Dengarkan artikel ini:
Gunung Lawu, menjulang gagah di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, bukan sekadar gunung. Ia adalah jantung rahasia Jawa, tempat para leluhur dipercaya masih bersemayam, dan panggung abadi bagi narasi kepemimpinan yang tak lekang oleh waktu. Dalam senyapnya kabut Lawu, terpatri kisah para pemimpin yang melampaui zaman—dari Prabu Brawijaya V, Soeharto, Jokowi, hingga Ganjar Pranowo. Masing-masing membawa aura magis yang terasa berulang dalam pusaran sejarah. Apakah ini hanya kebetulan geografis? Atau Lawu memang menyimpan denyut mistis kepemimpinan Indonesia?
Dalam sejarah Jawa, nama Prabu Brawijaya V mewakili akhir dari satu bab besar: runtuhnya Kerajaan Majapahit. Ketika kerajaan diserang dari segala penjuru, sang raja terakhir itu dikisahkan mengasingkan diri, melakukan moksa—lenyap secara spiritual—di Gunung Lawu. Lawu menjadi pusara imajiner kejayaan Majapahit, dan sejak itu, gunung ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para leluhur Jawa.
Ratusan tahun setelahnya, seorang anak desa dari Kemusuk, Soeharto, mulai rutin melakukan tapa di Lawu. Ia bukan siapa-siapa, hingga menjadi penguasa Orde Baru selama 32 tahun. Banyak yang percaya, Lawu adalah tempatnya bernegosiasi dengan kekuatan supranatural yang kelak memayungi kekuasaannya, meskipun tidak bisa dilepaskan dari sejarah kedekatan sang istri, Bu Tien Soeharto, dengan wilayah tersebut. Saat wafat, Soeharto dan Bu Tien pun dimakamkan tak jauh dari lereng Lawu—menyatu kembali dengan energi yang pernah mereka datangi berkali-kali.
Dari lereng Lawu juga lahir Ganjar Pranowo, mantan Gubernur Jawa Tengah. Ia berasal dari Tawangmangu, kawasan sejuk yang bersandar langsung pada kaki Gunung Lawu. Selama dua periode memimpin Jawa Tengah, Ganjar dikenal dekat dengan rakyat dan kerap bersinggungan dengan aura populisme Jokowi.
Lalu tentu saja, Jokowi. Meski bukan kelahiran Karanganyar, kota yang memayungi Lawu, Jokowi membangun rumah pensiunnya di Colomadu—wilayah administratif Karanganyar yang sangat dekat dengan Solo, kampung halamannya. Solo memang cukup berjarak dengan Lawu, namun masih jadi bagian dari area mistisisme kepemimpinan Jawa karena Karanganyar adalah bagian dari Solo Raya.
Lain lagi ceritanya dengan Presiden Prabowo Subianto. Dalam satu peristiwa unik di tahun 2023, Prabowo sempat bergurau bahwa dirinya akan mencari calon wakil presiden dari goa di Gunung Lawu. Kalimat ini, meski terdengar lelucon, justru menegaskan betapa Lawu menempati posisi istimewa dalam imajinasi politik nasional. Dan cawapres yang dipilih adalah… Gibran Rakabuming Raka, putra dari Jokowi.
Kini, serangan datang dari segala arah kepada Jokowi pasca tak lagi menjabat. Isu ijazah palsu, gugatan pemakzulan Gibran, hingga upaya menyingkirkan loyalis Jokowi dari kabinet Prabowo, semuanya membentuk tekanan multidimensi. Dalam kondisi seperti ini, narasi Brawijaya V kembali muncul. Jokowi tampak seperti sang raja terakhir: terpojok dari berbagai sisi, tapi tetap teguh menatap ke depan.
Apakah Jokowi akan “moksa” secara politik seperti Brawijaya V? Atau justru tetap memelihara pengaruhnya seperti Soeharto pasca-Orde Baru? Di balik semua itu, Lawu terus menjadi latar senyap yang menyaksikan satu per satu pemimpin datang dan pergi.
Gunung, Mistisisme, dan Kepemimpinan
Mengapa Gunung Lawu begitu kuat dalam imajinasi kepemimpinan Jawa dan Indonesia? Secara sosiologis, ini bukan fenomena baru. Dalam berbagai peradaban, pegunungan selalu dianggap sebagai titik pertemuan antara dunia manusia dan alam gaib. Dalam konteks ini, Lawu bukan hanya geografi, melainkan simbol spiritualitas kekuasaan.
Salah satu pendekatan untuk memahami hal ini bisa ditarik dari teori kharisma tradisional ala Max Weber. Menurut Weber, kharisma dalam konteks budaya tradisional sering kali bersumber dari mitos, kesaktian, dan kedekatan pemimpin dengan alam dan leluhur. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kebijakannya, tapi dari aura mistik yang mengitarinya. Soeharto, dengan semedinya di Lawu, menciptakan aura itu.
Di sisi lain, Claude Lévi-Strauss, antropolog strukturalis, menjelaskan bagaimana mitos bekerja sebagai sistem pemaknaan sosial. Dalam masyarakat tradisional, mitos tentang Brawijaya V atau kesaktian gunung tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tapi menjadi struktur berpikir masyarakat dalam menilai kekuasaan. Lawu menjadi “arsip hidup” bagi pemaknaan kekuasaan: tempat para pemimpin mencari restu tak kasatmata.
Sementara itu, dalam pendekatan geopolitik mistis, seperti yang banyak dibahas dalam studi-studi Jawa, gunung dipercaya sebagai axis mundi, pusat spiritual yang menghubungkan langit dan bumi. Dalam kosmologi Jawa, gunung adalah tempat para dewa dan leluhur. Seorang pemimpin yang “berani” mendekati gunung seperti Lawu, secara simbolik menunjukkan kedekatannya pada kekuatan ilahi dan legitimasi kosmis. Maka tak heran jika para elite politik merapat ke Lawu—entah dalam bentuk ziarah, tapa brata, dan lain-lain.
Ketiga teori ini menyatu membentuk konstruksi makna yang kompleks: bahwa pemimpin tidak hanya menjalankan kekuasaan, tapi juga memerankan mitos. Dalam hal ini, Gunung Lawu berperan sebagai panggung spiritual tempat mitos-mitos itu terus hidup.
Antara Realitas Politik dan Imajinasi Kolektif
Fenomena “kembali ke Lawu” bukan hanya kisah spiritual atau mitologis. Ia juga memiliki dampak politis. Dalam masyarakat yang masih sangat terikat pada simbolisme budaya, seorang pemimpin yang diasosiasikan dengan Lawu akan mendapatkan legitimasi yang lebih dalam. Lawu bukan hanya mistik, tapi juga modal politik.
Jokowi tampaknya belum benar-benar “moksa” dari panggung politik nasional. Bahkan ketika ia tak lagi menjabat presiden, kehadirannya tetap kuat—baik melalui Gibran, jaringan loyalis, maupun simpati rakyat akar rumput. Dalam logika mitos, ini seperti raja yang telah turun tahta, tapi masih menjadi bayang-bayang kuat dalam sistem kekuasaan.
Namun, ada juga bahaya dari terlalu menggantungkan imajinasi kekuasaan pada mitos dan spiritualisme. Politik bisa kehilangan akarnya dalam rasionalitas dan akuntabilitas.
Meski begitu, kenyataannya tidak bisa dibantah: Gunung Lawu terus menjadi jantung dari banyak narasi politik di Jawa. Ia tidak hanya hadir dalam dongeng dan cerita rakyat, tapi juga dalam kebijakan, arah dukungan politik, dan lain-lain.
Mungkin inilah keunikan politik di Indonesia, terutama Jawa: percampuran antara modernitas dan kosmologi tradisional, antara kalkulasi elektoral dan perhitungan spiritual. Jokowi, Soeharto, bahkan Ganjar dan Prabowo, semua tampaknya memahami hal ini. Mereka tahu, bahwa di antara strategi politik dan citra publik, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: roh gunung.
Gunung Lawu bukan hanya saksi bisu. Ia adalah aktor yang diam-diam membentuk arus politik, menggerakkan narasi, dan memberi aura pada para pemimpin. Siapa pun yang ingin menguasai Jawa, tampaknya harus terlebih dulu “mendaki” Lawu—secara fisik maupun simbolik.
Dan kini, ketika bayangan Brawijaya V kembali menggema lewat sosok Jokowi yang diserang dari segala arah, mungkin Lawu sedang menunggu: apakah sang pemimpin akan memilih moksa, kembali ke sunyi, atau justru menjadi “raja bayangan” yang tetap menentukan arah negeri dari balik kabut mistik di puncaknya? Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)
