Dengarkan artikel ini:
Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta, Kendari, dan berbagai kota lain. Di tengah aksi itu, mesin AI ikut “berdemo” — memproduksi narasi, video palsu, hingga kutipan fiktif yang beredar di media sosial tanpa konteks, tanpa nurani. Inilah wajah nyata Stochastic Parrot: mesin yang mengoceh fasih, tapi tak pernah mengerti apa yang dikatakannya.
Di abad ke-17, filsuf René Descartes pernah mengajukan sebuah eksperimen pikiran yang mengusik: bagaimana kita bisa membedakan manusia sejati dari sebuah mesin yang dirancang sempurna untuk meniru segala ucapan dan gerak-geriknya?
Descartes menyimpulkan bahwa mesin, seberapapun canggihnya, tidak akan pernah mampu menghasilkan bahasa yang benar-benar kontekstual — karena bahasa manusia bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ekspresi dari kesadaran, dari cogito yang berpikir dan merasakan. Tiga abad kemudian, keyakinan Descartes itu sedang diuji ulang — dan hasilnya mengkhawatirkan.
Pada 10 Juni 2026 malam, Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter — lonjakan lebih dari 32 persen dalam semalam. Antrean panjang terbentuk di SPBU.
Mahasiswa dari HMI, GMNI, dan BEM Universitas Indonesia turun ke jalan, dari Cikini hingga Bundaran HI, dari Jakarta hingga Kendari. Tapi di saat yang sama, di ruang paralel bernama media sosial, sesuatu yang berbeda juga sedang bergerak: mesin-mesin bahasa memproduksi narasi, memalsukan pernyataan, merekayasa suara dan wajah — semuanya dalam hitungan detik, tanpa pernah mengerti apa yang sedang terjadi di jalan-jalan Indonesia.
Inilah babak baru dari sebuah ancaman yang sudah lama diendus para filsuf bahasa: fenomena yang oleh linguis Emily Bender dan timnya dari Universitas Washington disebut sebagai Stochastic Parrot — burung beo stokastik.
Mesin yang Fasih Tanpa Makna
Dalam makalah monumental “On the Dangers of Stochastic Parrots: Can Language Models Be Too Big?” yang diterbitkan tahun 2021, Bender bersama Timnit Gebru, Angelina McMillan-Major, dan Shmargaret Shmitchell memperkenalkan sebuah konsep yang kini terasa profetik. Large Language Model (LLM), tulis mereka, bukanlah mesin yang memahami bahasa. Ia adalah mesin yang memetakan probabilitas statistik — merangkai kata demi kata berdasarkan pola yang paling sering muncul dalam miliaran data teks, tanpa pernah benar-benar “tahu” apa yang sedang ia ucapkan.
Analogi “burung beo” dipilih bukan secara kebetulan. Seekor burung beo bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang terdengar sangat manusiawi, bahkan menyentuh, tanpa sedikit pun memiliki pemahaman atas maknanya. Ia bereaksi terhadap pola bunyi, bukan terhadap realitas yang dimaksud oleh bunyi itu. LLM bekerja dengan cara yang secara struktural serupa: sangat fasih, sangat meyakinkan, tapi kosong dari intentionality — dari “niat” dalam pengertian fenomenologis yang dirumuskan Edmund Husserl.
Dan ketika mesin yang kosong makna ini dilepas ke dalam ruang politik yang penuh tegangan — seperti gelombang demo Pertamax Juni 2026 — ia tidak menjadi netral. Ia menjadi berbahaya. Hoaks-hoaks bermunculan mencatut nama Presiden Prabowo Subianto: dari video palsu yang memanipulasi suaranya, hingga narasi fiktif tentang pernyataan pejabat yang tidak pernah diucapkan. Yang paling ironis: Prabowo sendiri, pada April 2026, telah memperingatkan bahwa teknologi AI memungkinkan satu individu mengelola ribuan akun palsu untuk mengarahkan opini publik. Kini, wajah dan suaranya sendiri menjadi bahan baku paling sering dipalsukan oleh mesin yang sama.
Polusi Epistemis dan Erosi Kepercayaan
Untuk memahami mengapa fenomena ini lebih dari sekadar masalah teknis, kita perlu melampaui diskursus teknologi dan masuk ke ranah epistemologi — ilmu yang mempelajari bagaimana manusia membangun pengetahuan dan membedakan kebenaran dari kepalsuan.
Filsuf Jürgen Habermas, dalam teori communicative rationality-nya, berargumen bahwa demokrasi yang sehat mensyaratkan ruang publik di mana warga bisa bertukar argumen yang dapat diverifikasi kebenarannya — sebuah kondisi yang ia sebut herrschaftsfreie Kommunikation, komunikasi bebas dominasi. Habermas percaya bahwa kebenaran demokratis lahir dari proses dialog yang setara dan terbuka, bukan dari siapa yang paling keras berteriak.
Stochastic Parrot secara sistematis merusak prasyarat ini. Ketika rakyat berdemo karena Pertamax naik — sebuah keresahan yang nyata, yang berakar pada tekanan ekonomi kelas menengah yang sudah lama tertekan — narasi yang beredar di media sosial tidak lagi bisa diidentifikasi asal-usulnya. Apakah ini suara mahasiswa? Suara buzzer? Suara mesin yang diprogramkan untuk memancing kemarahan? Batas antara ekspresi otentik dan kalkulasi statistik menjadi kabur. Dan ketika kabur, yang pertama hancur adalah kepercayaan.
Lebih jauh lagi, Michel Foucault dalam konsep régimes de vérité-nya — rezim kebenaran — menunjukkan bahwa di setiap era, ada kekuatan yang menentukan mana yang dianggap “benar” dan mana yang dianggap “sesat”. Di era Stochastic Parrot, rezim kebenaran itu semakin didominasi oleh siapa yang paling mampu memanfaatkan mesin bahasa: mereka yang memiliki sumber daya komputasi, anggaran konten, dan strategi algoritmik. Rakyat yang turun ke jalan karena harga BBM naik mungkin memiliki kebenaran moral di pihak mereka — tapi dalam perang narasi berbasis AI, kebenaran moral tidak otomatis memenangkan pertarungan epistemis.
Di ruang publik yang diracuni mesin beo, suara rakyat dan suara algoritma bercampur tak bisa dibedakan — dan itulah yang paling ditakutkan oleh demokrasi.
Integritas Kekuasaan di Pusaran Beo Digital
Ada dimensi ketiga yang kerap luput dari perhatian: dampak Stochastic Parrot bukan hanya pada rakyat yang menjadi korban disinformasi, tetapi juga pada integritas kekuasaan itu sendiri.
Hannah Arendt, dalam The Origins of Totalitarianism, mencatat bahwa kekuasaan yang tidak mampu mempertanggungjawabkan narasinya kepada publik akan kehilangan legitimasinya — bukan melalui revolusi, melainkan melalui proses pelemahan kepercayaan yang perlahan dan diam-diam. Ketika suara Presiden Prabowo bisa dipalsukan dengan probabilitas 99 persen dan beredar sebagai “kebenaran” di TikTok dan Facebook, yang rusak bukan hanya reputasi seseorang. Yang rusak adalah institusi kepresidenan itu sendiri sebagai sumber otoritas yang dapat dipercaya.
Dan di sinilah paradoks terbesar muncul: pemerintah yang menggunakan mesin bahasa untuk mengelola narasi kekuasaan — yang merupakan praktik yang semakin umum di berbagai negara, termasuk Indonesia — pada saat yang sama sedang membangun ekosistem di mana legitimasinya sendiri menjadi rentan dipalsukan oleh mesin serupa yang dipegang pihak lain. Ini bukan sekadar permainan komunikasi politik; ini adalah pertaruhan epistemologis yang jauh lebih fundamental.
Burung beo Descartes akhirnya menjadi kenyataan — bukan sebagai mesin tunggal yang dikontrol satu penguasa, melainkan sebagai ekosistem beo-beo yang dipegang oleh semua pihak sekaligus. Dan ketika semua pihak memiliki burung beonya sendiri, tidak ada lagi satu pun suara yang bisa dipercaya sepenuhnya. Yang tertinggal hanyalah kebisingan yang terorganisir — dan kebisingan itu, seperti yang sedang kita saksikan di dunia maya Indonesia pada Juni 2026, memiliki konsekuensi yang sangat nyata bagi manusia yang merasakannya.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa menghentikan burung beo stokastik. Pertanyaannya adalah: apakah kita masih punya cukup kesadaran kolektif untuk mengenali bahwa kita sedang disuapi ocehan mesin — dan memilih untuk tetap berpikir sendiri? (S13)
