpin), seperti memperkaya diri atau cari aman.
Presiden tahu bahwa laporan di atas meja kerjanya di Istana Negara seringkali sudah disaring dan dipoles sedemikian rupa agar terlihat “Asal Bapak Senang” (ABS). Jika ia hanya mengandalkan laporan menteri, ia akan buta terhadap realitas yang sebenarnya terjadi di bawah.
Teriakan warga di Langkat yang mengatakan “bawahan Bapak tidak bagus” adalah validasi nyata atas ketidakpercayaan Prabowo terhadap birokrasinya sendiri. Prabowo butuh mendengar langsung “suara Tuhan” dari rakyat untuk mengonfirmasi bahwa mesin pemerintahannya sedang macet.
Dengan turun langsung, Prabowo sedang melakukan bypass atau memotong jalur komando yang seringkali tersumbat oleh kepentingan elit birokrat. Ia ingin menunjukkan kepada para menteri dan kepala daerah bahwa ia tidak bisa dibohongi dengan presentasi PowerPoint yang indah.
Sikap warga yang mengadu langsung ke Presiden juga menjadi legitimasi moral bagi Prabowo untuk bertindak keras. Kini, ia punya alasan kuat untuk memarahi, memecat, atau mereshuffle pejabat yang kinerjanya buruk, karena ia punya bukti langsung dari rakyat (“user” utama negara).
Momen di Langkat harus dilihat sebagai “alarm” bagi Kabinet Merah Putih, bahwa bulan madu kekuasaan tidak akan selamanya manis jika pelayanan publik tetap buruk. Rakyat mungkin masih memaafkan Prabowo hari ini, tapi mereka tidak akan selamanya sabar melihat “Bad Boyars” terus berulah.
Prabowo harus memanfaatkan momentum kepercayaan “Good Tsar” ini untuk segera melakukan bersih-bersih di internal pemerintahannya. Tanpa tindakan konkret menertibkan bawahan, mitos pemimpin baik itu perlahan akan tergerus oleh realita perut lapar dan jalan rusak.
Insiden penghadangan mobil di Langkat adalah fenomena mikrokosmos yang menggambarkan kuatnya mitos “Good Tsar, Bad Boyars” dalam psikologi politik masyarakat Indonesia terhadap Prabowo. Rakyat secara sadar memisahkan integritas Prabowo dari inkompetensi bawahannya, sebuah modal politik mahal yang memberikan legitimasi kuat bagi Presiden.
Namun, kepercayaan ini adalah bom waktu; jika Prabowo tidak segera merespons aduan rakyat dengan menindak tegas aparatur yang korup dan lamban, maka narasi “pemimpin baik” tak akan cukup menyelamatkan pemerintahannya dari krisis kepercayaan publik di masa depan. (A43)
