Site icon PinterPolitik.com

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bahlil dan Bambang Pacul (Foto: Chat GPT)

Bahlil dan Bambang Pacul (Foto: Chat GPT)

Dengarkan artikel ini:https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-19-2026-5_49pm.mp3

https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-19-2026-9_49pm.mp3

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.


PinterPolitik.com

Pada 15 Juni 2026, di ruang Komisi XII DPR, Bahlil Lahadalia dikepung. Anggota dewan mengeluhkan izin tambang yang macet, mempertanyakan kuota batu bara yang dipangkas ke 600 juta ton, dan menyindir bahwa parlemen kehilangan wibawa. Menteri Energi itu tidak menunduk. “Saya nggak bisa digertak-gertak,” katanya. Lalu ia melakukan sesuatu yang jarang dilakukan pejabat yang sedang terpojok. Ia mempersilahkan aparat penegak hukum memeriksa seluruh keputusannya. Boleh dicek, katanya, saya tidak pernah main-main soal ini.

Refleks itu bukan sekali jadi. Setahun sebelumnya, dalam polemik ribuan izin usaha pertambangan, ia balik menuding dan menawarkan diri mundur bila terbukti salah. Di forum lain ia memarahi pejabat yang menyodorkan data keliru. Polanya konsisten: ditekan, lalu membuka dada. Sulit membayangkan gerak yang sama dari politisi yang besar di lingkaran kekuasaan, yang kursinya tidak pernah sungguh-sungguh terancam dan hampir selalu lebih aman memilih diam.

Apa yang membuat seseorang kebal terhadap ancaman yang biasanya cukup untuk membungkam?

Menteri Yang Minta Diperiksa?

Di permukaan, ini tampak seperti gertakan balik, teater seorang menteri yang pandai tampil. Tetapi orang yang menantang dirinya diperiksa mengirim sinyal yang berlawanan dengan orang yang menghindar. Ia memberi tahu ruangan itu bahwa ruangan itu bukan tempat terburuk yang pernah ia masuki.

Bambang Wuryanto, politikus PDIP yang lebih dikenal sebagai Bambang Pacul, punya istilah untuk manusia jenis ini. Dalam bukunya, Mentalitet Korea: Jalan Ksatria (2024), ia memungut sebutan lama dalam kultur Jawa untuk orang kelas bawah yang kehendaknya begitu keras untuk melenting keluar dari kemiskinan sampai mampu menerobos batas yang seharusnya mengurungnya. Korea, tulis Pacul, sakit ketika kalah, lalu menyusun strategi untuk bangkit.

Bahlil ilustrasinya yang nyaris sempurna. Anak kedua dari sembilan bersaudara, ayah buruh bangunan berupah harian sekitar Rp7.500, ibu buruh cuci. Ia berjualan kue sejak sekolah dasar, menjadi kondektur lalu sopir angkot, dan pernah mengalami busung lapar semasa kuliah. Sejak 1980-an, psikiater Michael Rutter menamai apa yang terjadi pada anak semacam ini steeling effect, efek baja: paparan pada kesulitan yang masih bisa dilewati, bukan yang menghancurkan, menurunkan reaktivitas seseorang terhadap tekanan di kemudian hari. Apa yang Rutter rumuskan di klinik sudah lebih dulu dipadatkan Friedrich Nietzsche dalam Twilight of the Idols (1888): yang tidak membunuhku membuatku lebih kuat. Bahlil menyebut terminal tempatnya dulu bekerja sebagai sekolah kehidupan, dan di sanalah ambang takutnya dikalibrasi jauh sebelum ia mengenal Senayan.

Bahlil Licin Keatas, Merangkul yang Bawah

Nyali saja tidak cukup untuk bertahan dua dekade. Kekuatan Bahlil yang sebenarnya bersifat relasional, apa yang sosiolog Pierre Bourdieu sebut modal sosial, yakni jaringan hubungan yang bisa dikonversi menjadi kekuasaan nyata. Ia naik lewat organisasi yang hidup dari loyalitas, dari Bendahara Umum PB HMI pada awal 2000-an, ke Ketua Umum HIPMI 2015-2019, dan kini Ketua Dewan Kehormatannya. Seorang anak Fakfak tanpa koneksi memimpin himpunan yang lama dianggap kumpulan anak pengusaha dan pejabat. Ia tidak mewarisi jaringan itu. Ia mengikatnya satu per satu.

Cara ia mengikat punya logika yang jelas. Di hadapan kader HIPMI ia merumuskan dua pasal tak tertulis: loyal dan tahu etika kepada senior yang sungguh membina organisasi, dan jangan sungkan menolak yang ia sebut abuleke, omong kosong dalam bahasa Ambon. Loyalitasnya bersyarat, bukan penjilatan. Itu sebabnya ia bisa tegas ke bawah sekaligus berguna ke atas tanpa pernah terlihat menghamba. Daniel Goleman, dalam Emotional Intelligence (1995), menyebut kemampuan membaca orang kerap lebih menentukan ketimbang gelar. Prabowo, di ulang tahun Golkar Desember 2024, mengakui sempat heran Jokowi memilih lulusan sekolah tinggi ekonomi di Jayapura, bukan alumnus kampus Amerika, sebagai menteri investasi. Ia bertanya Bahlil lulusan mana. Lalu ia mengaku terkesan.

Buktinya terletak pada hal tersulit dalam politik, yaitu bertahan saat rezim berganti. Jokowi mengangkatnya menjadi menteri investasi pada 2021. Prabowo melantiknya sebagai Menteri ESDM pada 2024, dan di tengah peralihan itu ia justru menambah jabatan Ketua Umum Golkar. Ia menjadikan dirinya jembatan yang menjaga dua kekuatan tetap tersambung, dan jembatan selalu berharga bagi siapa pun yang berkuasa.

Pewaris Politik VS Perintis Politik

Bandingkan dengan mereka yang lahir di puncak. Gibran naik ke kursi wakil presiden lewat jalan yang dimuluskan putusan pengadilan, mewarisi mesin politik ayahnya tanpa pernah membangunnya dari bawah, dan ketika dihantam isu ia memilih diam. Puan, cucu proklamator, mewarisi nama besar dan struktur PDIP; di ruang sidang ia lebih sering mematikan mikrofon penyela ketimbang melayani argumennya. Keduanya tidak lemah sejak lahir. Mereka hanya tidak pernah harus mengikat seorang pun dari nol, sebab orang-orang sudah diwariskan bersama nama mereka. Yang diwarisi adalah jaringan. Yang tidak bisa diwarisi adalah nyali untuk kehilangannya dan keras untuk lebih agresif buka opsi politik seperti si perintis.

Ancaman kehilangan kekuasaan hanya menakutkan bagi orang yang belum pernah kehilangan apa pun.

Di sinilah letak yang tidak nyaman. Sosiolog Vilfredo Pareto, pada 1916, menyebut sejarah sebagai sirkulasi elite, pergantian abadi antara mereka yang merangsek naik dan mereka yang menjaga warisan. Yang tidak ia janjikan adalah bahwa para perangsek itu, begitu menang, kerap menyerahkan kandang kepada anak yang tidak pernah berburu. Jokowi, tukang mebel tanpa trah, adalah produk paling murni dari demokrasi yang membuka pintu bagi orang bawah. Anak-anaknya bukan.

Keberanian semacam ini menuntut biaya masuk yang brutal: kemiskinan, kelaparan, tahun-tahun di terminal. Demokrasi yang sehat justru berusaha menghapus biaya itu, dan memang seharusnya begitu. Tidak ada orang tua waras yang ingin anaknya lapar supaya kelak tahan dicecar parlemen.

Namun ketika sebuah negeri mengantar para pewarisnya ke puncak tanpa satu pun ujian yang sungguh-sungguh, ia diam-diam membesarkan kelas pemimpin yang belum teruji pada saat ujian itu tiba. Dan ujian selalu tiba. Ketika hari itu datang, apakah kita masih sanggup mengenali keberanian saat berhadapan dengannya, atau sudah terlalu lama berhenti menempanya sampai lupa rupanya. (A99)

Exit mobile version